Tags

, ,

Ketika membeli suatu barang, seringkali saya tidak memedulikan daur ulangnya, baik pada kemasan maupun isi ulangnya. Menggunakan produk-produk dengan berbagai kemasan seringnya saya buang tanpa memisahkan jenis sampah tersebut. Belum lagi dalam keseharian yang masih boros dalam menggunakan tisu, padahal secara jelas bahwa tisu tersebut berasal dari pohon.

Hutan Indonesia

Saya sangat miris ketika mendengar berita atas putusan hakim pengadilan tinggi Palembang yang memenangkan perusahaan yang diduga sebagai terdakwa pembakaran hutan. Saya melihat bahwa kebakaran hutan pada musim kemarau kemaren menjadi cerminan bahwa hutan sangat penting bagi kehidupan kita, manusia.

wpid-imag0380.jpg

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan terluas di dunia menjadi soroton dunia karena paru-paru oksigen berada di wilayah hutan Indonesia. Namun sayang, karena berlimpahnya hutan sehingga pemanfaatannya menjadi eksploitasi, yang lebih banyak menumbangkan pohon atau membakar hutan daripada menanam pohon atau memelihara hutan.

Peran perusahaan, pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam keseimbangan alam dan kesinambungan hutan Indonesia. Bila memikirkan produk dan barang, maka para pengusaha itu seperti tidak memikirkan hari esok atau masa depan, hanya mengeksploitasi dan memanfaatkannya tanpa memikirkan untuk memelihara hutan. Hutan rimbun oleh pepohonan banyak yang sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan sawit dan pengkaplingan pohon untuk produk pertanian tertentu.

wpid-img_20150829_082900.jpg

Kasus asap dan kebakaran hutan menjadi contoh nyata bahwa tidak adanya kesadaran dari masyarakat dan pemerintahan dalam memelihara alam. Karena bila memiliki keteraturan dan standarisasi dalam pengelolaan hutan, para pengusaha yang notabene bisa saja tidak memedulikan alam akan berbuat semena-mena, toh karena dia sendiri bisa saja bukan warga negara Indonesia, ataupun sekalipun warga negara Indonesia, tidak adanya kecintaan akan negeri dan bisa saja dia sendiri tidak tinggal di Indonesia.

Banyak kecurigaan yang memang terjadi pada para pengusaha tersebut, tetapi terlepas dari hal demikian, maka peran pemerintah dan masyarakat Indonesia sangat penting sehingga perilaku para pengusaha pun tidak semena-mena pada hutan Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya hutan pada masyarakat sangatlah penting. Bagi masyarakat yang menjunjung tradisi dan budaya leluhur, biasanya telah memiliki aturan tersendiri dalam memelihara hutan. Tetapi, tidak jarang masih banyak masyarakat sekarang yang sudah tidak memiliki kesadaran akan pentingnya hutan dan air. Wujud kurangnya kesadaran ini bisa terlihat dari banyaknya sampah di gunung dan pantai. Belum lagi dengan pemborosan penggunaan air dan pemanfaatannya.

Gugatan pemerintah melalui instansi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada perusahaan yang diduga secara lalai membuat hutan terbakar, merupakan upaya dalam menegakkan kepatuhan dalam memelihara hutan. Meskipun putusan hakim yang sangat jauh panggang dari api, pemerintah harus tetap maju dalam menegakkan dan menjalankan UUD 1945.

Upaya banding KLHK sangat saya dukung, karena bahaya dari perbuatan pembakaran hutan selain merusak alam, juga membahayakan manusia. Bukan hanya hal ini, ternyata Kementrian LHK juga sudah membuat dan merancang standarisasi KLHK secara keseluruhan.

Standarisasi KLHK

Beberapa bulan lalu, Rabu-Kamis, 11-12 November 2015, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan seminar dan workshop nasional standar dalam konsumsi dan produksi berkelanjutan (SPC) dan tujuan pengembangan berkelanjutan (SDGS).

Acara yang bertempat di Hotel Millenium ini sebagai peringatan Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional. Selama ini pemerintah telah mengembangkan program standarisasi kehutanan dan ekolabel sebagai perangkat lingkungan yang bersifat proaktif sukarela.

Saya melihat adanya upaya pemerintah dalam mensosialisasikan  Standar KLHK yang selama ini telah pemerintah lakukan. Saya sendiri baru memahami dalam menggunakan suatu barang atau menikmati fasilitas umum karena seringkali tidak memerhatikan standarisasinya. Dari mulai penggunaan produk yang ramah lingkungan, fasilitas tata ruang kota, sampai pengolahan hasil hutan dan pengelolaan hutan.

Salah satu upaya pemerintah dengan bekerjasama dengan para pengusaha dalam pembuatan produk yang ekolabel. Saya permah mendengar produk yang mencantumkan klaim lingkungan berupa simbol ataupun pernyataan pada kemasan atau produk sebagai ramah lingkungan. Sebagai konsumen, ternyata kita juga harus mengetahui bahwa pengklaiman lingkungan tersebut harus sesuai dengan standarisasi lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut sudah diatur oleh Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan pasa 34 ayat (3) huruf g mengenai pengembangan sistem label ramah lingkungan.

Sistem label ramah lingkungan sering disebutkan dengan ekolabel, yang merupakan label lingkungan, pernyataan yang menunjukkan aspek lingkungan dalam suatu produk atau jasa. Ekolabel sendiri sebagai program yang dikembangkan dalam upaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan dari sisi produksi dan konsumsi suatu produk. Dalam penerapan Ekolabel berdasarkan rujukan penerapan ISO 14020, ISO 14021, ISO 14024 dan ISO 14025.

Berbicara Ekolabel, maka akan mengenal berbagai ekolabel yang tersemat pada kemasan produk. Ada tiga tipe ekolabel yang telah dikembangkan oleh Internasional Organisation for Standarisation (ISO), yaitu:
Ekolabel Tipe I : Multikriteria, seperti sukarela, berbasis multikriteria dengan proses evaluasi oleh pihak ketiga.
Ekolabel Tipe II : Klaim lingkungan swadeklarasi.
Ekolabel Tipe III : Informasi aspek lingkungan pada produk secara kuantitatif.

Secara spesifik, klaim lingkungan swadeklarasi meliputi tahapan produk yang dapat dibuat kompos (compostable), dapat terurai (degradable), dirancang untuk dapat diurai (design for disassembly), perpanjangan umur produk (extended life product), energi yang dipulihkan (recovered energy), dapat didaur ulang (recyclable), kandungan hasil daur ulang (recycled content), pengurangan konsumsi energi (reduced energy consumption), pengurangan penggunaan sumberdaya (reduced resource use), pengurangan pemakaian air (reduced water consumption), dapat digunakan kembali dan dapat diisi ulang (reusable and refillable) dan pengurangan limbah (waste reduction).

Demikianlah, tanggung jawab dalam memelihara Lingkungan dan hutan berada pada tangan kita sendiri, tentunya dengan lingkup masyarakat, perusahaan dan pemerintah. Sebagai rakyat dan warga negara, tanggung jawab hutan dan Lingkungan berada pada diri saya sendiri. Maka, memulai dari diri sendiri sebagai refleksi dalam memelihara hutan dan lingkungan. Sinergi pada elemen tersebut semoga akan menjadikan masyarakat negara kita bersih, segar dan sehat.

Advertisements