Tags

,

Waduk Jatigede sudah digenangi, masyarakat sekitar sudah mulai menyingkir pergi meskipun urusan pembiayaan hidup mereka tidak jelas. Walaupun tanggal 31 Agustus 2015 kemaren, Presiden Joko Widodo tidak hadir, tetapi tetap saja perjalanan panjang bendungan Jatigede berakhir di tangan Joko Widodo alias Jokowi.

wpid-img_20150812_232200.jpg

Sempat beberapa kali ke wilayah Jatigede, maka yang saya ingat adalah pesawahan yang luas dan hutan-hutan yang lebat. Situs-situs sejarah yang tersebar di seputar Jatigede dengan sejarah dan budayanya. Tanah yang subur telah memikat para pemilik kebijakan dari generasi ke genarasi berikutnya untuk menggenanginya.

Potensi Jatigede dengan kekayaan alam dan sejarahnya, menarik para ilmuwan dan cendikiawan untuk menelitinya. Terutama para ahli geologi, di dekat waduk, tepatnya di aliran Sungai Cinambo, sering digunakan oleh para mahasiswa Geologi untuk mempelajarinya.
image

Dalam kajian berikutnya, ternyata waduk Jatigede berada dekat episentrum gempa. Para peneliti dari Teknik Geologi Universitas Padjadjaran menemukan bahwa waduk Jatigede rawan gempa, letak bendungan yang berada di bawah episentrum gempa. Dr. Ir. Eni Sukiyah MT, dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad menyebutkan bahwa dari tatanan geologi, tidak memungkinkan infrastruktur sebesar itu dibangun di Jatigede. Tektoniknya aktif. Bukan hanya dekat episentrum gempa, di bawah tempat itu aktif fault yang melintasi daerah tersebut.

Emi Sukarsih bersama Nana Sulaksana, Achmad Sjafrudi, dan Edi Tri Haryanto melakukan penelitian pengaruh dari keadaan DAS Cimanuk terhadap tingkat erosi dan pendangkalan di Waduk Jatigede. Dari sana diketahui bahwa pembuatan waduk Jatigede merupakan proyek sangat berisiko.

Karena jejak tektonik berupa sesar aktiif (aktif fault), maka proyek bendungan ini berbahaya. Sesar ini merupakan zona rekahan pada bumi yang mengalami pergeseran-pergeseran, dan pergeseran ini memengaruhi erosi DAS Cimanuk yang menuju Jatigede.

Intensitas tingginya erosi sudah ada dari daerah hulu sungai, erosi tersebut dapat mengganggu aktifitas alat di waduk Jatigede. Hal tersebut akan memengaruhi umur waduk itu sendiri. Belum lagi alih fungsi lahan yang sangat mempengaruhi erosi. Jatigede sendiri berada di sesar aktif, daerah yang mudah longsor. Tandanya bisa dilihat pada jalan yang menuju bendungan hancur dan amblas.

Memang, sebagai orang awam, pertama kali main ke waduk Jatigede, keadaan jalan bagus dan mudah dilalui oleh mobil. Namun, dua bulan berikutnya saya bermain lagi ke sana, jalanannya sangat rusak dan sukar dilalui oleh mobil, terutama mobil seperti sedan.

Pada dasarnya, sejak awal pembangunan waduk Jatigede, DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) sudah menolak pembangunan waduk ini. Resiko dari pembangunan ini sangat besar, terutama untuk daerah yang berada di sekitarnya. Letaknya yang berada zona sesar Baribis aktif, rawan pergeseran tanah dan gempa.

Sesar Baribis sendiri merupakan salah satu sesar naik utama yang berkembang di Jawa Barat. Van Benmelen (1949) yang memperkenalkannya dengan mengambil nama perbukitan Baribis di daerah Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat.

Cermin jelas dari kasus Waduk Zipingpu, China yang diabaikan, padahal para ilmuwan mengatakan bahwa gempa picuan akibat pengisian bendungan tersebut mentrigger pergerakan sesar aktif 3 tahun kemudian, sehingga terjadi gempa besar yang mengakibatkan meninggalnya 80.000 lebih warga. Lalu bagaimana dengan Waduk Jatigede?

Daerah hilir Sungai Cimanuk yang akan mendapat imbasnya, seperti Sumedang, Majalengka dan Indramayu. Padahal, daerah hilir Sungai Cimanuk ada banyak industri, dan yang terkenal ada Kilang Migas Balongan dan Pabrik Semen Indocement.

Begitu rawan dan besarnya efek bahaya pembangunan waduk Jatigede ini, saya teringat akan cerita rakyat turun temurun warga seputar Sumedang yang saya dengar. Para leluhur mereka sudah memperingati akan ada yang berniat membendung daerah tersebut. Bila Jatigede dibendung, maka akan hancur alam sekitar dan banyak kematian. Kadang, peringatan lewat kearifan lokal cerita rakyat diabaikan, hanya melihat sesaat dengan keuntungan kalkulasi angka, tanpa melihat masa depan, anak cucu dan alam. Bahkan, data penelitian secara geologis pun diabaikan. Wallahu’alam

Advertisements