Tags

, ,

Setiap tanggal 12 Juli, bangsa Indonesia memeringati Hari Koperasi. Berbicara koperasi, saya teringat berpuluh tahun lalu saat berangkat sekolah, menunggu angkutan umum di seberang Koperasi Mitra Batik. Saat itu, saya belum mengenal koperasi. Bahkan, tidak tahu kalau Tasikmalaya memiliki tenun khas batik, sehingga masih belum mengerti gedung megah itu diberi nama Koperasi Mitra Batik.

Bangunan dengan tulisan, “Koperasi Mitra Batik” selalu menjadi pandangan aktivitas ketika menunggu mobil angkutan umum saat berangkat sekolah. Berpuluh tahun dulu, saya menyimpan keheranan bangunan bagus tersebut sepi tanpa aktivitas. Ah, mungkin karena saya memandangnya tatkala pagi hari sebelum jam sekolah masuk, sekitar pukul 06.30 WIB, setengah jam masuk sekolah.

Tak lama masa sekolah, saya baru tahu kalau gedung yang saya pandangi ketika berangkat sekolah adalah gedung koperasi, tempat yang strategis di tengah kota dengan hilir mudik berbagai jurusan angkutan umum. Tetapi, di kampung saya yang aktivitas warganya bertani, tidak menemukan koperasi. Dan, gedung koperasi tersebut pun kini menjadi swalayan atau supermarket.

Dok. Google

Hari Koperasi dan Tasikmalaya

Rasa penasaran saya akan koperasi, membuat saya mencarinya di Google akan Koperasi Mitra Batik. Ibarat sejarah, saya hanya tahu nama jalan Mitra Batik, tanpa tahu asal usulnya, yang ternyata sangat berkaitan dengan batik dan koperasinya. 😦

Setelah saya telusuri, Tasikmalaya memang sangat berkaitan erat dengan koperasi. Di sini, penetapan awal tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi. Tahun 1947, bertempat di Tasikmalaya, telah berlangsung Kongres Pertama Koperasi, yang digagas oleh Muhammad Hatta.

Pada Kongres I tersebut, telah ditetapkan beberapa keputusan, di antaranya:

a. Mendirikan Sentral Organisasi. Koperasi Rakyat (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya.

b. Mengajukan berdirinya Koperasi Desa dalam rangka mengatur perekonomian pedesaan.

c. Menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi.

Sebagai penduduk Tasikmalaya, ada kebanggaan tersendiri ketika daerah kami menjadi titik tolak semangat koperasi seluruh Indonesia. Namun demikian, hal yang memilukan ketika di kampung saya sendiri tidak menemukan koperasi.

Penelusuran pada Google menemukan bahwa pada 17 Januari 1939 berdiri Koperasi Mitra Batik yang dirintis oleh 9 pengusaha batik, yaitu Eni, Badru, Enong, Dion, Kartadibrata, Kartasasmita, Naseh, Sayuti, dan Sumiraatmadja. Setiap anggota menyimpan uang per bulan antara Rp.1 hingga Rp.5 untuk koperasi.

Dengan motto, Sehari Sehelai Benang, Setahun Sehelai Sarung, koperasi yang pernah nyaris bangkrut pada masa Jepang, tahun 1948, bangkit dengan modal Rp.68. Pemerintah memberikan pinjaman pada koperasi ini, dan pada tahun 1950, Koperasi Mitra Batik berhasil melunasinya. Namun sayang, pada tahun-tahun berikutnya Koperasi Mitra Batik tidak beroperasi lagi.

Semangat koperasi pernah menjadi penggerak ekonomi warga Tasikmalaya. Tahun 20 November 1934 didirikan Pusat Koperasi Tasikmalaya dengan anggota Koperasi Persatuan Guru Bantu (PGB), Koperasi Pasundan Istri (PASI), Koperasi Simpan Pinjam Bumi Putra (SPB) dan Koperasi Rukun Usaha Pamali (POP).

Pusat koperasi Tasikmalaya pada waktu itu sebuah gedung koperasi yang merangkap penginapan bagi anggotanya, sebuah pabrik tenun, sebuah pabrik beras perintis dengan mesin berkekuatan 80 PK berkekuatan 10 ton, dan tiga truk pengangkut. Iya, tak disangka pada tahun 1953, Koperasi Mitra Batik telah berhasil memproduksi 80 kodi sarung setiap bulannya.

Kini, gedung koperasi tersebut telah beralih fungsi menjadi supermarket Yogya. Tak disangka, setelah menelusuri berbagai tulisan, ternyata di daerah saya pernah berjaya sistem koperasi yang membawa pertumbuhan ekonomi dan menjadi penghasil batik.

