Tags

, , , , , ,

Petani sejahtera, tentu harapan setiap para petani. Saat ini, petani merupakan profesi yang kurang peminatnya. Banyak generasi muda yang memilih merantau daripada menekuni tradisi bercocok tanam di pedesaan. Hal tersebut tidak lebih dari kondisi petani di pedesaan yang masih terbelenggu dengan berbagai masalah, mulai dari permasalahan penyediaan sarana produksi pertanian, budidaya, pascapanen, pengolahan hasil hingga pada persoalan pemasaran.

Belum lagi dengan penandaan bahwa petani berada pada level rendah pekerjaan. Pernah dalam suatu pelatihan, sang mentor mewantikan jangan sampai anak cucu kita menjadi petani. Sangat miris, ketika profesi petani dianggap sebagai pekerjaan yang paling rendah padahal mereka yang telah memproduksi bahan pangan kita selama ini. Bila pemahaman tersebut terus berulang-ulang, jangan heran bila tidak ada generasi muda yang memilih profesi sebagai petani.

image

Ketika harga barang-barang pangan dan perkebunan meninggi, para petanilah yang menjadi sasaran sekaligus tumpuan dalam pemenuhan kebutuhan makanan kita sehari-hari. Namun sangat ironis ketika kita sering mendengar pemberitaan impor pertanian oleh pemerintah sebagai solusi tanpa dengan serius memerhatikan pertanian dari hulu ke sampai ke hilir sebagai sumber swadaya pangan, sedangkan negara kita terkenal negara yang subur dan agraris, ternyata mengimpor barang produksi pertanian dari luar negeri.

Ada peran para petani dalam pemenuhan kebutuhan kita. Kesadaran pentingnya kestabilan bahan pangan, hendaknya beriringan dengan kesadaran nasib ekonomi para petani. Petani sejahtera akan membawa profesi petani menjadi pekerjaan yang digemari dan diinginkan oleh masyarakat.

image

Untuk kesejahteraan para petani, pemerintah mendukung penyediaan sarana prasarana, infrastruktur, bantuan pembiayaan dan pemberdayaan petani di pedesaan. Akan tetapi, program dan proyek tersebut ternyata belum mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian petani di pedesaan saat ini yang masih terbelenggu dengan berbagai masalah.

Petani Bermitra

Pertanian membutuhkan kebersamaan petani untuk saling melengkapi kebutuhan kelompok tani sebagai pemerataan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya tanaman sehat dengan hasil panen untuk kemakmuran bersama.

image

Senin, 14 Desember 2015, Bambang, memaparkan dengan gamblang keadaan para petani. Dengan pengalaman dan penyajian data penelitian, secara komprehensif beliau menjelaskan permasalahan dan solusi bagi para petani dalam meningkatkan taraf hidup perekonomiannya.

Para petani Indonesia rata-rata mengembangkan pola bertani campuran (multiple cropping). Misalnya, seorang petani kakao di samping mengusahakan kakao sebagai komoditi utamanya, biasanya juga memiliki sawah, membudidayakan tanaman hortikultura, mengusahakan tanaman perkebunan lainnya dan memelihara ternak.

image

Oleh karena itu, pelaksanaan pembinaan kelembagaan petani diperlukan perubahan paradigma baru melalui restrukturisasi kelembagaan petani, sehingga tidak hanya untuk kepentingan pelaksanaan program kementrian tertentu melainkan kelembagaan petani yang kuat dan mampu mensinergikan berbagai program dan kegiatan dari berbagai lembaga menjadi pemersatu seluruh warga desa, mengelola potensi sumber daya serta menyatukan gerak ekonomi dan tata kehidupan petani di setiap desa.

Capaian produksi dan produktivitas yang masih jauh di bawah standar potensial, serangan pengganggu tanaman yang tidak kunjung teratasi, rendahnya mutu hasil dan harga sangat ditentukan oleh pembeli.

Para petani masih minim wawasan dan pengetahuan manajemen produksi ataupun jaringan pemasaran. Belum lagi dengan masih kurangnya prioritas terhadap pembinaan SDM petani dan aparat pembinanya. Mereka masih berfokus pada produksi dan belum terlibat pada kegiatan agrabisnis.

Kerjasama para pelaku dalam sektor pertanian dengan kuantitas tenaga kerja, faktor produksi dan pengetahuan lokal. Kerjasama antara perusahaan besar dan petani melalui kemitraan dalam mengembangkan pertanian dapat meningkatkan efisiensi sekaligus kesempatan berusaha dan pendapatan.

image

Dalam rangka menjalin kemitraan usaha dan produksi antara petani dengan pihak perusahaan, diperlukan kelembagaan petani yang kuat dan produktif sehingga para petani sejahtera. Dalam kemitraan tersebut, tentunya pihak mitra mengharapkan hasil tani yang berkualitas.

image

Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) merupakan salah satu kelembagaan petani yang diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan menuju petani Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Pasal 69 bahwa pembentukan kelembagaan dilaksanakan dengan perpaduan dari budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal petani.
image

Sebagai implementasi, LEM hadir untuk mensinergikan para petani dengan peningkatan produksi yang sehat secara kualitas, kuantitas dan kesinambungan, sehingga diharapkan dapat menyejahterakan para petani.

Advertisements