Tags

, ,

Ketika sedang tertimpa sakit, seringkali kita mendapat banyak saran pengobatan. Dari mulai herbal sampai ke berbagai obat tablet. Saya sendiri mengalami sakit tenggorokan atau bersin-bersin, sebagai awal gejala flu, maka saudara langsung menawarkan obat bermerek untuk menyembuhkannya. Karena khawatir virusnya akan menular, saya menyetujui saja untuk minum obat yang ditawarkan oleh saudara tanpa melihat mereknya, dan hanya berdasarkan testimoni saudara yang sudah meminumnya. Obat-obat tersebut kadang asing dari merek obat yang biasa saya dengar, dan memang obat tersebut dari resep dokter saat saudara memeriksa sakitnya. Apakah benar yang selama ini saya lakukan, meminum obat dari pemberian saudara atau orang lain tanpa resep dokter?

image

Sosialisasi Gema Cermat

Jum’at, 17 November 2015, saya berkesempatan mengikuti sosialisasi pencanangan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) pada stakeholder. Sebelumnya saya pernah juga mengikuti talkshow Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) pada Pameran Kesehatan di JIExpo Kemayoran yang tulisannya ada di sini, kali ini sosialisasi dilakukan di gedung Prof. Dr. Sujudi, Kementrian Kesehatan.

Gema Cermat bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pentingnya menggunakan obat secara benar dan tepat, demikian kata Ibu Muara Linda Sitanggang, Dirjen Binfar dan Alkes, pada saat pembukaan acara.

Kesadaran akan cerdas menggunakan obat sebagai titik tolak menuju masyarakat sehat dan sejahtera. Ada kekhawatiran akan masyarakat sekarang ini belum paham tentang penggunaan obat, termasuk obat antibiotik.

Seringkali saya mendengar adanya penggunaan obat antibiotik untuk segala jenis sakit, termasuk batuk, flu, muntah dan diare. Ternyata tidak, untuk sakit flu, batuk, muntah dan diare tidak memerlukan obat antibiotik. Bahkan, bila kita menelusuri lagi, banyak proses penyembuhan yang tidak harus menggunakan obat antibioimage

tik

.

Gunakan obat antibiotik dengan bijak, demikian pesan Ibu Nila Djuwita Farid Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat sambutan sekaligus pembukaan sosialisasi pencanangan GEMA CERMAT.

Berlanjut dengan talkshow, dengan Bapak Hary Paraton yang membahas tentang obat antibiotik. Gunakan antibiotik dengan tepat, dan membelinya hanya dengan resep dokter.

Acara yang diikuti oleh para steakholder, dari pelajar pramuka, kader Posyandu, blogger dan masyarakat mendapat tugas menjadi agen perubahan menuju gerakan masyarakat cerdas gunakan obat. Ini memang sangat penting dan berguna untuk mengetahui produk obat, termasuk komposisi dan indikasinya. Steakholder adalah kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu, yang mana dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi.  Mereka diajarkan langsung dengan dibimbing oleh pihak Kementrian Kesehatan dalam pemahaman obat.bimage

Cara Belajar Insan Aktif (CBIA)

Untuk agen perubahan dalam Gerakan Masyarakat Cerdas Gunakan Obat, Kementrian Kesehatan menggunakan metode Community Based Interaktive Approach Method atau Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). Model metode ini dikembangkan oleh Prof. Dr. Sri Suryawati dari Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat Universitas Gajah Mada pada tahun 1992 pada para ibu.

Steakholder yang hadir dikelompokkan dengan satu kelompok terdiri dari 6-8 orang. Setiap anggota kelompok kecil ini diberi obat beserta kemasannya, setelah itu mereka diberi tugas untuk membaca, mengamati dan mencatat obat dari indikasi, komposisi dan aturan pakainya. Setelah itu, setiap anggota mempresentasikan hasil temuan pada obatnya, kemudian mendiskusikan dan merangkumnya.

Kelompok kecil ini dibantu oleh tutor, sehingga diskusi dan tujuan pemahaman obat tepat sasaran. Model diskusi ini bisa dilakukan dalam kelompok pengajian atau arisan. Iya, ketika kita membaca sendiri kemasan obat yang akan kita minum dan mengetahui kandungannya, sebenarnya kita sadar atas asupan yang masuk pada tubuh kita. Awarness akan asupan kandungan obat ini yang memang penting dalam menjaga kesehatan berkelanjutan.

