Udara sejuk menerpa kulit ketika Selasa, 16 Februari 2016, kaki menginjak bumi di pesisir pantai utara. Matahari tersembunyi di antara gumpalan awan meski jam tangan sudah menunjukkan pukul 1 siang. Daerah yang berada di utara Bekasi, kami tempuh selama dua jam lebih dari kota Bekasi.

IMG_20160216_135645

Tidak saya sangka Bekasi memiliki daerah berpantai, pantai utara, tepatnya kecamatan Babelan. Di wilayah pesisir ini penduduknya banyak yang menjadi nelayan. Saya melihat beberapa warga yang sedang membuat jaring ikan ketika mendekati wilayah Babelan. Langit mendung, seakan membantu meringankan kami dari terik matahari pantai utara.

Membangun Mimpi

Sebuah perjalanan berperi pada satu titik yang menjadi acuan pada setiap keadaan. Jarak dan tempat yang jauh dari hiruk pikuk dunia bisnis, membuat daerah ini masih membutuhkan pendidikan dan life skill bagi anak-anak agar memiliki mimpi dan cita-cita.

Sekolah menjadi salah satu jembatan bagi anak-anak untuk memiliki mimpi dan cita-cita. Bukan hanya ilmu pengetahuan dan wawasan, sekolah menjadi tempat berinteraksi antara anak yang satu dengan lainnya. Dari sini anak-anak diharapkan dapat membangun mimpi dan cita-citanya.

IMG_20160216_135857

Mimpi dan cita-cita bisa tumbuh di sekolah. Seperti halnya Anton Mirzaputra, personil band Jamaican Cafe. Pemuda yang memiliki suara emas ini meski cacat tetap ceria dan ramah. Keadaan fisik tidak menjadi halangan untuk bermimpi dan bercita-cita. Ia tumbuh dengan mimpi dan cita-cita. Ketika di sekolah, dia mulai mengembangkan diri dengan bernyanyi dan bermusik bersama teman-temannya. Dari sana dia mulai memiliki mimpi dan cita-cita. Demikian kata Danie Satrio, teman sekolahnya.

Anton dan Danie, dua sosok yang menceritakan mimpi dan cita-citanya kepada anak-anak dan orangtua Desa Hurip Jaya pada event CSR Yayasan Wings Peduli Kasih. Dengan mimpi dan cita-cita tersebut menjadi acuan dalam langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapainya. Danie, seorang penulis dan praktisi media massa. Kebiasaannya menulis sejak sekolah mengarahkannya membangun mimpi menjadi penulis. Demikianlah, dengan mimpi dan cita-cita, seseorang akan terus melangkah selangkah demi selangkah menuju mimpi dan cita-citanya.

Sukiman, Pendiri TKB Bandeng

Berada di daerah yang jauh daerah sekolah lanjutan, membuat Sukiman, seorang pendidik atau guru Sekolah Dasar merintis pendidikan lanjutan Taman Kelompok Belajar (TKB) Bandeng di Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi.

IMG_20160216_131335

Pak Sukiman berasal dari daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Tahun 1976, dia dan para guru lainnya mengajukan tugas mengajar pada berbagai daerah di Indonesia, termasuk salah satunya wilayah Babelan Bekasi. Pak Sukiman saat itu berada pada rombongan terakhir keberangkatan, karena baru tahun 1978 dia berangkat ke Bekasi. Tepatnya ke daerah Muara Gembong. Dia ditempatkan sebagai guru yang mengajar SD.

Pada tahun 1981, Pak Sukiman pindah ke desa Hurip Jaya, dan mengajar di SD Hurip Jaya. Melihat kondisi anak-anak yang semangat belajar dan terputus pada jenjang SD karena jarak yang jauh ke SMPN 01 Muara Gembong dengan jarak 35, maka pada tahun 1986, Pak Sukiman merintis sekolah lanjutan Taman Kelompok Belajar dari rumah. Meski sudah meluluskan anak-anak berjenjang SMP, dan sudah ada yang lulus perguruan tinggi dan sudah PNS, TKB Bandeng hanya memiliki satu lokal ruang sekolah.

Hal tersebutlah yang membuat Yayasan Wings Peduli Kasih tergerak bekerjasama dengan Econity90 membantu bangun sekolah TKB Bandeng. Belum lagi dengan fenomena anak-anak daerah sana yang menikah muda dan banyak yang memilih bekerja serabutan.

Wings Peduli Kasih, Membangun Sekolah TKB Bandeng

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki mimpi dan cita-cita. Demikian kata Aristo Kristandyo, Head of Marketing Communiation PT. Antusiasme itulah yang membuat Yayasan Wings Peduli Kasih bekerjasama dengan Econity90, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Tahun 1990,  membangun sekolah TKB Bandeng.

Daerah yang tidak jauh dari ibukota Jakarta masih kesulitan untuk melanjutkan sekolah karena jarak tempuh yang jauh. Semangat Pak Sukiman dalam mambangun pendidikan di daerah telah menginspirasi Yayasan Peduli Kasih dan Econity90 untuk membangun infrastrukturnya.

IMG_20160216_135159

Pendampingan untuk anak-anak dan masyarakat yang jauh dari fasilitas dan infrastruktur pendidikan sangat penting, karena semangat anak-anak harus diberi wadah agar bakat dan kemampuannya tidak hilang tergerus keadaan lingkungan sekitarnya. Demikian kata Rahmat Susanta, Ketua Dewan Pengurus Econity90, pada peletakan batu pertama TKB Bandeng.

Senang rasanya bisa turut serta menyaksikan momen peletakan batu pertama pembangunan sekolah TKB Bandeng. Pembangunan infrastruktur TKB Bandeng sebagai salah satu CSR Wings Corporation di bawah Yayasan Wings Peduli Kasih. Rangkaian event ini semakin meriah dengan tampilnya para murid TKB Bandeng dengan musik marawisnya.

IMG_20160216_144057

Talkshow inspirasi dari Anton dan Danie yang interaktif dengan para audiens, yang kebanyakan anak-anak dan masyarakat sekitar, membuat suasana cair dan ide membangun mimpi dan ciita-cita anak mengena tanpa ada kesan menggurui. Hadir juga dr. Cinde Puspito, yang mengajak masyarakat dan anak-anak menjaga kebersihan bersama, terutama membiasakan mencuci tangan. Seperti hal sepele, tetapi dari mencuci tangan ini bisa berpengaruh pada perilaku hidup bersih serta kesehatan tubuh.

Luar biasa. Membantu dan menolong orang lain untuk meringankan beban hidup mereka menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. Yayasam Wings Peduli Kasih secara berkesinambungan telah memberikan bantuan pada pihak-pihak yang membutuhkan du seluruh Indonesia dari aspek kesehatan dan pendidikan. Bagi perusahaan, kegiatan CSR ini sangatlah penting dan telah menjadi penetapan pemerintah yang tertuang dalam undang-undang, termasuk dalam mempublikasikannya kepada masyarakat.

Mari kita saling membantu dan peduli kepada sesama makhluk Tuhan di bumi pertiwi.

Advertisements