Tags

, ,

Kampung adalah tempat yang menyajikan kearifan dan kebajikan akan kesadaran pada diri sendiri, tetangga dan alam sekitar. Di kampung banyak ditemukan pohon-pohon yang berbaris, sawah-sawah yang membentang, hewan-hewan yang bernyanyi riang dan udara segar yang menjadi oksigen pernapasan. Penduduk satu dengan lainnya saling mengenal dan bertegur sapa.

wpid-wp-1439396663085.jpeg

Ketika kampung yang asri dan dan bersih menjadi identik dengan kebodohan, kedunguan dan kejorokan, hal tersebut sangat miris mendengarnya dari orang yang bersekolah. Sering kita mendengar kata orang kampung atau kampungan, persepektif yang melekat sampai sekarang sebagai konotasi yang negatif. Apakah cap kampungan itu merendahkan atau meremehkan? Padahal, orang-orang yang berderet di ibukota dan yang mengaku kekinian berawal dari kampung. Dan terbangunnya kota-kota berdasarkan pada struktur kampung-kampung atau desa.

Ironis, kata-kata tersebut sering muncul pada orang-orang yang bersekolah. Pendidikan formal telah meninggikan gelar, tetapi sekaligus pula sering merendahkan martabat manusia dengan hanya sebatas melihat baju, pakaian atau cover. Ada benturan budaya, ketika menghadapkan seorang yang mengaku kekotaan, tanpa melihat sudut kejernihan pedesaan sebagai sebuah tempat kearifan lokal yang mengusung pembersihan dari hiruk pikuk gerak perkotaan yang berjalan serba cepat dan berasap.

Kekurangtahuan tentang modernitas peralatan, bukan berarti orang-orang yang tinggal di desa itu bodoh. Mereka hanya terlambat mendapatkan informasi tentang kemajuan teknologi. Lagipula, untuk saat ini hal tersebut sudah basi. Karena kemajuan teknologi komunikasi sudah masuk ke pedesaan, sehingga ragam informasi pun dapat dengan mudah diterima di pedasaan.

Namun, ada yang tidak disertai bagi penduduk urban kota, bahwa masyarakat desa menjadikan informasi hanya sebagai kabar saja. Mereka tetap memilih kearifan lokal yang sudah ada, merawat alam sebagaimana mestinya sebagai sesama makhluk Tuhan. Maka, jangan heran bila para penduduk desa lebih paham fenomena alam, karena mereka langsung bersentuhan dengan semesta. Bukan hanya berada dalam tataran membaca pada buku saja.

wpid-img_20150910_143928.jpg

Menghadapkan kampung dan kota bukan untuk rivalisasi, tetapi untuk keseimbangan dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Bukan pula sebagai bagian strata sosial atau kasta, tetapi sebagai alur kesinambungan dalam tata ruang kemasyrakatan.

Akan tetapi, sebenarnya dalam agama, tinggi atau rendah penilaian orang bukan masalah, apalagi hanya melihat berdasarkan penampilan, karena Allah Yang Maha Mengetahui dan Pemberi Nilai. Sungguh tulisan ini sebagai spontanitas dari kegundahan akan perspektif kampungan yang dicap negatif. Bila terus-terusan pandangan tersebut diulang-ulang, maka akan mengendap pada kesadaran dan menjadi persepsi sosial masyarakat Indonesia. Wallahu’alam.

Advertisements