Metode CBIA mengarahkan pada proses belajar aktif dan interaktif berbasis komunitas. Untuk standar efektivitas diskusi dapat dilihat pada pra-test dan post-test. Dengan metode CBIA, diharapkan tidak ada lagi pengobatan sendiri yang asal-asalan tanpa berdasarkan pengetahuan tentang seputar obat.

Hal-hal yang harus diperhatikan saat minum obat dan cara penggunaannya yang saya sarikan pada buku saku Cara Penggunaan Obat, dari Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, sebagai berikut:

Komposisi

Komposisi sebagai informasi tentang zat aktif yang terkandung di dalam sediaan obat. Komposisi ini tertera pada kemasan obat, yang mana komposisi tersebut berupa a) Zat tunggal. Contohnya parasetamol dan vitamin C. b) Kombinasi dari berbagai macam zat aktif dan bahan tambahan lain. Contohnya multivitamin, mineral dan obat flu (fenilpropanolamin+klorfeniramin maleat+parasetamol+silsilamid).

Indikasi

Indikasi merupakan informasi mengenai khasiat obat. Misalnya, parasetamol yang memiliki indikasi/khasiat sebagai penurun panas dan penghilang rasa sakit.

Aturan Pakai

Aturan pakai sebagai inforamsi mengenai cara penggunaan obat, yang meliputi waktu dan berapa kali obat tersebut digunakan dalam sehari. Misalnya, 2×1 tablet/kapsul/sendok takar (setiap 12 jam) atau 3×1 tablet/kapsul/sendok takar (setiap 8 jam).

Waktu Minum Obat

Obat harus diminum sesuai dengan waktu terapi terbaik, di antaranya:

  • Contoh, vitamin dan diuretic.
  • Contoh, antikolesterol (simvastatin) dan anticemas (alprazolam).
  • Sebelum makan. Contoh, obat maag (antasida) dan obat anti mual diminum ½-1 jam sebelum makan.
  • Bersama dengan makanan. Contoh, obat diabetes (glimepiride).
  • Sesudah makan. Contoh, obat penghilang rasa sakit (asam mefenamat) bisa segera setelah makan samapai dengan ½-1 jam sesudah makan.

Obat yang harus diperhatikan, di antaranya:

  • Obat diminum sampai habis, contoh antibiotic.
  • Obat diminum jika perlu, contoh obat penurun panas.
  • Obat dikunyah terlebih dahulu, contoh tablet kunyah antasida.
  • Obat ditaruh di bawah lidah, contoh obat jantung (ISDN)
  • Obat dikocok dahulu, contoh suspense (antasida/obat maag).
  • Obat dalam bentuk tablet/kapsul diminum dengan air putih.
  • Obat tertentu dapat dipengaruhi oleh makanan/minuman. Contoh: kaptopril (diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan), antasida (diminum di antara waktu makan), anti muntah (diminum 1 jam sebelum makan), akarbosa (diminum pada suapan pertama), griseofulvin (diminum bersama makanan berlemak), dan tetrasiklin (tidak boleh diminum bersama susu).
  • Obat tertentu dapat memengaruhi kerja obat lain, sehingga tidak boleh diberikan bersamaan. Contoh, simetidin dengan antibiotik.

Efek Samping Obat

Efek obat yang merugikan dan tidak diharapkan yang terjadi karena penggunaann obat pada dosis yang dianjurkan. Contoh, parasetamol memiliki indikasi/khasiat sebagai penurunan panas dan penghilang rasa sakit.

Kontra Indikasi

Kondisi tertentu yang menyebabkan penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan atau dilarang, karena dapat meningkatkan resiko terhadap pasien. Conoh, penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat tidak boleh minum parasetamol, ibu hamil dan menyusui tidak boleh minum obat cacing, penderita dengan gangguan jantung dan ginjal.

Dengan demikian, pengobatan sendiri bisa dilakukan oleh masyarakat asalkan memiliki pengetahuan dan informasi tentang obat, sehingga pengobatan pun dapat dilakukan dengan benar dan tepat. Saya sendiri setelah mengikuti event per event yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan tentang obat, menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan obat dan tidak lagi langsung minum obat ketika flu, batuk, muntah atau diare.

 

Advertisements