Sekilas Sejarah Koperasi

Saya semakin tertarik sejarah koperasi yang ternyata sudah diperkenalkan oleh R. Aria Wiriatmadja pada tahun 1895 dengan mendirikan Koperasi Simpan Pinjam yang diberi nama, De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Hoofden, yang artinya Bank Simpan Pinjam Priyayi Purwokerto. Pendirian koperasi ini bertujuan untuk membantu sesama pegawai pribumi agar terbebas dari utang.

De Wolf Van Westerrode, seorang asisten residen wilayah Purwokerto di Banyumas mengembangkan kegiatan tersebut. Sewaktu cuti ke Eropa, ia mempelajari cara kerja Wolksbank secara Raiffeisen (Koperasi Simpan Pinjam untuk Kaum Tani) dan Schulze-Delutzsch (Koperasi Simpan Pinjam Untuk Koperasi Kota) di Jerman. Ketika pulang, ia mengembangkan koperasi simpan pinjam yang telah dirintis oleh Aria Wiriatmadja.

Pada tahun 1908, Boedi Oetomo mendirikan koperasi dan tahun 1911, Serikat Dagang Islam turut mendirikan koperasi untuk keperluan rumah tangga dan sehari-hari. Demikianlah, pertumbuhan koperasi mulai berkembang sejak tahun 1896, yang bermula koperasi simpan pinjam, kemudian tumbuh koperasi untuk kebutuhan produksi.

Tahun 1915, Belanda membuat keputusan dengan ketetapan Raja No. 431, yang berisi; a) akte pendirian koperasi dibuat secara nota ril, b) akte pendirian harus dibuat dalam Bahasa Belanda, c) harus mendapat ijin dari Gubernur Jenderal dan diperlukan biaya f 50.

Hal tersebut sangat memberatkan, maka pada tahun 1920 dibentuk Komisi Koperasi yang dipimpin oleh DR. J.H. Boeke yang diberi tugas meneliti penduduk Indonesia akan koperasi, dan ternyata koperasi dibutuhkan untuk mendorong peningkatan kebutuhan penduduk Indonesia. Maka, pada tahun 1930, dibentuk Jawatan Koperasi yang dipimpin oleh J.H. Boeke dengan tugas, a) memberikan penerangan kepada pengusaha Indonesia mengenai seluk beluk perdagangan, b) dalam rangka peraturan koperasi No.91 melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap koperasi-koperasi, serta memberikan penerangannya. c) memberikan keterangan tentang perdagangan pengangkutan, cara perkreditan dan hal lainnya yang menyangkut perusahaan. d) penerangan tentang organisasi perusahaan, dan e) menyiapkan tindakan hukum bagi pengusaha Indonesia.

Sejak itu, jumlah koperasi yang asalnya 39 pada tahun 1930, pada tahun 1939 menjadi 574 unit koperasi, dan pada tahun 1946 telah berdiri 2500 koperasi di seluruh Indonesia. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Muhammad Hatta, mengusung kembali tentang koperasi, dan menyebutkan koperasi sebagai sistem lembaga yang mengedepankan kekeluargaan. Pada tahun 1947, diadakan Kongres I Koperasi, yang menetalkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi.

Muhammad Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia, yang ditetapkan pada kongres ke-2 Koperasi Indonesia tahun 1953 di Bandung. Pada Kongres ke-2 tersebut, diputuskan; a) Mengangkat Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. b) SOKRI diubah menjadi Dewan Koperasi Indonesia.

Kongres ke-3, diadakan pada bulan September 1956 di Jakarta, dengan menentukan beberapa keputusan; a) penyempurnaan organisasi gerakan koperasi, b) menghimpun bahan untuk undang-undang pengkoperasian.

Tahun 1960, pemerintah mengeluarkan peraturan No.140 tentang Penyaluran Bahan Pokok dan menugaskan koperasi sebagai pelaksananya. Tahun 1961, diselenggarakan Musyawarah Nasional Koperasi I (Munaskop 1) di Surabaya untuk melaksanakan prinsip demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin.

Tahun 1965, pemerintah mengeluarkan undang-undang No.14 tahun 1965, yang mana prinsip Nasionalis, Sosialis dan Komunis  diterapkan di koperasi. Tahun 1967, pemerintah mengeluarkan undang-undang No. 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok pengkoperasian disempurnakan dan diganti dengan Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Pengkoperasian. Dan tahun 1995, peraturan pemerintah No.29 tentang kegiatan usaha simpan pinjam dan koperasi.

