Tags

Tidak ada yang sia-sia dalam setiap perjalanan, semua ada hikmah dan pengejarannya. Ketika melangkah pada tahapan sekarang, maka jejak-jejak langkah yang dahulu menjadi suatu titian keberadaan kita berada pada saat ini. Namun demikian, tetap saja dalam berjalan harus menentukan arah dan tujuan.

Ketika sudah menetapkan hati untuk berkiprah dalam kewirausahaan, maka harus menentukan arah kewirausahaan yang akan kita lakukan serta target dan tujuan dari hal tersebut.

image

Saya sendiri sudah berniat untuk berwirausaha, dengan memulai sebagai writerpreneur. Titik awal untuk melangkah meski masih terseret oleh berbagai keraguan dan problematika kehidupan. Maka, senang rasanya ketika pada hari Rabu, 2 Maret 2016 dapat mengikuti talkshow yang bertema, Menentukan Arah Kewirausahaan.

Bertempat di Galeri Indonesia Wow, Smesco, Jakarta, hadir sebagai pembicara, Bapak Prakoso BS sebagai Deputi SDM Kemenkop UKM, Jimmy M. RifaibGani sebagai Executive Director &CEO IPMI International Business School dan Kartika Setiawan sebagai Wirausaha Kue Kering Medan.

Menentukan Arah Kewirausahaan Indonesia

Diskusi yang menarik dan banyak hikmah yang saya dapatkan. Pak Prakoso memaparkan tentang keadaan UKM di Indonesia. Perjalanannya penuh inspirasi dalam berkreativitas dan menentukan arah kewirausahaan. Hal yang menarik beliau paparkan tentang bimbingan kewirausahaan, bahwa tidak ada murid yang salah, kalaupun salah, itu berarti guru yang gagal.

Ada beberapa poin dalam menentukan arah kewirausaha di Indonesia, yaitu:

1. Konsen daerah perbatasan.
Luasnya wilayah Indonesia, tidak menjadi halangan bagi Kementrian KUKM untuk melakukan bimbingan dalam pemerataan UKM ke daerah-daerah pelosok Indonesia.

Konsen daerah perbatasan, karena berada di teras rumah Nusantara, maka bimbingan dan pembinaan para UKM bisa menjadi role model akan kesejahteraan para UKM Indonesia.

2. Program harus sinergi.
UKM memiliki peran sangat penting dalam kemajuan masyarakat ekonomi Nusantara, maka dalam memajukan para UKM dibutuhkan sinergisitas dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, masyarakat dan pengusaha UKM sendiri. Jangan sendiri-sendiri, harus kerjasama dan bersinergi.

3. Program sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Seseorang untuk berusaha tidak hanya modal, tetapi mentalitas. Menentukan arah kewirausahaan tidak mesti berbeda dengan keadaan sosial budaya masyarakat daerah tersebut. Karena yang tahu fonema sosial dan ekonomi lingkungan sekitar, ya masyarakat tersebut. Maka, budaya tetap diberdayakan dan dipertahankan.

Pemerintah berusaha memfasilitasi untuk perkembangan para UKM, di antaranya gedung kreatif seperti Smesco, sebagai etalase dan pusat kreatif para UKM. Tidak hanya itu, bimbingan dan pembinaan pada para UKM sudah dilakukan ke berbagai daerah di Indonesia.

image

Menentukan Arah Usaha dengan Kue Kering

Kartika Setiawan, perempuan muda asal Medan ini telah memiliki omset 350 juta rupiah per bulan dari usaha kue kering. Bermodal 5 juta rupiah, kini dia sudah bisa membiayai keperluan keluarganya.

Kartika memulai usaha sejak kuliah. Dia membuat kue kering dengan  resep dari orangtuanya. Berawal dari keprihatinan temannya yang jarang mendapat kue kering pas hari raya, maka dia pun membuat olahan kue kering.

Proses penjualannya dari mulut ke mulut di antara teman kuliah, kemudian dimodifikasi lewat internet. Sekarang, kue kering Kartika sudah menembus Aceh. Kurangnya mengolah kue di antara masyarakat Sumatera dan Aceh saat hari raya, membuat kuenya banyak peminat.

Usaha yang berjalan sejak tahun 2011, sekarang sudah memiliki 15 karyawan. Ada keberanian dan tekad kuat yang dimiliki oleh Kartika dalam usahanya. Ketika manusia berkumpul, itu bisnis market.

Iya, Kartika dan para pengusaha muda lainnya bisa menjadi contoh keberanian dan keteguhannya dalam berusaha. Ada mental yang kuat pada pengusaha muda ini.

Bidik Arah dalam Menentukan Kewirausahaan di Indonesia

Pembicara ketiga, Arif Ghani, akademisi
Tumbuh dari pengusaha UKM, sejak SMP-SMA. Sejak 13 tahun lalu membangun perusahaan Kelbis. Selain akademisi, dia juga memiliki pengalaman jatuh bangun dalam berwirausaha sehingga kuat dalam membangun perusahaan berikutnya.

Pernah menjadi Dirut Sarinah dan pengembangan retail UKM, maka pemgetahuan dan pengalamannya dia berpendapat bahwa untuk membangun suatu usaha pada dasarnya dengan value, atau nilai, bukan sekedar mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tetapi memberi nilai manfaat kepada orang lain.

