Tags

,

Coklat merupakan salah satu makanan atau minuman kesukaan saya. Rasanya yang manis dan unik membuat saya tidak menolak bila ada yang memberi coklat. Tak jarang saya sengaja membeli sebatang coklat untuk perbekalan di perjalanan ketika sedang jalan-jalan. Sekantong coklat bubuk pun pernah saya beli hanya demi untuk menikmati senja dengan secangkir coklat. Haish, niat banget ya, hehehe…

Bila sedang ke supermarket, saya sering melihat-lihat coklat tersebut dari harga dan merk. Rata-rata yang saya temukan coklat dengan berbagai merk multinasional, jarang dari brand yang berasal dari dalam negeri. Harganya pun tak semanis coklat, rata-rata mahal. Mungkin karena kebanyakan coklat yang ada di pasaran impor dari luar negeri.

Padahal, sewaktu kecil, saya pernah makan biji buah coklat dari kebun sendiri. Waktu itu orangtua saya pernah memiliki kebun yang di dalamnya terdapat beberapa pohon coklat. Saya pernah menikmatinya beberapa kali, tetapi karena satu dan lain hal, keluarga kami menjual kebun tersebut. Dari pengalaman tersebut, coklat tumbuh di bumi Indonesia. Kalau melihat brand coklat di pasaran, apakah masyarakat yang berkebun coklat tidak memproduksi coklatnya? Lalu, apakah coklat memang berasal dari tanaman Indonesia?

IMG_20151222_061934

Sejarah Coklat di Indonesia

Karena penasaran ingin tahu tentang coklat di Indonesia, saya mencari tahu di Mbah Google. Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, coklat masuk ke Indonesia pada ke-15 Masehi. Tepatnya, coklat diperkenalkan oleh orang-orang Spanyol ke Indonesia pada tahun 1560 di daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Coklat yang ditanam jenis Criollo, dari daerah Caracas, Venezuela.

Tahun 1806, tanaman coklat mulai masuk ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tahun 1859, sudah terdapat tanaman coklat di Ambon. Tahun 1938, sudah terdapat 29 perkebunan cokelta dengan distribusi 13 perkebunan di Jawa Barat, 7 perkebunan di Jawa Tengah, dan 9 perkebunan di Jawa Timur.

Adapun mengenai penjualannya, tahun 1825-1838, Indonesia telah mengekspor sebanyak 92 ton coklat dari Manado ke Manila. Tahun 1919, Indonesia masih mengekspor 30 ton coklat, tetapi tahun 1928, ekspor coklat berhenti.

Namun demikian, setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Indonesia produktivitas perkebunan coklat mengalami perkembangan. Tahun 1969-1970, produksi coklat satu ton dan berada pada peringkat ke-29 dunia. Tahun 1980-1981, meningkat menjadi 19 ton dan berada pada peringkat ke-16 dunia.

Pengelolaan Coklat

Perkebunan coklat Indonesia mengalami peningkatan pesat sejak awal tahun 1980. Indonesia menjadi negara penghasil coklat atau kakao terbesar ke-3 dunia setelah Pantai Gaidng dan Ghana. Areal perkebunan coklat Indonesia sejak tahun 2002 seluas 914.051 ha, yang sebagian besar dikelola oleh rakyat seluas 87,4%, perkebunan negara 6,0% dan perkebunan swasta 6,7%.

Ketika produktivitas perkebunan kakao tinggi, namun sayangnya tidak disertai oleh kebijakan pemerintah yang memihak para petani, termasuk petani kakao. Karenapemerintah menetapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% untuk setiap kakao yang dibeli oleh pabrik dalam negeri, dan sebaliknya apabila petani mengekspornya ke luar negeri tidak dikenakan PPN.

Tidak heran kalau saya tidak tahu atau jarang menemukan coklat buatan dalam negeri karena memang siapa pun petaninya akan memilih diekspor kalau kebijakannya seperti ini. Apalagi dengan penetapan peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2007, seluruh produk pertanian segar yang dihasilkan oleh petani dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen. Barang-barang yang dikenai PPN meliputi produk segar perkebunan holtikultura dan hasil hutan. Peraturan ini sudah diberlakukan sejak 22 Juli 2014. Adapun barang-barang itu meliputi produk perkebunan, yakni, kakao, kopi, kelapa sawit, biji mete, lada, biji pala, bunga pala, bunga cengkeh, getah karet, daun teh, daun tembakau, biji tanaman perkebunan dan sejenisnya.

Lahan area perkebunan rakyat secara kalkulasi memang luas, tetapi pada dasarnya pemiliknya banyak, rakyat Indonesia. Jadi, pada dasarnya mereka memiliki lahan yang sempit. Tentunya pasti berbeda dengan perusahaan swasta atau negara yang areanya luas.

Ketika memiliki kebun yang ada pohon coklatnya, kami biasa langsung memakannya. Ada yang manis, asam dan pahit. Memang berbeda dengan memakan coklat yang sudah diproduksi dan berbentuk kemasan. Semoga para petani Indonesia semakin sukses dan berkah, serta ada rakyat Indonesia yang bisa menghasilkan coklat dan mengekspornya dalam bentuk pengolahan. Aamiin

Advertisements