Tags

, , ,

Kemajuan teknologi komunikasi beriringan dengan perubahan budaya bisnis. Apalagi di era MEA sekarang ini, dunia digital telah menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Indonesia dalam berusaha. Bagaimana dengan kondisi bisnis ecommerce di Indonesia?

Dunia Digital dan Bisnis Online

Saat ini, tiada yang tak mengenal internet. Kemajuan teknologi komunikasi telah menggiring masyarakat untuk berselancar di dunia maya atau internet, sehingga sudah menjadi bagian dari kehidupan di dunia nyata. Internet bukan lagi dunia asing yang hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi telah menjadi gaya hidup modern. Tidak ada sekat dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi sehingga memudahkan dalam saling kenal dan sapa di dunia maya. Dunia maya telah menjadikan jutaan orang di seluruh dunia terus menerus terkoneksi. Marshall McLuhan menyebutnya dengan β€œglobal village.”

Global village ini tersalurkan dalam beberapa media sosial seperti Facebook, Youtube dan Twitter. Fasilitas pada media sosial tersebut tidak hanya digunakan untuk saling berkenalan dan memberi informasi, tetapi dapat berkembang menjadi jaringan bisnis online. Bisnis online adalah pemasaran barang dan jasa yang dilakukan secara online.

Tidak mengherankan bahwa internet menjadi alat untuk melakukan dan mengelola bisnis, karena internet dianggap sebagai pasar yang potensial. Bisnis online dapat dijalankan oleh perorangan, organisasi/perusahaan baik secara paruh waktu atau fulltime, tergantung bagaimana seseorang akan menjalankan bisnis online tersebut, apakah hanya dijadikan usaha sampingan, atau usaha utama. Bisnis online dengan sistem kerjanya secara mesin dan otomatis, membuat sebuah sistem bekerja selama 24 jam tanpa henti.

Bisnis online ini dikenal dengan istilah E-Commerce atau Elektronic Commerce, yaitu perdagangan yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas elektronik (internet). Untuk membangun bisnis dengan E-Commerce dapat dilakukan dengan cara berbisnis online (berdagang secara online melalui internet) dan barang dagangan yang diperjualbelikan dapat berupa barang jadi dan jasa.

Peluang dan Tantangan Bisnis Ecommerce

Seiring dengan era globalisasi, pemerintah Indonesia telah memilih kebijakan dalam kerjasama Asean dengan membentuk Masyarakat Ekonomi Asean. Hal ini bisa menjadi sebuah motivasi untuk terus meningkatkan pembinaan masyarakat ekonomi yang mapan dan berkemajuan. Untuk itu, menjadi hal menarik ketika mengikuti diskusi bulanan Humas Bersama Forum Koperasi dan UKM (Forwakop), pada hari Selasa, 9 Februari 2016 di Auditorium Kementrian Koperasi dan UKM. Hadir sebagai narasumber, Wayan Dipta sebagai Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementrian Koperasi dan UKM, Kun Arif Cahyantoro sebagai pengamat E-Commerce ITB dan Fajrin Rasyid sebagai Co-Founder dan CFO Bukalapak.

Para UKM didorong untuk bisa bertransaksi e-commerce, karena proses pembiayaannya lebih murah. Ada tiga tantangan dalam bertransaksi e-commerce pada masyarakat ekonomi Indonesia menurut Wayan Dipta, Deputi Bidang Produksi dan Pemasarn Kementrian Koperasi dan UKM, yaitu:

1. Jaringan.

Jaringan ini bisa berupa networking maupun sinyal internet. Secara networking, para UKM bisa bergabung dengan marketplace atau distributor produk. Adapun secara jaringan sinyal internet, infrastruktur internet sangat dibutuhkan bagi para UKM yang tinggal di daerah-daerah.

2. Knowledge

Pengetahun tentang internet sangat penting. Ini agar masyarakat melek internet dan lancer menggunakannya. Bahasa, menjadi salah satu kendala dalam pengoperasian internet, karena banyak menggunakan bahasa Inggris.

3. Safety (keamanan).

Safety bisa dilihat pada peraturan pemerintah akan kebijakan bertransaksi ecommerce. Dukungan akan adanya peraturan atau undang-undang ITE sangat berguna pada proses berlangsungnya transaksi ecommerce, sehingga antara penjual dan pembeli ada kepercayaan.

