Tags

, , , , , ,

Tembakau, bagi para perokok, sudah tidak asing lagi dengan tanaman  yang memiliki nama latin Nicotiana tabacun. Tanaman hasil perkebunan ini sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan baku rokok, baik di Indonesia maupun luar negeri.  Di Indonesia sendiri, rokok bukan barang asing lagi, hampir di setiap tempat banyak yang merokok. Oleh karena itu, tidak heran kalau tembakau  memiliki nilai ekonomis tinggi.
image

Ketika berbicara rokok, maka persepsi kita akan mengarah pada nikotin. Salah satu unsur yang terkandung pada Narkoba, yang secara jelas Indonesia sedang memberangus dan menyatakan perang pada Narkoba dan peredarannya. Lalu, bagaimana dengan industri rokok Indonesia yang memiliki pemasukan devisa besar pada pemerintah, bagaimana upaya pemerintah dalam penyadaran pentingnya kesehatan dari bebasnya asap rokok dan bagaimana agar remaja tanpa tembakau?

Hal yang paradoks ini sangat menarik. Di sini, saya akan memberikan gambaran umumnya mengenai industri rokok dan usaha pemerintah, terutama Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam upaya penyadaran hidup sehat tanpa tembakau.

Tembakau dan Nikotin

Tembakau, yang memiliki bahasa latin Nicotiana Tabacun ini dikenal dengan Tabaco. Istilah Tabaco sendiri berasal dari bahasa Spanyol, tepatnya dari bahasa suku Taino di Karibia yang memiliki arti daun-daun kering yang dilinting.

Tumbuhan yang memiliki banyak spesies dan masuk pada tumbuhan family Solanaceae ini memiliki kandungan alkaloid nikotin.Hampir dari semua bagian tembakau mengandung nikotin, dari mulai bunga, daun, batang dan akarnya.

Alkaloid adalah istilah bagi senyawa kimia yang diambil dari kata alkali, dan sebagian besar mengandung unsur nitrogen, biasanya bersifat netral dan basa. Nikotin sendiri merupakan senyawa kimia yang memiliki rumus senyawa C10H14N2 dan termasuk jenis alkaloid. Nikotin ini bersifat stimulan yang dapat memengaruhi kerja saraf (menimbulkan perasaan tenang dan rileks), bersifat adiktif, dan bersifat antiherbivore yang bisa dimanfaatkan untuk insektisida.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Ketika memerhatikan lingkungan sekitar, masih banyak yang merokok, maka itu menjadi suatu keprihatinan. Apalagi dengan beredarnya foto anak-anak kecil yang merokok di media sosial, maka ada kegelisahan bersama akan masa depan generasi muda Indonesia untuk terbebas dari nikotin.
image

Kamis, 19 Mei 2016, Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengadakan sosialisasi Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei mendatang. Bertempat di Depkes, Percetakan Negara, hadir sebagai pembicara Theresia Sandra, dari Depkes, dan Hasna Pradityas, dari Tim pemantau Smoke-Free Agents.

Remaja, Rokok dan Industri

Ada kegelisahan ketika para anak-anak bangsa sudah mulai merokok. Riset dan penelitian pun dipaparkan bagaimana perkembangan perokok Indonesia. Setiap tahunnya selalu ada peningkatan, apalagi dengan perokok pemula yang jatuh pada anak-anak berusia 10-14 tahun, bahkan ada yang masih Balita sudah diajarkan merokok. Poin dari paparan Bu Theresia adalah jangan bunuh dirimu dengan candu rokok.

Industri rokok sudah mulia diperketat oleh pemerintah dalam iklan dan promosinya. Kita sudah jarang melihat billboard rokok di jalanan, namun Hasna Pradityas, justru sosialisasi rokok langsung membidik para remaja, generasi muda Indonesia, memalui berbagai sponsor hiburan dan donasi kegiatan remaja.

Remaja Tanpa Tembakau

Diskusi kali ini mengajak saya kembali melihat fenomena masyarakat, terutama remaja dalam menyikapi rokok. Tidak dapat dipungkiri, bahwa tembakau biasa dikonsumsi sebagai rokok yang berguna untuk menenangkan saraf, hiburan, pelengkap setelah makan dan gaya hidup.

Paparan riset dari Depkes menunjukkan bahwa proporsi perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat tajam. Prevalensi perokok remaja pada usia 15-19 menunjukkan peningkatan, remaja laki-laki 37,3% dan remaja perempuan 3,1%.

Riset juga menunjukkan bahwa para remaja sudah mengenal rokok dari berbagai iklan dan promosi industri rokok. Belum lagi dengan berbagai sponsor  rokok yang masuk ke berbagai kegiatan remaja.

Ada hal yang menarik dalam industri rokok, mereka sangat kreatif dalam beriklan dan promosi, baik itu berbentuk sponsor maupun donasi. Ketika iklan hardselling dilarang, mereka pun menggunakan jalur softselling dan langsung menuju generasi muda Indonesia.

Apalagi ketika mendengar motto salah seorang pemilik industri rokok yang berkata, “remaja hari ini adalah pelanggan tetap hari esok.” Hal tersebut memang menunjukkan sebagai salah satu bukti bahwa target pasar industri rokok adalah para remaja.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Pertama, sosialisasi penyadaran akan bahaya nikotin pada anak-anak dan remaja. Ketika industri rokok menunjuk remaja sebagai agent of promotion, maka masyarakat dan pemerintah bisa sosialisasi dan kebijakan bahwa anak atau remaja adalah agent of change penyadaran tanpa nikotin.

Kedua, kebijakan pembatasan usia jual beli rokok. Pemerintah berwenang dan memiliki kebijakan untuk membatasi usia transaksi jual beli rokok. Hal tersebut menurut saya sangat penting. Selain meminimalisir anak merokok, hal tersebut juga sebagai upaya penyadaran orang tua atau orang dewasa untuk tidak menyuruh anak-anak membeli rokok dan menghindarkan anak dari rokok.

Demikian sekilas ulasan dari diskusi yang sangat menarik dan menambah wawasan tentang fenomena remaja dan rokok.

Advertisements