Tags

,

Ketika keliling Indonesia, tak puas rasanya bila singgah di suatu tempat tanpa mencicipi makanan daerah tersebut. Setiap daerah di Nusantara memiliki keunikan panganan yang istimewa dan bergizi. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman hasil pangan dan memiliki lahan pertanian tropis yang sangat luas, namun sayang belum menjadi penghasil pangan terbesar di dunia. Maka, cintai pangan nusantara, memajukan pertanian berkelanjutan.

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.” (Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia)

Di era pasar bebas sekarang ini, seringkali kita menemukan hasil pangan dari luar negeri, padahal Indonesia sendiri kaya dengan keragaman hasil pangan. Lalu, bagaimana mencintai pangan Nusantara untuk memajukan pertanian berkelanjutan?

Yuk, Cintai Pangan Nusantara

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari keperluan hasil pangan. Pangan yang sehat dan bergizi menjadi kebutuhan kita sehari-hari.

Dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 disebutkan bahwa pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Di era globalisasi sekarang, panganan luar sangat banyak kita temukan. Saya sendiri seringkali tergoda untuk menikmatinya, apalagi sebagai anak kos, makanan praktis tak jarang jadi sasaran. Namun, semua kembali pada diri kita sendiri dalam memilih panganan sehat dan bergizi, karena masih banyak makanan Indonesia yang bermutu gizi tinggi dapat kita nikmati sehari-hari dengan murah dan sehat.

Orangtua sangat berperan besar dalam memberi asupan makanan yang bergizi dan sehat. Dea Ananda, seorang artis, paparkan demikian pada talkshow yang bertema, Memajukan Pertanian Berkelanjutan, Wujudkan Hak Asasi Pangan, Ahad, 30 Oktober 2016 di Ibis Tamarani, Jakarta.

Sejak kecil, orangtua Dea Ananda sudah menerapkan makan dengan hasil masakan rumah. Tidak heran bila kebiasaan tersebut Dea terapkan pada rumahtangganya sekarang, lebih memilih makanan rumah dengan berbagai menu yang sehat.

Makanan rumah yang hadir di setiap daerah Indonesia berbeda. Pada dasarnya bahan pangan pokok Nusantara beragam, bukan hanya nasi. Sesuai dengan geografis dan tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut, antara lain nasek empong dari Madura yang berbahan pangan jagung, bubur jewawut yang berbahan pangan jewawut dari Papua, Papeda yang berbahan pangan sagu dari Maluku, gembili dan ubi jalar.

Hasil olahan pangan Nusantara sangat kaya cita rasa, maka saya sangat mencintai pangan Nusantara. Dengan penyajian yang menarik, maka jagung, ubi jalar, kacang bisa hadir pada setiap sajian makanan Nusantara.

Memajukan Pertanian Berkelanjutan

Tak ada yang dapat mengikuti hal yang ada kecuali dengan berbagai hal yang memang sudah ada, seperti adanya pangan yang menjadi pendukung proses kehidupan. Pertanian menjadi salah satu proses dalam produksi pangan.

Berbicara pertanian berkelanjutan, maka tidak lepas dari ekologi, ekonomi, sosial, budaya dan kebijakan.  Secara komprehensif, untuk memajukan pertanian berkelanjutan harus melihat dari hulu (on farm) hingga hilir (off farm) serta keterkaitannya dengan sektor lain.

Untuk itu, Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) mengadakan talkshow yang bertema Memajukan Pertanian Berkelanjutan, Wujudkan Hak Asasi Pangan. Selain Dea Ananda, hadir pula Tjuk Eko Hari Basuki (Kepala Pusat Ketersediaan Kerawanan Pangan Kementrian Pertanian), Noor Advianto (Diroktorat Pangan dan Pertanian Bappenas). Dini Widiastuti (Direktur Program Keadilan Ekonomi OXFAM), dan Khudori (Pengamat Pertanian dan Pangan, FAA PPMI).

Talkshow yang dipandu oleh Sabik Karebes, penyair dan pemerhati pangan ini telah membuka mata saya betapa derasnya hasil pangan dari luar negeri, lahan pangan yang terus berkurang dan semakin sedikitnya para pengolah produksi pangan, maka mencintai pangan Nusantara menjadi salah satu cara dalam memajukan pertanian berkelanjutan.

Sangat menarik ketika Tjuk Eko Hari Basuki (Kepala Pusat Ketersediaan Kerawanan Pangan Kementrian Pertanian) mengajak kita untuk maju dengan melihat ke belakang. Para leluhur kita telah menerapkan sistem pengelolaan pangan sesuai dengan siklus alam, sehingga tidak merusak alam dan hasil pangan tetap menyehatkan kita. Seperti di Jawa, ada adat dalam pengelolaan pangan dengan pranoto mongso, aturan waktu yang digunakan dalam pengelolaan pangan sesuai dengan alam.

Hal tersebut menggiring kembali ingatan saya akan kebiasaan bertani di kabuyutan yang masih memegang teguh proses bertani berdasarkan referensi leluhur. Mereka sangat memerhatikan alam. Dalam bertani padi, mereka melakukan panen satu tahun sekali. Dengan masa pengelolaannya delapan bulan, sedangkan sisa bulan lainnya digunakan tanaman lainnya ataupun dengan bertani ikan. Pada pengelolaan pangannya, dari mulai lahan, bibit pangan dan pemanfaatannya masih berdasarkan leluhur. Gempuran bibit dan pupuk, tak menggoyah para warga kabuyutan untuk melestarikan pengolahan pangan dengan tradisonal.

