Tags

, ,

Awal April kemaren, saya pulang kampung di daerah Tasikmalaya. Keluarga saya adalah keluarga petani, terutama petani padi. Rata-rata penduduk kampung kami adalah para petani padi. Untuk keperluan sehari-hari seperti bumbu dapur, kami masih harus membeli ke pasar, meski beberapa bumbu ada di pekarangan rumah. Tetapi, banyak bumbu dapur yang masih harus kami beli ke pasar, seperti bawang merah dan bawang putih.

Ketika belanja ke warung, harga bawang merah mencapai Rp.40.000, harga yang pantastis untuk ukuran di kampung. Cabe rawit pun tidak jauh beda harganya. Bahkan, jengkol sebagai makanan kampung sudah mencapai harga Rp.50.000. Padahal kan puasa dan lebaran masih lama, tapi harga pangan bisa naik.

Mahalnya harga pangan, terutama menjelang puasa dan lebaran, sangat memprihatinkan dan menjadi pemikiran mendalam kenapa sampai hal tersebut terjadi. Sangat ironis, Indonesia sudah 70 tahun merdeka, tetapi menikmati bumbu dapur saja sangat mahal. Bukankah Nusantara sangat terkenal dengan hasil perkebunannya sampai VOC ratusan tahun mengeruk perkebunan kita? Dan setelah terbebas dari VOC, untuk menikmatinya rakyat harus merogoh uang banyak dan nyaris tak terjangkau orang rakyat?
image

Seiring dengan kegelisahan saya, beberapa hari lalu saya mendapat undangan diskusi bedah buku yang berjudul, Pemerdekaan Perkebunan Indonesia. Bedah buku yang dikemas dengan diskusi yang bertema, Kesuksesan Perkebunan Tanpa Kemajuan Industrialisasi.

Selasa, 3 Mei 2016, bertempat di Menara 165, diskusi dan bedah buku yang diadakan oleh Media Perkebunan menghadirkan narasumber,Ā  Agus Pakpahan, penulis buku Pemerdekaan Perkebunan Indonesia, dan MT Felix Sitorus, Sosiolog Agrabinsis. Diskusi ini sangat menarik, bila melihat bagaimana perkebunan telah menunjukkan kedaulatan Nusantara menjadi negara yang merdeka dari kolonialisme dan tanam paksa.
image

Agus Pakpahan memaparkan bahwa perkebunan akan memerdekakan bangsa ini apabila industrialisasinya tidak macet. Perkebunan dan industrialisasi itu harus menyatu. Felix Sitorus pun menguatkan bahwa perusahaan besar perkebunan ada, tetapi tidak meningkatkan kesejahteraan petani kebunnya.

Ada hal yang menarik kalau direnungkan, bagaimana VOC telah mengindutrialisasikan perkebunan Nusantara, dengan membawa berbagai hasil rempah-rempah dan perkebunan ke luar negeri, sedangkan masyarakat Nusantara sengsara, malah banyak yang meninggal karena efek tanam paksa. Bila melihat fenomena petani dan pengebun sekarang yang masih miskin, apakah memang Indonesia sudah merdeka?

Keprihatinan ini tidak berlebihan, karena saya sendiri merasakan bagaimana mahalnya harga pangan. Sebagai keluarga petani, saya merasakan bagaimana rasanya perkembangan pertanian dan industrialisasi di Indonesia. Betapa tidak, ketika musim panen tiba, harga jual padi malah jatuh, padahal di pasar modern dan tradisional harga beras mahal. Ada yang terenyuh ketika ada cerita tetangga yang dalam proses bertani, membeli pupuknya dengan meminjam, berharap dengan hasil panen dapat melunasinya. Namun, ketika masa panen dengan harga jual yang tiba-tiba rendah, maka petani pun boro-boro untung, untuk bayar pupuk pun tidak cukup.

Ada sesuatu yang hilang antara petani dan industrialisasi, sehingga hasil panen pun tidak membantu petani dalam membiayai proses pertanian itu sendiri. Bila itu terus berlangsung, tidak berlebihan bila banyak yang menjual sawah atau pertaniannya dan beralih profesi.

Hal yang menyedihkan, karena banyak sekali pangan impor, sedangkan produk pangan sendiri diperlakukan dengan harga murah dari para petani. Sekalipun ada produk hasil kebun yang berkualitas, banyak yang langsung ekspor Tidak ada dukungan industri untuk memajukan hasil pangan Indonesia untuk dikonsumsi oleh rakyat.

Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN sekarang ini, sudah saatnya pemerintah memerhatikan perkebunan dan pertanian Indonesia dari segi industrialisasi dengan berbasis menyejahterakan para petani dan pengebun. Masa VOC yang penuh kelam di Nusantara, berulang dengan balutan pasar bebas, yang tetap sengsara dan menderita para petani.

Ada kerjasama antara pemerintah, pengusaha, petani dan rakyat untuk bersama-sama menyejahterakan bersama. Ea, pakai istilah menyejahterakan bersama, maksudnya… šŸ™‚ Intinya sih agar tidak ada keculasan dalam bertransaksi atau bekerjasama.

Sebagai rakyat dan keluarga petani, tentu kebijakan MEA bisa menjadi peluang sekaligus tantangan, tetapi harapan jangan sampai terulang seperti sistem masa VOC masuk ke Nusantara. Masa kelam sistem VOC, jangan sampai terulang.

Oh iya, dari diskusi dan bedah buku ini memacu saya untuk bisa berkebun sendiri dan mengonsumsi bahan makanan pangan dari kebun sendiri. Sudah saatnya, tanah air kita yang subur ini kita tanami dengan berbagai pohon dan tanaman.

“Pangan rakyat adalah soal hidup atau mati suatu bangsa. Kelaparan, kemiskinan, ketertinggalan atau bentuk kondisi sosial-ekonomi lainnya yang senada adalah bentuk ketidakmerdekaan.” (Soekarno, Presiden pertama RI )

Adapun buku karya Agus Pakpahan, yang berjudul Pemerdekaan Perkebunan Indonesia, merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan beliau di Media Perkebunan pada kolom, Teropong. Sangat rinci dan sederhana dalam penyampaian tulisannya, sehingga mudah dicerna oleh para pembaca. Hal yang menarik, buku ini kaya dengan sejarah perkebunan di Indonesia. Anda penasaran, insya Allah akan saya tulis resensinya pada postingan berikutnya.

 

Advertisements