Tags

,

Tak ada yang menginginkan sakit, tetapi bila sakit sudah hadir, maka kita harus menerima dan mengobatinya. Salah satu cara untuk menyembuhkan sakit adalah minum obat. Namun, dalam pengobatan ini kita harus cerdas dalam memilih obat. Jangan sampai salah dalam penggunaan obat. Yuk, cerdas gunakan obat!

Beberapa bulan lalu masyarakat kita digegerkan oleh berita kematian karena kesalahan obat. Berita yang menjadi cambuk bagi kita sebagai masyarakat untuk cerdas dalam memilih obat. Obat yang ditawarkan tidak serta merta kita terima, hendaknya kita melihat dan mengetahui obat tersebut dan isi kandungannya.

Masa sehat kadang dilupakan, ketika badan terasa ada yang sakit, maka berusaha untuk menyembuhkannya dan betapa terasa pentingnya sehat. Hidup sehat dengan berusaha untuk berlaku pola hidup sehat. Tetapi tetap saja kalau stamina tubuh sedang kurang fit, maka mudah terkena virus dan sakit. Dan terkadang, melenceng juga mengikuti keinginan, hehehe…

Saya sendiri seringnya sakit tenggorokan, flu, diare atau muntah. Biasanya kalau sakit tenggorokan saya memperbanyak air putih, kalau sakit flu akan memperbanyak makan jeruk, kalau diare akan lebih berhati-hati dalam makan dan minum. Begitu pula dengan muntah, karena biasanya ada makanan yang tidak cocok dengan tubuh. Tapi benarkah demikian? Selama ini sih baik-baik saja, tetapi saya juga ingin berlaku hidup sehat dan mengetahui penerapan minum obat yang sehat.

Cerdas Gunakan Obat

Sabtu, 14 November 2015, bertempat di JI Expo Kemayoran, Jakarta, saya jalan-jalan ke Pameran Pembangunan yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan. Pada pameran tersebut, ada talkshow dengan tema, cerdas gunakan obat agar selamat. Hadir para pembicara, dr. Purnamawati Sujud, SpA (K), MMPED dan Dra. Azizahwati, M.S., Apt.

Seakan menjawab keingintahuan saya, dr. Pur membahas sakit yang kadang saya alami, yaitu batuk, pilek, diare tanpa darah dan muntah. Penyakit tersebut sebagai proses reaksi tubuh karena adanya virus. Karena batuk dan pilek merupakan cara tubuh dalam melindungi paru-paru dari menumpuknya lendir. Adapun diare dan muntah merupakan cara tubuh dalam membuang zat-zat beracun dalam perut.

Cermat Berobat
Adapun untuk pengobatan sakit batuk, pilek, diare dan muntah adalah istirahat yang cukup, banyak minum air putih, minum parasetamol kalau demam atau sakit kepala, matikan AC dan tidak mesti minum obat antibiotik. Antibiotik tidak bisa menyembuhkan semua penyakit infeksi.

Sakit batuk, pilek, diare tanpa darah dan muntah akan sembuh sendiri. Namun pada masa penyembuhan ini jangan sampai menulari orang lain. Supaya orang lain tidak ikut sakit, maka kita harus cuci tangan dengan benar, menggunakan air dan sabun selama 15 detik, menggunakan masker ketika sedang batuk pilek, dan menutup mulut ketika sedang batuk atau bersin.

Hal tersebut seperti sepele, tetapi sangat penting agar tidak menulari orang lain. Sekalipun sedang sakit yang membutuhkan obat antibiotaki, kita harus mencari informasi tentang obat tersebut pada orang yang terpercaya, bertanya pada dokter dengan bahasa medis, membeli obat dengan resep dokter, jangan berbagi antibiotik dengan orang lain dan sadari bahwa antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri bukan mencegah.

Berbagi obat ini yang sering kami lakukan dengan saudara atau teman. Hal tersebut seperti harus kami hentikan, karena ternyata setiap orang memiliki antibody tersendiri, cara pengobatannya berbeda, termasuk dosi obatnya yang beda.

Cerdas Gunakan Obat
Pembicara berikutnya, Bu Azizah, yang membahas tentang obat. Dalam pengenalan obat ini, peserta talkshow langsung diajak games tentang pengenalan obat. Sangat seru dan berwawasan.