Revitalisasi Koperasi

Revitalisasi Koperasi di Era MEA

Sejarah panjang tentang koperasi, membuat saya mengikuti tentang perkembangannya. Sebagai penggemar Muhammad Hatta, saya sependapat bila koperasi dapat menumbuhkan taraf ekonomi masyarakat Indonesia.

Senang rasanya pada tanggal 28 Juni 2016, berkesempatan mengikuti seminar yang bertema, Revitalisasi Koperasi di Era MEA, yang diselenggarakan oleh Forwakop (Forum Wartawan Koperasi) di Smesco, Jakarta.

Revitalisasi Koperasi

Heryanto, ketua panitia Forwakop memberi sambutan bahwa Forwakop siap mendukung koperasi Indonesia dan mengawal koperasi di era MEA. Seminar ini salah satunya dalam pengejawantahan dukungan kepada koperasi Indonesia.

Revitalisasi Koperasi

Agus Muharram, Sekretaris KUKM, memaparkan bahwa revitalisasi koperasi itu dengan rehabilitasi, reorientasi dan pengembangan koperasi. Koperasi harus memiliki aturan yang kuat agar tidak tergerus oleh keadaan yang ada. Koperasi harus berubah dan berkembang, jangan sampai seperti katak dalam toples, terlena di zona nyaman.

Dalam pengembangan koperasi, membutuhkan riset dan data yang kuat untuk membangun koperasi. Di era MEA yang sudah berkembang teknologi, koperasi harus bersinergi dengan teknologi, karena teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan agar koperasi lebih maju.

SDM koperasi harus profesional dalam menjalankan koperasi, di antaranya bersinergi dengan teknologi dan mengaplikasikannya pada sistem koperasi. Bukan hanya itu, dalam produksi, koperasi juga harus bisa memerhatikan kemasan atau packeging produk sehingga menarik dalam proses penjualan.

Revitalisasi Koperasi

Pada tahap berikutnya, sesi talkshow dengan narasumber Bowo Sidik Pangesto, Chaerul Jamhari, Agus Sujatmiko, dan Jimmy Ghani. Talkshow yang mempertajam pengetahuan koperasi ketika masa MEA.

Bowo Pangesto mengungkapkan bahwa revitalisasi korupsi berbicara cara menghidupkan kembali yang sudah berdaya. Ada hal yang menggelitik bahwa membentuk koperasi itu mudah, tetapi bagaimana mengelolanya agar berkembang dan maju, sehingga para anggotanya sejahtera?

Sebuah pertanyaan yang seakan menjadi PR bersama, baik anggota koperasi, pengelola koperasi maupun pemerintah. Chaerul Jamhari mengatakan bahwa di awal era MEA ini selama tiga bulan hanya berjalan dulu, karena tidak ada negara yang ingin kalah. Oleh karena itu, kita harus menyadari akan permasalahan pada negera kita seperti korupsi, publik utility, kesiapan daerah dan pajak.

Agus Sujatmiko mengatakan bahwa yang harus memperbaiki koperasi adalah koperasi sendiri, yaitu anggota dan pengelolanya. Kesadaran dalam berkoperasi dengan bersinergi pada teknologi dan globalisasi. Dalam hal ini, koperasi harus fokus dalam berbisnis dengan produk yang khas, modernisasi manajemen, dan memiliki strategi marketing.

Adapun Jimmy Ghani menguatkan pada pembahasan daya saing. Ghani melihat MEA bukan dalam hal persaingan, tetapi memandangnya sebagai potensi kolaborasi. Apalagi kalau melihat koperasi sebagai sistem kerjasama dengan memiliki tujuan yang sama, maka MEA dapat dilihat sebagai kolaborasi dan sinergi dalam kemajuan koperasi.

Talkshow yang sangat menarik dan menambah wawasan perkembangan bisnis atau usaha saat ini, manakala dalam poin yang saya dapatkan pada diskusi ini adalah networking dan kolaborasi. Saya melihatnya tidak jauh berbeda dengan koperasi yang mengedepankan asa kekeluarga sebagai networking dan kolaborasi.

Akhir kata, revitalisasi koperasi akan terlaksana bila koperasi sendiri memiliki tekad dan semangat untuk maju. Kita pernah berdaya dengan koperasi di Tasikmalaya, maka dalam hati kecil saya ingin mengembalikan keberdayaan Koperasi Mitra Batik. Jangan menyisakan nama jalan dan gedung yang beralih fungsi, tetapi merevitalisasi koperasi menjadi berdaya kembali di Tasikmalaya, khususnya, dan seluruh Indonesia. Amin

Referensi:

KoranMakassaronline, tribunnews, republika, detik.

Advertisements