Tags

,

Perempuan adalah bumi, menyimpan segenap kelahiran dan pertumbuhan kehidupan.

image

Terik sinar surya tak menjera sang perempuan desa untuk menanam bibit padi. Garis lurus menjadi selusur setiap bibit yang tersimpan pada Ibu bumi. Sambil bercanda dan bersenda gurau, kaki dan tangan para petani perempuan ini terus menanam tanpa ada jeda yang terlewati.

Aku berjalan di pematang sawah dengan hati-hati. Lumpur sawah sudah memenuhi jalan setapak yang akan aku lalui.

“Lewat sebelah sana Neng, di sana sudah basah kena lumpur pematangnya,” teriak perempuan desa mengabari.
“Iya Buuu…” Jawabku patuh mengikuti petunjuk Ibu.
“Mau ke mana Neng?” Tanyanya lagi.
“Ke Sungai Cimanuk,” jawabku saat itu.
“Oooooh… Iya, sebelah sana jalannya yang belum diberi lumpur,” teriak Ibu dengan antusias.

Saat itu, bulan April 2015, saya berkunjung ke rumah teman daerah Cipaku, Jatigede, Sumedang. Tak ada gentar dari para petani yang sawahnya akan ditinggalkan karena genangan bendungan. Mereka masih terus bekerja dan berusaha dengan sawah subur yang mereka miliki.

Para perempuan desa menanam padi, dan para pria membuat garis-garis tanaman. Matahari semakin terik, jam menunjukkan sudah pukul 12 siang.

“Hayuuk Neng, makan…” Teriak seorang Bapak yang sudah melipir bersama istrinya di sebuah saung. Mereka membuka timbel bekal makan siang.

Sungguh, relasi antaranya laki-laki dan perempuan saling berpadu bekerja sama di desa Cipaku. Mereka mungkin tidak membaca teori gender, tetapi tingkah mereka berada dalam kesadaran gender. Ada kesetaraan dalam menjalankan masing-masing tugas dan peran.r

image

Kini, Jatigede sudah dibendung, sawah dan ladang siap-siap akan tenggelam. Iya, bendungan Jatigede akan menenggelamkan ribuan pohon yang sudah dibabat habis dan ribuan hektar sawah. Belum lagi dengan rumah penduduk sana. Apakah pemerintah mengganti sawah produktif mereka?

Banyak masyarakat Jatigede yang terlunta-lunta. Uang pengganti 29 Juta akankah cukup untuk membangun rumah? Lalu, bagaimana dengan kebiasaan bercocok padi mereka?

Ironis, tanah yang subur akan ditenggelamkan. Hutan yang lebat telah habis dibabat. Dari berbagai himpitan bendungan Jatigede, para perempuanlah yang memiliki beban besar. Uang 29 Juta, sawah hilang, anak-anak terancam tidak sekolah.

Hari ini, dunia memperingati hari international perempuan desa, sebuah momen yang seremoni saja bila pemerintah mengacuhkan kebutuhan dan keinginan rakyatnya, terutama dalam menyejahterakannya. Selamat hari international perempuan desa. Darimu para perempuan, separuh negeri ini dapat menikmati padi.

Advertisements