Tags

, , ,

Oktober telah berlalu, tetapi bulan tersebut telah menyadarkanku akan pentingnya sadari diri dan deteksi dini kanker payudara. Bulan ini, menjadi bulan kesadaran kanker payudara.

image

Ada banyak acara dan kegiatan yang mengajak untuk sadari kanker payudara. Salah satu acara yang saya hadiri pada hari Sabtu, 30 Oktober 2015, adalah women’s talk Liputan 6, yang menghadirkan para pembicara dan narasumber dokter onkologi, dr. Alfiah Amirudin, MD, MS dan Yuniko, relawan dan surviver Cancer Infirmation and Support (CSIC).

Bertempat di Lacada, Panin Bank, dr. Alfi memaparkan akan keadaan Indonesia yang semakin hari penderita kanker payudara di Indonesia semakin tinggi, dan berada di stadium 3 dan 4. Bukan hanya menyerang di atas usia 40 tahun, tetapi sekarang sudah menjalar ke usia muda, 14 tahun.

Fenomena melonjaknya penderita yang sudah stadium 3 dan 4 karena ketidaktahuan pada kesadaran kanker payudara. Di antaranya yang menyebabkan banyaknya penderita kanker payudara stadium 3 dan 4 yang datang berobat, karena mereka tidak langsung ke medis sewaktu awal terdeteksi, tetapi memilih datang ke pengobatan alternatif. Ketika pengobatan alternatif tidak menyembuhkan, maka penderita datang ke medis sudah dalam kondisi stadium 3 atau 4.

Dengan demikian, para penderita yang terdeteksi kanker payudara, hendaknya mencari tahu informasinya secara medis, sehingga dapat diobati sejak dini.

Memang, tak ada yang tidak shock atau kaget ketika diberi tahu terdeteksi kanker payudara, maka hal yang paling penting dalam proses pengobatan kanker adalah menerima penyakit tersebut. Demikian kata Yuniko, perwakilan dari CSIC.

Ada kepasrahan dan kerelaan dalam menerima takdir ketika mendapat penyakit, tetapi itu bukan berarti menyerah. Menerima berarti memahami keadaan diri sehingga rela dalam menjalankan hidup dengan segala hal yang terjadi.

Tidak mudah memang munculnya kerelaan ini, selain keikhlasan dari penderita sendiri, ada peran keluarga dan lingkungan yang menjadikan penderita tegar dan rela dalam menjalankan kehidupan tersebut.

CSIC, salah satu komunitas yang saling mendukung dan menyemangati dalam kehidupan yang lebih baik. Selain saling mengabarkan atau menginformasikan akan kanker payudara, ada hal penting yang menjadi ruh komunitas ini adalah saling menyemangati dan memotivasi untuk terus hidup.

CSIC yang sudah 13 tahun ini,  hadir bagi penderita kanker payudara, karena pada saat proses penyembuhan, ada banyak hal yang harus diketahui oleh penderita dan keluarga. Maka, semangat dari sesama penderita kanker untuk saling menyemangati. Komunitas ada, karena adanya kebutuhan, sehingga membutuhkan saling menyemangati. Dan terutama pedoman untuk mengetahui segala informasi tentang kanker.

Dr. Alfi menambahkan, bahwa kanker payudara belum diketahui penyebabnya. Ada yang menyebutkan penyebabnya ada dua, pertama, berhubungan dengan genetik, dengan peluang 5-10%, dan kedua, lingkungan.

Ada banyak penelitian yang mencoba dalam pencegahan kanker payudara.
Ada lebih 20 jenis dari varian kanker payudara. Dari varian itu pengobatannya pun berbeda-beda.

Peran CSIC dalam kanker payudara adalah membantu para penderita untuk menerima kanker payudara tersebut. CSIC juga menyiapkan pendampingan bagi yang pertama divonis kanker payudara. Maka, tahap pertama ini adalah dengan menerima hal tersebut.

CSIC mengadakan pertemuan setiap bulan dengan menghadirkan para dokter, terutama dokter onkologi. Komunitas ini sangat terbuka bagi siapa saja.

Para pembicara yang interaktif, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan yang menarik. Adapun poin dari tanya jawab tersebut, bahwa bila  ditinjau dari sisi medis ketika seseorang sudah aman atau sembuh dari kanker payudara, maka yang harus dilakukannya adalah edukasi yang berkesinambungan dari satu tempat ke tempat lainnya. Begitu pula dengan pengobatan alternatif, maka CSIC mencoba memberi informasi yang lebih rasional dan logis dengan pengobatan medis.  Karena pada orang yang kena kanker, bukan hanya terkena secara fisik pasien, tetapi psikologi atau mental juga.

image

Selanjutnya diskusi kelompok dengan suviver. Saya berada satu kelompok dengan surviver Wielly, seorang laki-laki yang sudah sembuh dari kanker payudara Kanker payudara tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi ada juga pada laki-laki.

Wielly Wahyudin, mendapat vonis kanker payudara stadium 3 pada usia 38 tahun. Maret 2013, Wielly merasakan adanya benjolan pada payudara. Payudara sebelah kanan. Ketika naik KRL terbentur dan sakit. Ternyata ada benjolan, awalnya disangka karena benturan. Tetapi kemudian bulan Juli ada benjolan sebesar telor ayam.

Pemeriksaan awal itu ditemukan dengan tahapan sudah stadium 3. Kanker payudara pada laki-laki akan langsung tinggi, karena jaringan kelenjar lebih sedikit daripada perempuan.

Ketika mendapat kabar tersebut, Wielly kaget karena secara genetik tidak ada keturunan dan tidak merokok. Namun, saat itu menyerang, Wielly dalam keadaan berat badan yang kegemukan, dengan BB 95 kg.

Adapun pengobatan yang dilakukan dengan operasi vaksatomi, pengangkatan payudara. Wielly melakukan pengobatan kemo 8 kali, kemudian radiasi 25 kali, atau terapi target hormon.

Ketika dalam proses pengobatan ini, perubahan fisik terjadi. Seringkali, perubahan fisik menjadi momok, padahal sebelum kemi perubahan fisik sudah terjadi. Begitu pula efek kemo lainnya, setiap orang beda-beda. Adapun Wielly mendapat efek bisulan dan tidak mau makan.

Di sini peran keluarga sangat penting, sebaiknya keluarga lebih banyak mendengar. Adapun bagi Wielly sendiri dalam menjalankan pengobatan, dia memilih mengubah mindset dalam berobat sehingga pengobatan dianggap hal yang menyenangkan, seperti dianggap jus dalam pengobatannya.

Meskipun sudah sembuh, Wielly masih harus cek darah setiap 6 bulan sekalu, dan setiap tahun CT Scan. Adapun biaya pengobatan mendekati 700-800 juta rupiah.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita semua untuk sadari dan deteksi dini payudara. Akhir kata, saya akan kutip quote dari para relawan dan surviver CSIC yang menginspirasi kita semua.

#Kanker bukan akhir segalanya, justru menjadi awal segalanya#
#Smile all time#
#Ikhlas#
#Jangan pernah takut deteksi dini#
#Sadari, dan deteksi dini. Tetap penuh harapan.#

Advertisements