Tags

, , ,

Entah sejak kapan saya memiliki hobi minum kopi. Kemungkinan sepertinya sejak bekerja menjadi editor buku, salah satu melawan ngantuk dengan minum kopi. Tapi apa daya, bukannya melek, saya malah jadi suka minum kopi hampir setiap hari. Awalnya minum kopi yang sachet, kemudian beralih ke kopi hitam sachet, dan kemudian kopi hitam dari petani Indonesia.

wpid-img_20151011_162805_1.jpg

Menjadi kepuasan tersendiri ketika sudah menikmati kopi hitam dari bumi Indonesia. Kopi yang lahir dari ibu pertiwi. Awalnya mungkin pahit, tetapi itu bagi pemula, selanjutnya saya menikmati rasa kopi tersebut. Kopi pertama yang saya minum adalah kopi Lampung, pemberian seorang teman yang akan pulang kampung. Selanjutnya kopi Kendari, lalu Kopi Aceh, dan Kopi bermerk dari daerah Bogor.

Saya takjub dengan sensasi rasanya, meskipun mungkin ini pendapat orang yang awam akan berbagai rasa kopi, tetapi saya menikmati kopi tubruk. Awalnya, saya minum dengan campur gula putih atau susu kental manis, selanjutnya dengan gula merah. Namun, semakin hari saya malah menikmati kopi tanpa gula. Selain memang sebagai anak kos yang kondisinya memungkinkan tidak ada gula, saya sekarang lebih menikmati kopi tubruk tanpa gula.

Ketertarikan saya minum kopi sampai akhirnya ikut workshop kopi yang diadakan oleh Kang Hendra, pemilik Kopi Shari Bumi. Acara yang berlangsung pada hari Ahad, 11 Oktober 2015, di Cosmo Japan Supermarket, saya belajar mengolah kopi sendiri ala resto atau cafe. Hampir semua peserta workshop perempuan, dari yang muda sampai yang tua hadir. Menarik ketika memanfaatkan fasilitas yang ada, kita bisa menikmati kopi sekelas di cafe, tentunya dengan suhu air dan takaran tertentu.

wpid-img_20151011_101611_1.jpg

Alat yang digunakan pun saringan yang moncong, lalu teko gelas, dan sejenis serbet atau tisu kasar. Saringan tersebut disimpan di atas teko gelas, kemudian saringan dikelilingi oleh tisu. Lalu, masukkan kopi 1 gram : 10 ml, atau 1 gram : 15 ml pada penyaringan tersebut. Siapkan air panas dengan suhu 90 derajat, kemudian tuang di atas kopi tersebut. Diamkan kopi beberapa saat, kemudian bisa dihangatkan dengan disimpan di atas api dingin agar tetap wangi.

Demikianlah beberapa cara dalam menyeduh kopi. Selain kopi hitam, tersedia juga kopi hijau untuk diet. Kopi ini membantu yang ingin detoksivikasi tubuh. Kopi pada dasarnya baik untuk kesehatan, asalkan tidak berlebihan dalam meminumnya. Pada acara workshop ini, Kang Hendra memaparkan tiga hal penting bagi peminum kopi, yaitu bibit kopi yang bagus, masa pemetikannya yang matang, dan proses pengolahannya. Awal mula Kopi Shari Bumi ini untuk membantu para petani kopi dalam meningkatkan ekonomi petani kopi.

Meskipun demikian, Kang Hendra hanya menerima biji kopi merah. Kalau para petani memberi biji merah, maka para petani akan mendapatkan harga kopi yang memuaskan. Kualitas biji kopi ini sangat penting, karena dalam bisnis kopi ini, hendaknya harganya murah, baik dan sehat. Shari Bumi sendiri sebagai filosofi dari inti bumi. Kualitas kopi hasil dari produksi inti bumi pada perbukitan dan pegunungan daerah Jawa Barat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kopi telah menjadi trend gaya minum masa kini. Bukan hanya para orangtua yang suka minum kopi, tetapi para kaum muda pun menyukai minuman ini. Banyak cafe dan kedai modern yang menyajikan kopi. Bahkan, sudah banyak yang mengkhususkan diri dengan sajian menu kopi.

Dari acara workshop tersebut, saya semakin tertarik akan sejarah kopi di Bumi Pertiwi Indonesia. Karena dalam pengantarnya, Kang Hendra menyebutkan bahwa kopi Indonesia adalah kopi terbaik dunia. Dan kopi yang sedang diproduksinya merupakan kopi priangan, kopi pertama yang ditanam di Bumi Pertiwi, Indonesia.

Bicara kopi Indonesia, ternyata seperti membincang sejarah ibu pertiwi dan para petani. Ada perjalanan panjang berkenaan dengan kopi di Indonesia, terutama kopi daerah Jawa Barat. Kopi, pernah menjadi komoditas utama nonmigas Indonesia, yang berada pada urutan keempat besar sebagai pemasok kopi dunia. Keberadaan awal kopi sendiri di Indonesia masih diperdebatkan, apakah dibawa oleh para pedagang muslim Arab, yang dikenal dengan kopi Arabica, atau dibawa oleh VOC.

Dari perbedaan pendapat tersebut, hasil mencari referensi sejarah, mencatat bahwa Indonesia, di bawah VOC mengekspor kopi ke luar negeri pada awal abad ke-18. Adapun pembibitan kopi di Indonesia pertama kali dilakukan oleh walikota Nicholas Witse, yang memerintahkan Gubernur Belanda di Pantai Malabar untuk mengirim spesies kopi Yaman, yang dikenal dengan Arabika, ke Pelabuhan Batavia pada tahun 1690-an. Adapun tempat pembibitan dan penenaman kopi pertama di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sayang, upaya tersebut gagal karena terjangan banjir. Maka, pada tahun 1696, uji penanaman kembali dilakukan dan langsung disebarkan di daerah Jawa Barat, seperti Bandung, Bogor, Sukabumi dan Banten.

Tahun 1711, VOC pertama kali mengekspor kopi ke Eropa melalui pelabuhan Batavia. Di wilayah Jawa Barat inilah penanaman kopi pertama berhasil. Ekspor kopi pun meningkat dalam satu dasawarsa dengan prakiraan 60 ton/tahun, yang membuat VOC semakin semangat untuk menanam kopi. Maka, ada keserakahan untuk memenuhi hasrat tersebut. Yang awalnya ditanam di tempat liar dengan petani sebagai buruhnya, kemudian berubah menjadi tanam paksa bagi setiap rakyat Indonesia untuk menanam kopi.

Bagaimana dengan sekarang? Apakah para petani kopi yang masih ada sudah mendapat peningkatan ekonomi? Atau monopoli kopi masih ada oleh para pengusaha besar kopi? Kopi bagusnya kita ekspor, dan masyarakat Indonesia hanya mendapatkan sisa ekspor?

Renungan panjang akan makna kemerdekaan dan kesejahteraan. Maka, saya salut dengan para pengusaha kopi lokal yang langsung berhubungann dengan para petani, lalu memproduksinya untuk konsumsi masyarakat Indonesia dan ekspor luar negeri tanpa membedakan kualitasnya. Jayalah para petani Indonesia, sehatlah masyarakat Indonesia.

Advertisements