Tags

,

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (QS. Al-Ma’un: 1-4)

Udara Bandung terasa hangat, sepoi angin menyapa kami ketika turun dari bis rombongan ke halaman rumah panti asuhan Bayi Sehat. Berdiri tegak rumah bergaya Belanda, dengan tertera tulisan pada dinding atas “Panti Asuhan Bayi Sehat.”

wpid-img_20151017_080133_1.jpg

Panti yang berdiri tahun 1958 merupakan Panti Asuhan Muhammadiyah, suatu lembaga pelayanan kesejahteraan sosial di bawah naungan Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU) Muhammadiyah Cabang Sukajadi.

Berada di kawasan Jl. Purnawarman No. 25 Bandung, panti asuhan ini memberi pelayanan, bimbingan, dan pengarahan dalam hal pemenuhan kebutuhan fisik, mental dan spiritual maupun sosial bagi anak asuh, sehinhga anak asuh memperoleh kesempatan untuk berkembang secara luas, tepat dan memadai bagi perkembangan pribadi anak sesuai dengan perilaku dan tuntunan agama Islam.

Sabtu, 16 Oktober 2015, saya bersama para pengurus wilayah dan daerah Nasyiatul Aisyiyah (NA) se-Indonesia,  disambut hangat oleh kepala panti asuhan dan pimpinan cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah. Suatu sambutan kehormatan bagi kami, dari para orangtua yang mencintai putra putrinya, serta anak-anak negeri.

Ada 14 ribu lebih yang sudah Panti Asuhan Bayi Sehat asuh dari sejak berdirinya panti asuhan ini. Menyayangi dan membimbing para anak yatim piatu sebagai suatu aplikasi dari pemahaman Surah Al-Ma’un. Tentunya, pada dasarnya sebagai Muslim, pentingnya Al-Quran bukan hanya dibaca dan dihapal, tetapi dipahami dan diamalkan dalam setiap tingkah laku kita.

Kita ketahui dalam sejarah, betapa KH. Ahmad Dahlan sangat keras kepada para muridnya untuk mengamalkan setiap ayat yang diajarkannya. Surah Al-Ma’un inilah yang menjadi pengajarannya secara berulang-ulang kepada murid-muridnya.

Maka, dalam tahap selanjutnya menjadi langkah dalam pergerakan untuk mencintai dan menyayangi anak-anak yatim piatu. Panti asuhan ini hanya merawat bayi. Bayi-bayi tersebut tumbuh sehingga ada yang menjadi pejabat di pemerintahan atau perusahaan swasta. Dan ada juga yang menjadi profesional dalam bidang keilmuannya.

Setelah mendengarkan penjelasan dari kepala Panti Asuhan, kami menuju ke wilayah anak-anak tersebut. Ada ayunan di samping rumah, kemudian kami masuk rumah yang memiliki tiga lantai ini.

Kami langsung menuju lantai paling atas, lantai ketiga. Di sana ada ruang bayi sekitar dua tahunan, dan ruang berikutnya tempat bermain anak-anak usia Balita, kamar tidur mereka, dan di ujung ruangan ada tiga mesin cuci, serta kamar mandi.

Saya berkunjung ke ruang Balita yang sedang bermain. Mereka bermain bersama para pengasuh. Anak-anak yang lucu, cantik dan tampan, bersih dan sehat. Ketika kami datang, mereka langsung salaman. Sungguh, mereka balita yang tampan dan cantik, kami pun sejenak bermain bersama mereka.

Selanjutnya, kami ke ruangan bayi-bayi. Ada banyak bayi lucu dan sehat. Bahkan, ada bayi yang beratnya 8 kg. Bayi yang paling kecil di antara mereka berusia 3 minggu.  Melihat kelucuan dan kecantikan serta ketampanan mereka, banyak pengurus NA, yang memang ibu-ibu muda menangis.

image

Selain tentunya mengingat anak-anak mereka di rumah, mereka sangat sedih dan prihatin atas nasib mereka yang tiada orangtua. Tangan-tangan mungil itu menggenggam erat tanganku, dan teman-teman lainnya, seakan ingin mengingatkan sabda Rasulullah saw, bahwa, aku dan anak yatim piatu bak jari telunjuk dan jari tengah. Berdampingan dan bersaudara, saling menyayangi dan mencintai karena Allah swt.

Terbentur waktu, kami tidak bisa lama-lama tinggal di sana, lalu kami turun ke lantai dua, yang berisi ruang perpustakaan, kamar tidur perempuan dan ruang belajar serta bermain. Sayang, kami tidak bisa bertemu mereka karena pada hari tersebut mereka sedang sekolah.

Turun ke lantai pertama, ada ruang kamar tidur putra, tempat bermain dan ruang tamu atau lobby panti. Adapun bangunan yang terpisah depannya, berfungsi sebagai kantor dan administrasi dan aula. Ada 26 pengurus bayi, yang dibantu oleh perawat dan dokter.

image

Sebelum berpamitan, para pengurus NA pun mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan tersebut. Walau masih enggan pergi, karena keterbatasan waktu kami pun harus pergi. Kami kemudian berlanjut ke amal usaha PC Muhammadiyah Sukajadi.

Perjalanan yang sangat menginspirasi dan mengingatkan kembali akan pentingnya menyayangi anak-anak yatim piatu. Bukan hanya sekedar materi, tetapi kasih sayang dalam pengasuhan dan bimbingan yang akan menjadikan mereka sebagai generasi yang saleh, sehat dan kuat. Sudahkah kita memerhatikan anak yatim?

image

Advertisements