Tags

, , , , , ,

Tahun 2016 merupakan awal berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masyarakat Indonesia dengan negara-negara ASEAN telah terintegrasi dalam bidang ekonomi. Sebagaii masyarakat ekonomi, Indonesia sendiri memiliki banyak UKM potensial dalam memajukan Indonesia menjadi MEA yang maju, mandiri dan sukses.
image

Di era kemajuan teknologi sekarang ini, salah satu cara untuk meningkatkan daya saing dengan mengikuti perkembangan teknologi, terutama dunia digital. Internet sebagai media yang dapat memajukan para UKM Indonesia, di antara pelaku UKM yang sudah memanfaat media internet adalah Fiva Food, dengan layanann website http://www.fivafood.com.

Fiva Food, Olahan Daging dari Jatibening

Fiva Food merupakan salah satu UKM yang bergerak dalam olahan daging dan ikan. Berdiri sejak tahun 1983, menunjukkan kualitas dan pengalaman bisnis yang mempuni.
image

Saya sendiri mengenal produk ini sejak lama. Produk yang sering saya dapatkan di salah satu swalayan, menjadikan produk Fiva Food cukup familier. Namun, tak disangka minggu lalu, tepatnya, Ahad, 24 April 2016, saya bisa menikmati produk olahan daging dan ikan Fiva Food sepuasnya.

Saat itu, saya menikmati bakso, kornet ayam, ikan, dan rolade daging. Entah lapar atau memang suka, saya menghabiskan banyak makanan olahan ikan dan daging Fiva Food. Olahan daging dan ikan tersaji dengan varian menu.
image

Olahan daging dan ikan Fiva Food yang pabriknya di daerah Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, ini bisa dinikmati dengan berbagai sajian, seperti ditumis, digoreng atau direbus. Pada dasarnya tergantung selera kita dalam mengolah makanannya, karena olahan daging dan ikan Fiva Food ini bisa disajikan pada masakan apa pun sesuai selera kita.

Betsy Monoarfa, Womenpreneur Indonesia

Betsy Monoarfa, sosok womenpreneur Indonesia yang mendedikasikan karya dan usahanya pada pangan Indonesia. Olahan daging dan ikan Fiva Food sebagai usaha yang telah dirintisnya sejak tahun 1983. Selama 33 tahun, Ibu Betsy mengembangkan bisnisnya pada pangan olahan daging dan ikan.
image

Jangan kerja sama orang. Demikian Bu Betsy Monoarfa. Hal tersebut pesan ayahnya yang menekankan Bu Betsy untuk membuka usaha sendiri dan mandiri.

Awalnya, Bu Betsy yang lulusan Teknologi Pangan Institute Pertanian Bogor tidak memerhatikannya, tetapi kemudian ada dorongan untuk membantu perkembangan gizi pangan masyarakat Indonesia, maka Bu Betsy, yang mulanya berprofesi konsultan pangan, memilih olahan daging. Ini sebagai upaya untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan protein dengan mudah dan higienis.

Fiva, pengambilan namanya dari panggilan nama kedua anaknya, Revi dan Reva, kemudian digabungkan dan disinkronkan menjadi nama FIVA. Hal tersebut menunjukkan bahwa Fiva Food lahir dari kecintaan, sehingga tak segan Bu Betsy untuk menyematkan nama panggilan anaknya sebagai nama produk usahanya. Ada doa dan harapan pada nama merk yang diusungnya.

Di usianya yang ke-63 tahun, Bu Betsy telah memercayakan aktivitas perusahaan pada anak-anaknya. Untuk estafet bisnisnya, beliau pun berpesan untuk jujur, amanah dan komitmen pada waktu, kualitas dan kuantitas produk.

Fiva Food, Bisnis Olahan Daging dari Jatibening

Fiva Food berdiri tahun 1983. Inisiatif dari seorang konsultan pangan, Betsy Monoarfa, yang prihatin akan masyarakat Indonesia yang masih banyak kekurangan protein pangan. Untuk itu, Bu Betsy membuka usaha olahan daging.

Bermula dari dua orang karyawan, Bu Betsy membuka usaha di rumahnya, Jl. Salak, Jatibening I. Meski dengan tersendat-sendat, bahkan mati suri, karena sambil bekerja sebagai konsultan pangan, ia tetap berusaha menjalankanya. Tahun 1990, Bu Betsy mulai secara serius menjalankan usahanya.

Bu Betsy membeli mesin-mesin pengolahan daging dan freezer pada expert German, mereka juga mengajarkan proses penggunaanya. Dari sana, dia mulai mempromosikan usahanya dengan mengikuti berbagai pameran.

Dalam proses penjualannya, Fiva Food melakukan marketing dengan tiga segmentasi pasar, yaitu pasar tradisional, pasar modern (supermarket) dan B to B (seperti catering atau perusahaan).

Seiring berjalannya waktu, kemudian membeli tanah di sini, Jl. Taman Pembangunan II, yang mulanya hanya 1.700 meter, lalu pindah ke tempat tersebut pada tahun 1995. Tahun 2003 dikembangkan sampai 3.300 M.
image

Untuk kepercayaan konsumen, Fiva Food sangat memerhatikannya dengan menunjukkan bahwa olahan dagingnya halal, maka sebelum MUI mengeluarkan sertifikat halal, Bu Betsy menunjukkan kehalalannya dengan menempelkan foto Bu Betsy yang sudah berhaji di kemasan produk. Maka, tidak heran ketika tahun 1995, MUI menerbitkan sertifikat halal, Fiva Food langsung mendaftarkannya.

Demikianlah, Fiva Food menjadi salah satu UKM Indonesia yang tampil mandiri dan berdikari. Dengan memerhatikan kualitas produk, kebersihan pabrik dan lingkungan sekitar (amdal), Fiva Food pun menerobos dunia maya dalam mengembangkan jejaring, publikasi dan penjualan.

Advertisements