Tags

, ,

Dengue mission buzz, suatu gerakan bersama, baik swasta maupun pemerintah melalui media sosial dalam mencegah virus dengue. Adapun secara lokal, pemerintah melakukan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Suatu program pemberantasan sarang nyamuk yang mengajak seluruh masyarakat berperan aktif dalam mencegah pengembangbiakan nyamuk, khususnya jentik nyamuk Aedes Spp.

1 rumah 1 jumantik

1 rumah 1 jumantik

 

Kita sering mendengar penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang hadir tanpa melihat usia tua ataupun muda. Siapa saja bisa terkena sakit yang datangnya bagai badai bergulung-gulung. Telah banyak berita yang mengabarkan tentang orang-orang yang sakit kena penyakit DBD. Bahkan, seringkali ketika melewati rumah sakit, kabar penuhnya kamar oleh orang-orang yang kena sakit DBD.

Sangat memprihatinkan ketika WHO merilis bahwa Indonesia berada di urutan kedua terbesar dalam kasus DBD di antara 30 negara endemis. Data internal P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) menyebutkan bahwa pada tahun 2015, penderita demam berdarah di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 129.179 orang, yang mana 1.240 diantaranya meninggal.

Hal tersebut menggerakkan semua pihak untuk saling bekerjasama dalam mencegah virus dengue dan memberantasnya dari bumi Nusantara. Pemerintah Indonesia sendiri, melalui Kementrian Kesehatan, dengan Dinas-dinas Kesehatan di seluruh Indonesia gencar melakukan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Sebetulnya, apa itu DBD? Apa program 1 rumah 1 jumantik? Bagaimana caranya?

Sekilas Seputar Demam Berdarah Dengue

DBD atau Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti. Penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk ini memiliki gejala sakit yang akan terlihat setelah masa inkubasi.

Gejala DBD

Gejala DBD

Jika selama seminggu lebih flu terus-terusan dan demam, maka segera memeriksakan diri ke dokter. Ciri-ciri terkena gejala DBD, mengalami demam tinggi yang bisa mencapai suhu 41 derajat celsius, sakit kepala, nyeri sendi, otot dan tulang hingga rasa sakit di belakang mata. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah ada virus dengue atau tidak.

Dengue adalah virus penyakit yang ditularkan dan menyebar kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus dengue sendirii terbagi menjadi empat strain atau tipe, yaitu DEN 1 DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Nyamuk tersebut dapat menggigit kapan saja tanpa melihat waktu, baik siang maupun malam dan menjadi perantara penularan virus dengue. Maka, DBD tidak bisa menular langsung dari seseorang ke orang lain tanpa perantara nyamuk tersebut. Nyamuk Aedes aegypti biasanya berkembang biak di daerah yang berpenduduk tinggi, yang memiliki iklim lembap dan hangat.

Pada prosesnya, masa inkubasi virus dengue berlangsung sekitar empat hingga tujuh hari. Masa inkubasi adalah jarak waktu antara virus pertama masuk ke dalam tubuh sampai gejala pertama muncul. Umumnya, gejala DBD akan terlihat pada tiga hingga empat belas hari setelah masa inkubasi dan diawali dengan demam tinggi, tubuh menggigil, sakit kepala parah, munculnya bintik-bintik merah pada kulit, sakit tenggorokan, hilang nafsu makan, nyeri pada perut dan mual-mual, wajah yang berwarna kemerahan, nyeri hebat pada otot pungguh bawah, lengan hingga kaki,nyeri hebat pada tulang dan sendi, rasa sakit bagian belakang mata, dan pendarahan yang tidak wajar.

Ketika terjangkit salah satu tipe di atas, maka setelah pulih, tubuh sudah membentuk kekebalan seumur hidup terhadap tipe tersebut. Tetapi hal tersebut belum sepenuhnya aman dari DBD, karena masih berpotensi menderita sakit DBD kembali oleh tipe yang berbeda. Bahkan, peluang untuk mengalami kondisi yang lebih serius.

Jika mengalami gejala penyakit DBD seperti yang tertera di atas, maka beberapa hal berikut bisa dilakukan, seperti banyak beristirahat, banyak minum dan memeriksakan diri ke dokter. Adapun bila pada pemeriksaan selanjutnya menderita DBD berat, maka butuh perawatan di rumah sakit, cairan infus, pemantauan tekanan darah dan transfusi.

Ketika dinyatakan pulih dari DBD, tubuh akan terasa lelah dan kurang fit, maka masih tetap dibutuhkan banyak istirahat untuk memulihkan keadaan tersebut. Semoga kita semua terhindar dari DBD apa pun tipenya. Amin

Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik

Gerakan 1 rumah 1 jumantik merupakan program yang diusung oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai salah satu cara pencegahan penyebaran virus dengue sekaligus pemberantasannya.

