Tiada yang tak ingin dikatakan cantik, tentu hampir semua perempuan merasa senang ketika ada yang mengatakan cantik. Suatu kecantikan ragawi, yang mana di era modern sekarang ini bisa diatasi dengan berbagai alat kosmetik. Kecantikan yang menunjukkan keindahan, apalagi bila itu bukan hanya sekedar fisik yang dimiliki oleh perempuan, tetapi cantik dari hati yang tercerminkan dalam perilaku sehari-hari.

Bicara hati, sebagai Muslim  sabda Rasululullah saw telah mengingatkan, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, bila segumpal darah itu baik, baiklah tubuh seluruhnya dan apabila segumpal darah itu buru, buruk pulalah tubuh seluruhnya. Segumpal darah itu ialah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh, segumpal darah tersebut bukan hanya secara fisik yang terdapat pada tubuh kita, tetapi hati menjadi antena yang memancar dengan memiliki frekuensi dan sinyal yang sangat kuat dalam saling bersinergi antara satu makhluk dengan makhluk lainnya.

Sering kita mendengar, bahwa lintasan pikiran yang ditetapkan dalam hati, menjadi getar yang akan didukung oleh segenap alam semesta. Saya sendiri memaknai cantik hati adalah kesucian hati, yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai makhluk, manusia dikaruniai berbagai emosi dan perasaan oleh Allah swt. Hal tersebutlah yang sering tergambar dengan berbagai perilaku. Pada tahapan cantik hati, maka tidak lepas dari proses atau tahapan-tahapan dalam mengelola hati.

Untuk cantik dari hati, tentunya harus menyadari berbagai emosi atau perasaan kita sendiri, karena bagaimana pun emosi atau perasaan adalah bagian dari kita sebagai makhluk hidup. Hanya saja dalam prosesnya, membutuhkan penyadaran pada pikiran, tindakan dan perasaan. Suatu titik tekan, bahwa sudahkah semua diniatkan karena Allah?

Suatu PR bagi saya untuk sadar dan menyadari pikiran, perbuatan dan perasaan. Kesadaran akan hal tersebut, memberi kita kesadaran untuk membuang sifat tercela dan dmenggantinya dengan akhlak yang mulia.

Iya, bila kita memiliki emosi atau rasa bersifat jelek, maka buang sejauh-jauhnya. Suatu titik bahwa kita sudah merasakannya, seperti marah, iri atau sombong. Kesadaran pada sifat itu yang kita rasakan, maka kita lepaskan kembali kepada Sang Pemilik Jiwa, yaitu Allah swt. Memohon pembersihan hati.

Pengosongan emosi atau rasa dari sifat jelek itu sebagai upaya pembersihan hati. Bersih dari sifat-sifat yang mengotori hati, seperti zalim, bakhil, berlaku sia-sia, berlebihan dalam segala hal, bermewah-mewahan, khianat, dendam, dengki, dusta, ria, mencuri dan sombong.

Setelah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, maka saatnya menghiasi hati dengan sifat-sifat baik atau akhlak terpuji, seperti taubat, zuhud, sabar, tawakal, rajin dan ikhlas.

Sesungguhnya, ada banyak perempuan yang tumbuh cantik dari hati yang menjadi contoh teladan kita. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Fatimah Az-Zahra, Putri Nabi Muhammad saw. Ketika Rasulullah dilempari kotoran atau sedang sujud disiram, yang menangis dan membersihkannya adalah Fatimah.

Perempuan berani. Itu sifat Fatimah. Meski masih kecil, Fatimah sempat ingin membalas perlakuan orang-orang kafir kepada Rasulullah saw, namun Rasul melarangnya membalas dendam. Iya, Fatimah patuh dan mengikuti nasihat Rasulullah.

Suatu renungan titik emosi, karena mana ada anak yang tidak marah ketika melihat ayahnya diperlakukan buruk, siapa pun akan marah dan melawannya. Termasuk Fatimah, namun dia menerima nasihat Rasulullah untuk tidak membalas perlakuan orang-orang kafir tersebut.

Fatimah, sosok perempuan cantik dari hati, dengan menunjukkan ketaatan dan kepatuhan anak pada orangtua. Pernah suatu waktu ketika Fatimah sudah menikah, datang musafir yang kehabisan bekal kepada Rasulullah saw. Saat itu Rasul sedang tidak ada makanan, beliau pun menganjurkannya untuk menemui putrinya, Fatimah. Maka, dia pun menemui Fatimah dan menyampaikan maksudnya.

Fatimah pun waktu itu sedang tidak memiliki makanan apa pun. Fatimah teringat dengan kalungnya, maka ia pun menyedekahkan kalung hadiah pernikahannya kepada musafir tersebut untuk dijual dan digunakan sebagai kebutuhan makanan.

Musafir tersebut pun menjual kalung Fatimah pada sahabat Rasulullah untuk digantikan dengan makanan. Sahabat tersebut memberikan kalung tersebut kepada Rasulullah sebagai hadiah. Rasulullah menghadiahkannya kembali kepada Fatimah.

Keteladanan ketaatan dan kepatuhan kepada orangtua yang dilakukan oleh Fatimah, sangat jelas tergambar pada saat dia merasa lelah dan capai oleh kegiatannya di dapur. Sebagai anak seorang pemimpin, keluarga Fatimah tanpa ditemani oleh seorang budak atau asisten rumah tangga.

Pernah suatu ketika Fatimah meminta asisten untuk membantu urusan rumah tangganya kepada Rasulullah, apalagi karena kerja kerasnya, kedua tangan Fatimah terasa kasar. Rasulullah menolak keinginan Fatimah.

Keesokan harinya, Rasulullah mendatangi rumah putrinya, dan mengelus tangan kasar putrinya sambil berujar, bahwa untuk keringanan putrinya, beliau menganjurkan Fatimah membaca subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing 33 kali sebelum tidur.

Fatimah mematuhi dan mengamalkannya. Dan anjuran Rasulullah kepada Fatimah pun menjadi sunnah amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin, kami pun menjalankannya.
Demikianlah, perempuan yang cantik dari hatinya tergambar pada perilaku Fatimah Az Zahra, sebagai contoh teladan perempuan berani, sabar, tawakal, welas asih, rajin dan lemah lembut.

Cantik, sebagai gambaran keindahan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah mencintai keindahan. Karena diri kita bukan hanya fisik, tetapi jiwa, raga dan ruh, maka menjadi cantik paripurna dengan meneladani Rasulullah, sebagai utusan penyempurna akhlak yang mulia.

Setiap makhluk adalah cantik, karena terlahir atas ciptaan-Nya. Memelihara kecantikan, baik jasmani maupun ruhani sudah menjadi tugas kesadaran kita sebagai makhluk Allah swt.

Untuk memelihara kecantikan jasmani, bisa dengan olahraga dan pola hidup sehat. Bisa juga dengan tampil cantik menggunakan aksesoris dan alat kecantikan. Namun hal yang terpenting, Rasulullah saw telah menganjurkan untuk memelihara diri yang tercermin dalam salah satu doa iftitah shalat, Ya Allah, diri ini zalim, Engkau Maha Mengetahui atas segala dosa-dosaku, maka ampunilah segala dosa-dosaku.

Ya Allah, luruskanlah aku dari kesalahan, karena Engkau yang Maha Mengetahui kesalahanku, maka ampunilah segala kesalahanku.

Ya Allah, tunjukanlah aku pada akhlak yang mulia, karena tiada yang dapat menunjukkan jalan akhlak mulia selain Engkau. Amin

Wallahu’alam bishshawab.

Advertisements