Tags

, , ,

Langit biru memayungi bumi Pandai Sikek. Seorang lelaki tua duduk di dinding pagar dengan memegang alat penyangga tubuh, memandangi workshop kerajinan kayu dari sebrang jalan. Dengan ramah menyapa kami yang sedang clingukan melihat-lihat kayu ukir yang sangat cantik.

IMG_20151205_121231

Pagi itu saya dan teman berjalan-jalan mengunjungi Pandai Sikek. Nagari yang diapit oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi ini memiliki pemandangan hijau yang menghampar. Nagari atau desa yang memiliki banyak potensi, hadir sebagai desa yang berkarya dengan melestarikan tradisi leluhur, seperti menenun dan mengukir kayu.

IMG_20151205_122652Palu dan bunyi para pengrajin kayu ukir menarik kami yang sedang menelusuri jalanan nagari yang asri ini. Di ujung jalan, kami berhenti dan melihat workshop ukiran kayu. Para pengrajin asik beraktivitas, tanpa merasa terganggu oleh kami yang berisik banyak bertanya.

Sapaan ramah kami dengar dari sebrang jalan, kami pun menghampiri bapak yang sedang duduk. Kami bertegur sapa dan berkenalan. Keadaannya yang sederhana dan rendah hati, membuat kami simpati dan hormat pada Bapak yang ternyata pemilik workshop kayu ukir yang telah kami sambangi.

Lestarikan Kayu Ukir Pandai Sikek

IMG_20151205_123306Chan Umar, namanya. Sosok yang berhasil mempertahankan tradisi mengukir kayu. Chan Umar memilih berkarya di daerahnya dengan mengukir kayu. Berbeda dengan kebiasaan para pemuda Sumatera Barat lainnya yang merantau selepas SMA, Chan Umar,  sejak umur 20 tahun, merintis membuat seni ukir kayu dan berbisnis dari hasil karya ukirnya.

Chan Umar, laki-laki 65 tahun, asyik mengamati bengkelnya dari seberang jalan. Terlihat di bengkelnya ada lima pengrajin lain sedang bekerja. Salah satunya ada yang tidak bisa mendengar atau tuli. Para pengrajin menggunakan berbagai perkakas seperti panokok dan pisau ukir. Mereka dengan lihai memahat dan mencongkel-congkel kayu itu hingga menjadi bentuk yang indah. Para pekerja memperlihatkan bagaimana teknik tingkat tinggi dan rumit ukir yang mampu menghasilkan karya nan menawan dan bernilai seni tinggi.

IMG_20151205_122640

Bengkel ukiran Chan Umar berdiri sejak tahun 1990 alias berumur sekitar 25 tahun. Dari bengkel ini berbagai jenis ukiran kayu dapat ditemukan, termasuk yang dipadukan dengan aneka perabot lain seperti tempat tidur, kursi, lemari, bahkan hiasan ukiran yang sering kita jumpai di bangunan-bangunan kantor pemerintahan Sumatera Barat.

Bengkel Chan Umar ini pernah mendapat bantuan dari Kementrian Perdagangan dan Perindustrian Pusat untuk pengembangan bisnis kayu ukiran. Kemitraan bengkel Chan Umar juga terjalin dengan berbagai instansi atau perusahaan yang ingin menghias kantornya dengan ukiran kayu. Namun, kebanyakan para peminat kayu ukiran dari kalangan perorangan, mereka datang sendiri ke Pandai Sikek dan menghubungi langsung ke bengkel.

Chan Umar mendapat banyak penghargaan, di antaranya penghargaan Semen Padang UKM Award 2012 dan piagam penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia atas keberhasilan melestarikan tradisi seni ukir kayu dan kesuksesan bisnisnya.

Ukiran kayu Pandai Sikek sudah terkenal hingga ke mancanegara. Kayu ukiran yang berbahan kayu surian ini dibuat oleh penduduk Pandai Sikek secara turun temurun dalam . Bahkan, ada cerita rakyat yang menyebutkan bahwa asal mula penamaan Pandai Sikek ini berasal dari nama si Ikek, seseorang yang sangat mahir mengukir kayu untuk rumah adat minang. Kepandaian mengukir si Ikek ini terus diwariskan kepada para penduduk, termasuk salah satunya Chan Umar.

Demikianlah, Pandai Sikek menjadi salah satu nagari (desa) di Sumatera Barat yang masih mempertahankan seni ukir tradisional. Nagari yang berhasil mengembangkan potensi warga menjadi UKM, berdiri dengan berkarya dan berdikari.

 

Advertisements