Masuk ke era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), ada 3 tren yang sedang berkembang di Asean, yaitu:
1. Globalisasi.
Globalisasi sebagai networking atau jaringan dalam global dunia. MEA menunjukkan bahwa kita sudah berada di era globalisasi, maka para UKM memiliki peluang usaha yang mengglobal ke berbagai penjuru Asean, apalagi bila dengan jaringan internet, maka bisa mengglobal ke seluruh penjuru dunia.

Untak globalisasi ini kita membutuhkan  knowledge, atau pengetahuan. Pengetahuan bahasa dan wawasan budaya, sehingga dalam praktek pemasarannya bisa tepat sasaran. Tentunya harus disertai dengan manajemen usaha yang mumpuni.

2. Urbanisasi.
Sekarang ini, masyarakat Indonesia termasuk pada urbanisasi, karena hampir 40% orang Indonesia ada di kota. Hal tersebut tentunga akan mengubah gaya hidup.

Gaya hidup urban akan berbeda dengan daerah. Sebagaimana kita rasakan di Kota Jakarta, hampir semua masyarakat ingin cepat dan tepat. Kemacetan jalanan ibukota bisa menjadi peluang bagi start up aplikasi kendaraan seperti Gojek. Bermunculan banyak start up, maka ecommerce menjadi salah satu solusi atau peluang usaha.

Bukan hanya itu, masyarakat urban yang sangat memerhatikan fashion, maka gaya hidup tersebut bisa menjadi peluang bisnis. Termasuk ketika masyarakat urban mudik, ada tahapan masyarakat urban menyumbang banyak uang dengan membagi ke daerah-daerah. Bagi masyarakat yang kreatif, di sana ada tantangan, maka ada peluang usaha. Jadi, oengusaha yg hebat itu adalag bisa mengetahui gaya hidup yang berubah.

3. Digitalisasi.
Digitalisasi. Sekarang ini sangat kita rasakan perkembangan digitalisasi, seperti peluang dalam pemanfaatan smartphone. Hanya menggunakan handphone bisa kemana-mana dan melakukan banyak hal.

UKM start up itu bisa dengan memanfaatkan digitalisasi, dan memiliki banyak peluang usaha. Namun demikian, untuk pendekatan perkembangan usaha, bisa dilakukan pada development approach berikut:
1. People
2. Process
3. Product
4. Technologi

Dengan demikian, pemerintah diharapkan membuat kebijakan-kebijakan pembiayaan UKM tanpa bunga. Karena start up usaha itu berpotensi bangkrutnya kuat.

Hal yang sangat menarik dari penjelasan Gani, ialah adanya angel investment. Donatur yang siap membantu bara pemula UKM dengen melakukan investasi awal sebagai uji coba dengan batasan waktu tertentu. Ini untuk mengkondisikan bagaimana agar start up tersebut bisa kondusif dengan investasi.

Misalnya, seorang angel investment memberi investasi 100 juta rupiah  pada satu UKM dengan batasan kreativitas 6 bulan. Bila terdapat peningkatan signifikan, tetapi membutuhkan model kembali, maka angel investmen kembali investasi 1 milyar dengan perjanjian 500 juta rupiah sebagai penggantinya. Apabila sukses dan masih membutuhkan investasi yang lebih besar lagi, maka angel investmen bisa mengucurkan dana sampai 10 milyar rupiah.

Demikianlah, diperlukan kebijakan antara akademisi, pelaku, dan pemangku kebijakan. Untuk menuju kesuksesan UKM, bukan hanya kuantitasnya, tetapi kualitasnya.
Dibutuhkan konstruksi UKM pada undang-undang dan bimbingan yang baik. Maka, anak muda yg punya integritas dan kejujuran bisa tampil dan menjadi pengusaha.

Sungguh menarik dalam talkshow kali ini, saya juga mendapat pengalaman kisah dari pengusaha muda Makassar, namanya Mas Dir, pengusaha sablon. Dengan modal awal 800 ribu rupiah, sekarang sudah memiliki 6 karyawan. Untuk perkembangan diri dan usahanya, maka Mas Dir banyak mengikuti berbagai seminar, dari modal, mental dan keberanian.

Ada juga Dewa Ayu, lahir tahun 1992, dia seorang pengusaha perias pengantin. Bermula dengan Program Magang di UKM. Pada proses usahanya, Dewa Ayu mengajarkan dan menebarkan ilmunya kepada tetangganya, sehingga pada langkah selanjutnya dia berbagi pekerjaan dengan tetangganya.

Bicara mental, Gani bercerita tentang Thomas Alfa Edisen dididik oleh ibunya. Apa resepnya untuk bertahan? Bukan gagal 999, tetapi menemukan 999 formula yang salah, 1 kali keberhasilan. Di sana, saat menemui kesulitan itu suatu proses menuju keberhasilan. Pengusaha itu harus punya manajemen, atau tim yang sesuai dengan keahliannya.

Menarik ketika moderator Dedy Gumelar berbicara, bahwa yang menjadi kendala utama kita, masyarakat Indonesia adalah mentalitas. Percaya diri 20% berarti menang, nggak percaya diri berarti 50% kalah. Dedy Gumelar dengan panggilan Miing menyimpulkan, bahwa yang sangat terpenting dalam MEA, yaitu:
1. Knowledge.
2. Skill.
3. Networking.

Ada banyak hal yang menginspirasi dalam talkshow ini, dari mental sampai manajemen. Dalam menentukan arah kewirausahaan, tidak lebih dari potensi dan kreativitas diri, dan yang terpenting adalah mental kita sendiri. Ada motivasi diri untuk terus berjuang dan mengembangkan diri.

Advertisements