Tags

,

Keerom, nama sebuah wilayah yang berada di daerah perbatasan Papua dengan Papua New Guinea. Saya sendiri baru mendengar atau membaca nama wilayah perbatasan ini sebelum menghadiri Border Invesment Summit, yang diadakan oleh Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

image

Wilayah ini rata-rata dihuni oleh para transmigran, demikian kata Ria, perempuan cantik yang berasal dari Sumatera Utara. Sudah dua tahun dia dan suaminya tinggal di Keerom. Mengadu nasib untuk mencari rezeki di wilayah perbatasan. Meskipun demikian, Ria secara gamblang dapat menjelaskan letak geografis Keerom dan menjawab pertanyaan saya kenapa Keerom masuk ke wilayah daerah perbatasan, dan apa potensi serta hambatannya?

 

Secara geografis, Keerom dekat dengan Kabupaten Jayapura. Secara detailnya, Mbak Ria menunjukkan peta bahwa secara adiministratif batas wilayah, Kabupaten Keerom berbatasan sebelah utara dengan Kota Jayapura, sebelah selatan dengan Kabupaten Tolikora, sebelah Barat dengan Kabupaten Jayapura dan sebelah timur dengan negara Papua New Geniea.

image

Kabupaten Keerom yang letaknya sangat dekat dengan Jayapura merupakan wilayah pemekaran dari Jayapura. Berdasarkan undang-undang Nomor 26 Tahun 2002, bahwa Kabupaten Keerom merupakan kabupaten baru hasil pemekaran. Luas wilayahnya mencapai 9.365 kilometer persegi. Ada 7 distrik yang masuk wilayah Kabupaten Keerom, yaitu Arso, Waris, Senggi, Skanto, Web, Arso Timur dan Towe.

Keerom memiliki banyak potensi, seperti pertanian yang menghasilkan padi, perkebunan dari kelapa sawit, peternakan di antaranya ayam, dan perikanan yang menghasilkan pendapatan ikan air tawar. Belum dengan buah merah, buah populer dari Papua dan hanya di Papua. Begitu pula dengan sarang tawon.

Buah merah dan sarang tawon diproduksi oleh penduduk asli Keerom, mereka kemudian menjualnya. Wilayah ini berawa-rawa sehingga mesti waspada nyamuk malaria.

Luasnya wilayah tentunya membutuhkan alat transportasi yang murah. Distrik terjauh dari ibukota kabupaten adalah Distrik Towe, untuk menempuh perjalanan ke sana harus menggunakan transportasi udara yang bisa menghabiskan uang 30 juta rupiah.

Bukan hanya berkaitan dengan perjalanan, tetapi dengan distribusi ekonomi yang sangat memengaruhi pada kesejahteraan masyarakat. Jarak tempuh yang jauh dan lama menjadikan seloroh, bahwa di sana ayam mati lebih lama daripada ayam hidup.

Demikian salah satu cerita wilayah perbatasan yang saya dapatkan. Mengenal Keerom, seperti mengenal wilayah perbatasan yang sedang mengepak sayap menuju wilayah yang terbaik. Hanya saja jauhnya jarak tempuh dan mahalnya transportasi menjadi salah satu hambatan perkembangan Kabupaten Keerom. Oleh karena itu, kabupaten yang berbatasan dengan negara Papua New Guinea ini masyarakatnya sangat membutuhkan trasnportasi murah.

Bukan hanya Keerom, tetapi saya juga mengunjungi stand-stand wilayah lainnya. Border Investment Summit menghadirkan perwakilan-perwakilan dari wilayah perbatasan, dan menyiapkan banyak stand untuk wilayah tersebut dalam menampilkan potensi wilayah mereka. Ada juga stand dari beberapa perwakilan instansi pemerintah yang turut meramaikan acara tersebut.

Border Invesment Summit yang diadakan oleh Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengadakan forum pengembangan investasi daerah perbatasan pada 3 November 2015 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta. Dengan tema, Pengembangan Potensi dan Peluang Investasi di Daerah Perbatasan, hadir berbagai kementrian yang saling terkait untuk membangun wilayah perbatasan. Daerah perbatasan merupakan wilayah yang menjadi halaman sekaligus muka Indonesia di hadapan negara tetangga. Maka, kerjasama antar kementrian ini menjadi titik terang untuk saling berpadu dalam menyejahterakan pendudukan Indonesia.

Ada banyak stand wilayah perbatasan yang berjejer di depan ruang diskusi. Saya mendatangi satu per satu stand tersebut, melihat ciri khas dari tiap-tiap daerah. Indonesia sangat luas dan kaya dengan segala potensi, kita hanya mememlihara kekayaan tersebut agar bermanfaat bagi seluruh rakyat dan generasi penerus kita.

image

Bukan hanya Kabupaten Keerom yang ternyata membutuhkan perhatian kerjasama seluruh instansi pemerintah, tetapi wilayah-wilayah perbatasan lainnya yang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, baik dari segi alam maupun penduduknya. Adanya kerjasama semua pihak, termasuk masyarakatnya menjadikan solusi bagi keutuhan negeri.

Diawali dengan Keynote speaker oleh Marwan Jafar, Mentri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kemudian
peluncuran buku yang berjudul, Profil Potensi Investasi Daerah Perbatasan. Selanjutnya diskusi panel yang membahas kerangka kebijakan dan regulasi, potensi dan peluang usaha di daerah perbatasan, serta program unggulan dan peranan riset.

Diskusi menarik yang isinya akan saya tulis pada postingan berikutnya, menjadi suatu gagasan dalam menyinkronkan kerjasama antar intansi sekaligus kepala daerah dalam membangun desa tertinggal dan wilayah perbatasan. Diskusi ini sebagai jembatan dalam pengejawantahan Nawacita yang diusung oleh Presiden Joko Widodo.

Advertisements