Ketiga poin yang disebutkan oleh Pak Wayan sangatlah penting. Karena memang tidak semua masyarakat ekonomi Indonesia menguasai hal tersebut, dan di sanalah peran pentingnya pemerintah dalam pembinaan para UKM di berbagai daerah di Indonesai.

Data Indonesia

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan populasi digital terbesar di Asia Tenggara, dengan prosentase jumlah pengguna internet adalah 34% dan prosentase jumlah mobile subscriber adalah 125% dari jumlah populasi penduduk.

Ada tiga tren transaksi ecommerce pada masyarakat ekonomi Indonesia, menurut Pak Kun Arif Cahyantoro, yaitu:

1. Fokus pada pasar dalam negeri.

Indonesia adalah pasar retail terbesar sehingga menjadi incaran bagi pebisnis online dari luar negeri termasuk negara-negara di Asia Tenggara.

2. Target produk pasar pada kalangan muda.

Tren populasi Indonesia kalangan muda akan semakin membesar hingga tahun 2020 dan akan terus bertahan hingga tahun 2035.

3. Omni Channel (bukan Multi Channel).

Omni Channel

Peningkatan penggunaan data (internet) selain suara dan sms mengubah pola interaksi antar penjual dan pembeli.

4. M-Commerce (bukan e-Commerce)

Peningkatan penggunaan seluler sebagai alat transaksi mengubah sistem dan strategi jual beli yang mampu mendukung optimalisasi penggunaan seluler.

Keempat poin tren ecommerce Indonesia yang Pak Kun sebutkan di atas bisa menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri dalam membina masyarakat ecommerce yang potensial bagi para UKM. Pak Kun juga menyebutkan 4 poin lain sebagai tantangan ecommerce, yaitu budaya beli, system pembayaran, tingkat kepercayaan dan keamanan data.

Sangat menarik bila menyimak keempat hal yang disebutkan oleh Pak Kun akan tantangan ecommerce. Saya sendiri pernah melakukan transaksi ecommerce. Saya mensurvei produk yang saya inginkan ke berbagai toko online untuk membandingkan produk dan harga, kemudian proses transaksinya. Meskipun harganya murah, tetapi dalam proses transaksinnya meragukan, maka saya akan membatalkannya.

Untuk menjawab empat tantangan tersebut, Pak Kun menawarkan solusinya, yaitu menjamin kepercayaan dan keamanan penjual dan pembeli. Pak Kun juga menyebutkan bahwa dunia e-commerce akan berubah secara konsisten untuk mencapai keunggulan dalam ekosistem yang terus berkembang ini. Pemain e-commerce harus selalu berada di atas tren yang diperkirakan.

Perusahaan memang harus bisa mengikuti zaman agar tetap bertahan dan hidup, atau Paul Argenti menyebutnya sebagai perusahaan yang mengikuti perubahan lingkungan budaya. Di era digital sekarang ini, sudah banyak perusahaan beriklan dan memasarkan produknya di internet. Perkembangan digital ini juga menumbuhkan banyak para pengusaha baru yang kreatif dan inovatif. Salah satunya marketplace bukalapak.com.

Fajrin Rasyid, Co-Founder dan CFO Bukalapak memaparkan tentang peluang dan tantangan bisnis yang dihadapinya. Bagi pebisnis awal, biasanya yang menjadi tantangan adalah modal dan distribusi. Namun, dalam berbisnis online, hal tersebut dapat teratasi dengan mudah. Begitu pula dengan era MEA sekarang ini, tantangan tersebut sekaligus bisa menjadi peluang bagi masyarakat Indonesia.

Apalagi kalau menyimak pemaparan Pak Wayan dan suguhan data dari Pak Kun di atas, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia akan mampu unggul dalam kancah Masyarakat Ekonomi Asean, bila mampu mengatasi tantangan tersabut.

Untuk menjadi MEA yang unggul, kita harus bergotong royong dan bekerjasama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Sinergisitas antara masyarakat, para UKM, pebisnis marketplace, pemerintah dan semua pihak untuk pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan kreatif.

 

 

 

Advertisements