Hari Dengue Asean

Hari Dengue Asean

Rabu, 15 Juni 2016, saya menghadiri diskusi publik tentang DBD dan program pencegahannya. Pada tanggal 15 Juni diperingati sebagai Hari Dengue ASEAN, suatu platform kerjasama dan kolaborasi bagi semua pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesadaran dan pencegahan terhadap dengue.

Hari Dengue ASEAN diperingati setiap tahun sejak tahun 2011 yang disepakati oleh para Mentri KEsehatan negara anggota ASEAN dalam 10th ASEAN Health Ministers Meeting ada 22 Juli 2010 di Singapura. Hari tersebut menjadi rangka membuka peluang dan kesempatan untuk bersama-sama melawan endemik DBD dengan cara meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai DBD dan pencegahannya.

Salah satu program ASEAN Dengue Day dengan hadirnya webdite Dengue Mission Buzz Barometer, hasil kerjasama Asian Dengue Vaccination Advocacy (ADVA) dan Sanofi Group Indonesia yang didukung oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.  Website ini sebagai portal edukasi mengenai dengue yang memiliki konten seputar pencegahan efektif dan kontrol pro-aktif dengan tip-tip yang dapat dilakukan.

Hari Dengue ASEAN ini disertai dengan seminar dan diskusi. Secara praktek atau pelaksanaannya, langkah-langkah pencegahannya dengan menjadi kader gerakan 1 rumah 1 jumantik. Dr. Mohammad Subuh, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), mengatakan bahwa program ini bertujuan menurunkan angka penderita dan angka kematian akibat DBD dengan meningkatkan peran serta dan pemberdayaan masyarakat berbasis keluarga untuk melakukan pencegahan.

rps20160616_231229.jpg

1 rumah 1 jumantik

Jumantik sendiri kepanjangan kata dari juru pemantau jentik. Para Jumantik ini berasal dari anggota masyarakat yang dilatih oleh Puskesmas setempat untuk memantau keberadaan dan perkembangan jentik nyamuk guna mengendalikan penyakit DBD. Jumantik akan memantau pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M Plus, yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan barang bekas, dan Plus cegah gigitan nyamuk.

rps20160616_231406_534.jpg

1 rumah 1 jumantik

Adapun masyarakat atau warga bisa bekerjasama dengan mensterilkan rumah atau lingkungan sekitar rumah seperti dengan penyemprotan pembasmi nyamuk,  membersihkan bak mandi dan menaburkan serbuk abate agar jentik-jentik nyamuk mati. Selanjutnya, menutup, membalik, atau jika perlu menyingkirkan media-media kecil penampungan air lainnya yang ada di rumah. Berikutnya memasang kawat anti nyamuk di seluruh ventilasi rumah. Bisa juga dengan memasang kelambu di ranjang, memakai anti nyamuk dan mengenakan pakaian yang cukup tertutup dari nyamuk.

Hal demikian sangatlah penting kita lakukan, karena virus dengue umumnya berkembang biak dalam genangan air, baik itu genangan air yang ada di lingkungan luar rumah seperti waduk atau selokan yang tidak mengalir, maupun di dalam rumah seperti bak mandi. Bagi daerah yang bersanitasi buruk, nyamuk akan betah tinggal dan berkembang di daerah tersebut.

rps20160616_231309_925.jpg

1 rumah 1 jumantik

Salah satu kota yang berhasil menjadi model percontohan terlaksananya program 1 rumah 1 jumantik adalah daerah Tangerang Selatan. Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan menyebutkan bahwa penerapan program tersebut dengan berbasis masyarakat. Kesadaran warga akan kebersihan sangat penting,  pemerintah daerah hanya mendorong saja. Sebagai contoh dalam membersihkan halaman setiap pagi, maka beberapa langkah ke luar pagar rumah bisa membersihkan selokan sebagai drainase pemukiman.

Pemantauan pelaksanaan program 1 rumah 1 jumantik, daerah Tangerang Selatan mengikutsertakan para mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di wilayah Tangsel. Mereka memantau dan mengawasi pelaksanaan program tersebut. Tak heran bila Kementrian Kesehatan merekomendasikan Tangsel sebagai kota 1 rumah 1 jumantik.

rps20160616_231112_916.jpg

1 rumah 1 jumantik

Untuk menambah wawasan tentang DBD, Sri Rejeki Hadinegoro memaparkan seputar DBD. Beliau menekankan bahwa jika anak demam sekitar 3 hari tidak turun, maka segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa.

Demikianlah peringatan hari dengue ASEAN yang menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang kesehatan dan kebersihan. Benarlah apa yang saya dapatkan pada buku agama, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Yuk, kita jaga kebersihan lingkungan sekitar kita…

Tulisan ini opini pribadi dan didukung oleh Sanofi Group Indonesia.

Advertisements