Gandasasmita termangu, si Aki sudah pergi, padahal dirinya belum beranjak selangkah pun dari tempatnya tadi berdiri. “Baik Aki. Aku akan mengingat pesan Aki. Terima kasih Aki,” lirih Gandasasmita.

Jejaknya menjadi satu kesatuan dengan angin dan air, menyerap dalam setiap pasir yang terinjak oleh Gandasasmita.

Ini bukan tentang persinggahan, tetapi perjalanan. Perjalanan yang menanjak lagi sukar, seperti jeda dalam satu kesatuan.
“Aku menggaruk keruk pasir dalam tembaga, seperti belalang yang menari dalam terang sinar surya.” Gumam Gandasasmita.

Seumpama langit selatan dan utara dalam jejak sang surya, maka naga dan ular melingkar dalam jarak mayapada. Sesungguhnya, setiap waktu itu bukan bagianku, bagianmu dan bagiannya.

Jengah dalam mayapada, seluruhnya menjadi luruh dalam sagara yang menyebar di antara berbagai lipatan tanah.

Sebutir pasir menelisik ujung jari kaki, seperti angin yang menyebar pada setiap hal. Ketika semua ada dengan pijakannya yang berbeda, maka lihat dengan setiap sesuatu pada sudut yang menjadi keadaan tetap dengan suatu fenomena.

Pasukan yang menghadangnya pergi, Gandasasmita melihatnya dalam larik setiap langkah yang ia perhatikan. Mungkin di sini, atau bukan… Suatu perjalanan harus terus berjalan. 🙂

Advertisements