Awalnya terdengar aneh dan unik, tetapi begitulah mereka menjalankan pertaniannya. Ada tatakrama dan cara tertentu dalam proses bertani dan menjaga hasil tani. Hal yang menjadi inspirasi, ketika pangan bukan lagi sekedar bahan konsumsi, tetapi pangan menjadi sejajar sebagai makhluk Tuhan, baik lahan maupun hasil pangan, sehingga dalam proses penggarapannya ada welas asih. Ini yang menyepakati saya dengan Pak Tjuk, kembali maju dengan melihat ke belakang. Karena tradisi pangan lokal, sangat tinggi ilmu teknik pengembangan pangannya.

Yups, meskipun panen hanya setahun sekali, mereka sangat menjaga hasil panen dengan menyimpan dan menjaganya dengan baik-baik. Pengelolaan pangan yang apik sehingga warga kabuyutan sejahtera dengan berbagai hasil pangan.

Hapus Kemiskinan

Gencarnya arus bahan pangan luar, tak jarang yang sudah melupakan adat atau tradisi pengolahan pangan lokal. Hal ini menjadi keterguncangan ekonomi, sosial dan budaya, sehingga mengubah kehidupan masyarakat. Apalagi bila kebijakan yang salah terus menerus, maka dapat menggoyang tatanan ekonomi masyarakat, termasuk kemiskinan.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa sekitar 20 juta rakyat Indonesia mengalami kelaparan setiap harinya. Sementara itu, Global Food Security Index tahun 2016 yang dirilis oleh The Economist, Indonesia menempati posisi ke-71 dari 113 negara dan rangking ke-13 dari 23 negara di kawasan Asia Pasifik.

Hal ini menjadi PR kita bersama untuk mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, saatnya saling membahu antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat dalam mewujudkan Indonesia sejahtera dan berdaulat pangan.

Pemerintah sendiri sudah melakukan banyak upaya dalam hapus kemiskinan dengan memajukan pertanian berkelanjutan. Noor Advianto (Diroktorat Pangan dan Pertanian Bappenas) memaparkan bahwa pemerintah sudah menetapkan kebijakan dengan arah pembangunan pangan 2005-2025 pada Undang-undang 17/2007: RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025, yang tertuang dengan peningkatan ketahanan pangan melalui perluasan pemenuhan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang cukup jumlah, bermutu, aman, merata dan terjangkau. Hal ini untuk perkuatan ketahanan pangan dengan meningkatkan ketersediaan pangan, menjaga stablitas penyediaan bahan pangan, meningkatkan akses rumah tangga untuk memperoleh pangan.

Aspek terpenting dalam menjaga ketersediaan lahan pertanian dengan pengawasan dan penerapan tata ruang, penyeimbangan pemanfaatan lahan antara Jawa dan luar Jawa, pembangunan infrastruktur dan pengaturan insentif/disinsentif pemanfaatan lahan pertanian dan non-pertanian.

Untuk perkuat kedaulatan pangan, telah ditetapkan oleh pemerintah RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2005-2019, yaitu:

  • Perbaikan kualitas konsumsi pangan dan gizi masyarakat.
  • Peningkatan produksi pangan pokok.
  • Stabilisasi harga bahan pangan.
  • Peningkatan kesejahteraan pelaku usaha pangan.
  • Mitigasi gangguan terhadap ketahanan pangan.

Adapun RKP (Rencana Kerja Pemerintah) 2017 sendiri untuk pembangunan kedaulatan pangan antara lain:

  1. Peningkatan mutu pangan, kualitas konsumsi pangan dan gizi masyarakat.
  2. Peningkatan produksi padi dan pangan lain.
  3. Peningkatan distribusi pangan dan akses pangan masyarakat.
  4. Penanganan gangguan terhadap produksi pangan.

Pemerintah sadar, bahwa pangan ini sangat penting. Oleh karena itu, Indonesia telah menyepakati tingkat global dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Depelovment Goals (SDGs) No.2.

Dini Widiastuti (Direktur Program Keadilan Ekonomi OXFAM) menjelaskan bahwa tujuan SDGs No.2 adalah mengakhiri kelaparan. Pertanian berkelanjutan harus bertumpu pada penguatan akses dan kontrol petani skala kecil. Untuk itu, Oxfam memiliki target pada tahun 2020, bahwa 2,5 juta perempuan dan laki-laki Indonesia diberdayakan untuk mengatasi kemiskinan, kerentanan dan ketidaksetaraan.

Khudori (Pengamat Pertanian dan Pangan, FAA PPMI) menekankan bahwa negara harus menjamin ketersediaan dan akses warga terhadap pangan, salah satu kebutuhan dasar yang penting. Apalagi Indonesia memiliki keanekaragaman hayati nomor dua di dunia setelah Brazil. Ada 800 spesies tumbuhan pangan, 1000 spesies tumbuhan pangan medicinal dan ribuan spesies microalga.

Menarik, karena pada dasarnya Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya tumbuhan. Begitu pula dalam hal pangan, masyarakat Indonesia ada yang berbahan pangan pokok padi, ada juga sagu, sesuai dengan tanaman yang tumbuh pada wilayah tersebut.

Memelihara keragaman dan kekayaan pangan menjadi hal penting dalam pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, Khudori manawarkan sistem pertanian ekoregion, sistem pertanian yang bertumpu pada ekonomi, ekologis dan sosial. Adapun basis yang digunakannya fisibel secara ekonomi, teknologi adaptif, secara lingkungan tidak merusak dan berkelanjutan, serta secara sosial-budaya diterima.

Pertanian berkelanjutan secara sistemik menyangkut ekologi, ekonomi dan sosial budaya menjadi mata rantai yang tidak terpisahkan dalam membentuk dan menjaga kesinambungan pertanian nasional. Maka, memiliki pola gaya hidup cintai pangan Nusantara, memajukan pertanian berkelanjutan.

 

Advertisements