Pengenalan obat ini bermula dengan membedakan obat paten, obat generik dan obat bermerk. Pertama, obat paten. Saya sering mendengar obat paten ini di keluarga dan teman lingkungan sekitar. Ketika bicara obat paten, maka akan terbayangkan obatnya langsung tokcer dapat menyembuhkan. Ternyata bukan, obat paten itu obat yang masih memiliki hak paten dan hanya diproduksi oleh produsen pemegang hak paten. Setelah masa paten selesai, obbat tersebut dapat diproduksi oleh produsen lain sebagai obat generik dan obat bermerk.

Kedua, obat generik. Obat ini ditetapkan dalam Farmakope Indonesia (FI) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya, seperti prasetamol dan amoxilin. Obat ini harganya murah sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat dengna mutu dan khasiat yang sama dengan obat bermerk. Ketiga, obat bermerk. Obat yang diedarkan menggunakan nama dagang dari produsen obat tersebut.

Bentuk obat sendiri ada yang cair, setengah padat dan padat. Bentuk obat cair bisa berupa suntikan, infus, injeksi, obat tetes, dan sirup. Salah satu obat yang berbentuk cair adalah jamu. Jamu adalah istilah minuman obat khas Indonesia. Kalau sekarang, kita mengenal dengan istilah jus herbal atau minuman herbal. Dalam pembuatannya pun kita harus tahu takaran dan ukurannya sehingga sesuai dengan pengobatan atau pencegahan yang sedang kita lakukan.

Saya sendiri suka membeli jamu, tetapi ke tempat atau penjual jamu yang sudah dipercaya. Karena ada juga penjual jamu yang hanya menjual saja, tanpa memerhatikan fungsi jamu sebagai pencegah dan pengobat tubuh. Jamu merupakan minuman herbal khas Indonesia. Tradisi meminum jamu sudah ada sejak jaman dulu, dan bukti manfaatnya pun sudah banyak yang merasakannya.

Adapun bentuk obat setengah padat, seperti salep, krim dan gel. Biasanya digunakan sebagai obat luar. Sedangkan obat padat, seperti tablet, kapsul, serbuk, suppositoria. Jenis obat sendiri ada yang obat dalam dan obat luar.

Dalam memilih obat, Departemen Kesehatan sudah menetapkan standarisasinya. Ini dapat dilihat pada penandaan obat tersebut, yang ditandai dengan beberapa warna sebagai ciri dari obat tersebut.
1. Hijau. Bila menemukan obat yang dibungkusnya ada bulatan hijau dengan tepian hitam, maka itu termasuk obat bebas. Obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat tersebut seperti parasetamol, vitmin dan mineral.
2. Biru. Kemasann obat yang diberi tanda lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam dan kotak berwarna hitam berisi pemberitahuan berwarna putih. Kemasan pada obat tersebut masuk pada kategori obat keras yang masih dapat dibeli bebas tanpa resep dokter. Namun, penggunaannya harus memperhatikan informasi obat pada kemasan.
3. Merah. Berlingkaran merah dengan huruf K, yang sekelilingnya dibatasi warna hitam. Model dengan lingkaran seperti ini termasuk pada kategori obat keras dan Psikotropika. Obat yang harus menggunakan resep dokter. Contoh obat keras, Amoksilin, Kaptopril, Piroksikam, dan Deksametason. Adapun yang termasuk obat psikotropika, obat yang memengaruhi susunan syaraf pusat dan dapat menyebabkan perubahan mental dan perilaku, di antara obatnya Diazepam, Fenobarbital, dann Klorpromazin.
4. Putih. Kemasan obatnya ada yang berlingkaran putih dengan berpalang merah, serta sekeliling lingkaran dengan garis warna merah. Obat ini dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan menimbulkan ketergantungan yang hanya dapat dibeli dengan resep obat. Contoh obatnya, Kodein, Petidin dan morfin.

Mengetahui hal tersebut menjadikan saya tersadar, bahwa selama ini bila membeli obat ke apotik atau ke warung, seringkali mengabaikan hal-hal yang demikian. Padahal itu penting untuk asupan tubuh kita dalam proses penyembuhan ketika sakit. Warna-warna lingkaran dan tulisan pada kemasan merupakan petunjuk saat kita menggunakannya.

Penggunaan Obat yang Aman

Penggunaan obat yang aman adalah dengan memerhatikan komposisi, indikasi, dan aturan pakai. Komposisi, mengetahui zat aktif yang terkandung dalam obat, dari zat tunggal dan kombinasi berbagai macam zat. Adapun indikasi, mengetahui mengenai khasiat obat. Begitu pula dalam aturan pakai, kita harus mengetahui cara penggunaan obat.

Di antara cara makan obat, yaitu obat diminum sampai habis seperti obat antibiotik, obat diminum jika perlu seperti obat penurun panas, obat dikunyah terlebih dahulu seperti tablet kunyah antasida, obat ditaruh di bawah lidah seperti obat jantung, obat dikocok dahulu seperti suspensi (obat maag) dan obat dalam bentuk tablet/kapsul diminum dengan air putih. Lalu, bagaimana dengan penyimpanan obat?

Penyimpanan Obat
Di rumah, saya memiliki tempat khusus obat. Kami memisahkan antara obat resep dokter dan obat bermerk. Hal tersebut untuk memudahkan dalam mengambil dan meminum obat. Ternyata, memerhatikan penimpanan obat di rumah sangat penting. Hal ini agar obat tidak mudah rusak dan mengetahui waktu kadaluarsa obat. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimpan obat menurut Kementrian Kesehatan sebagai berikut:
– Simpan di tempat sejuk, kering dan terhindar dari sinar matahari langsung. Untuk obat tertentu perlu disimpan dalam lemari pendingin, seperti obat wasir.
– Jauhkan da jangkauan anak-anak.
– Simpan dalam kemasan aslinya dan dalam wadah tertutup rapat. Jangan pernah mengganti kemasan botol ke botol lain.
– Jangan mencampur obat tablet dan kapsul dalam satu wadah.
– Jangan menyimpan kapsul atau tablet di tempat panas atau lembab karena dapat menyebabkan obat tersebut rusak.
– Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat.
– Hindarkan agar obat dalam bentuk cair menjadi beku.
– Jangan tinggalkan obat di dalam mobilpada jangka waktu lama karena perubahan suhu dapat merusak obat tersebut.
– Pisahkan penyimpanan obat dalam dan obat luar.

Hal yang luar biasa dapat mengetahui kriteria obat dan penggunaannya. Sebagai orang awam, informasi tersebut sangat penting. Saya menjadi paham dan sadar tentang penggunaan obat secara benar. Untuk selanjutnya, secara bertahap dan berproses, dimulai dari saya sendiri, kemudian keluarga mengubah perilaku dalam memilih, mendapatkan, menggunakan, dan menyimpan obat secara benar.

Acara yang dimoderatori oleh Mira Sahid, pendiri komunitas Kumpulan Emak-emak Blogger sangat interaktif. Banyak games dan pertanyaan antusias yang menanyakan tentang obat dan penggunaannya. Saya pun mengetahui banyak hal tentang obat setelah mengikuti acara talkshow Cerdas Gunakan Obat. Hal yang bermanfaat dalam aktivitas sosialisasi Gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (Gema Cermat) sebagai gerakan yang diusung oleh Kementrian Kesehatan dalam mensosialisasikan pemahaman masyarakat akan penggunaan obat.

Pameran yang berlangsung sejak tanggal 13 sampai 15 November 2015 membuat saya mengenal berbagai hal tentang kesehatan. Bukan hanya itu, saya dapat banyak informasi kesehatan dari setiap stand. Bahkan, saya bisa mengikuti berbagai tes kesehatan dan tes olahraga. Ada banyak games kesehatan dan hadiah. Sangat seru dan menyenangkan berada di Pameran Pembangunan Kesehatan. Dan informasi yang disampaikan sangat berguna bagi kami. Maka, mari kita menjaga kesehatan dan menggunakan obat sesuai dengan yang disarankan oleh Kementrian Kesehatan. Yuk, cerdas gunakan obat!

*Referensi: Buku Saku Informasi Obat, Kementrian Kesehatan, 2014.

Advertisements