Tags

,

Ibarat peperangan, dalam penggusuran dan pengusiran warga dalam proyek waduk Jatigede tetap perempuan dan anak-anak yang menjadi korban. Para ibu yang kalut memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup keluarga serta mengelola keuangan rumahtangga.

image

Sebulan sebelum penggenangan saya berkunjung ke rumah keluarga teman di Cipaku, ibu teman yang pendiam mengemukakan kegelisahannya. Linangan air mata tampak dari kedua matanya.

“Nanti mah Ibu nggak di sini lagi. Neng nggak bisa main ke rumah ibu,” katanya pelan. “Sebulan lagi penggenangan. Ganti rugi uang juga belum jelas kalau harus pindah. Banyak yang salah ukur tanah dan salah nama.”

Saya tak tahan melihat air mata yang menggenangi kelopak matanya. Hanya mampu berujar sabar dan semangat. Aslinya mah saya juga pengen nangis. Proyek waduk ini seakan menggusur suatu tatanan sosial yang sudah mapan dan mandiri menjadi pecah.

Betapa tidak gelisahnya para ibu, ketika tempat relokasi pun belum jelas dan mereka hanya diganti 122 juta rupiah. Bagi yang keluarga baru hanya diberi 29 juta rupiah. Uang yang bila dibelanjakan untuk membeli dan membangun rumah di saat harga-harga tinggi sungguh tidak berarti. Pantaslah bila para ibu menjadi kelu, hanya menatap nanar. Apalagi, mata pencaharian suami yang terampas juga, karena sawah, ladang dan kebun mereka pun hilang. Apakah pemerintah memberikan peluang kerja bagi para suami?

Berat, memang berat terasa beban di pundak sang bunda. Ketidakpastian dan peluang kehidupan seakan menjadi titik pesimisme kehidupan. Kehidupan yang berat bagi para ibu yang harus mengelola keuangan di saat tidak ada uang dan mata pencaharian.

image

Perempuan yang memiliki rahim, bak bumi yang mengandung segala potensi energi kehidupan. Secara fisik terlihat lemah padahal memiliki energi yang luar biasa.  Mengandung, melahirkan, mengasuh dan membimbing anak-anak. Lembut dengan segala kasih sayangnya, kuat dalam segala ketegarannya, dan sabar dalam menerima segala perjalanan takdirnya.

Perempuan dalam rangkaian ibu pertiwi, menjadi saksi dalam setiap harmonisasi polah manusia, bukit-bukit gundul dengan deru truk yang mengangkut pohon-pohon besar. Satwa-satwa liar berlarian mencari sarang. Hembusan angin semakin kencang tanpa pepohonan.

“Kami tidak akan pergi sebelum air di halaman rumah,” demikian kata ibu muda dari daerah Sadang, Sumedang. Kekukuhan dan keteguhan perempuan menjadi perisai dalam perjuangan.

Saya teringat ketika sebelumnya mengikuti perjalanan ke Jatigede. Langit terang, hangat terasa sinar matahari menelusup pada kulit. Anak-anak tertawa riang dengan seragam kaos sekolah dasar. Mereka bergembira riang, walau beberapa bulan kemudian tanah airnya akan digenang. Keluguan dan kepolosan anak-anak untuk piknik, atau bersenang-senang sambil menanam pohon seakan tak memikirkan akan kegalauan para orangtua mereka.

image

Setiap anak memegang bibit pohon, berjalan mengukuti alur jalan kampung. Berjalan di antara pematang sawah yang hijau dengan berderet. Sayup terdengar kabar sekitar Cinambo pohon-pohon sudah ditebang, maka menanam kembali bibit-bibit pohon oleh anak bangsa sebagai bentuk kecintaan pada alam dan tanah air.

Setiap anak menanam bibit pohon, menyimpan pusaka alam untuk menyuburkan tanah dan air. Sambil bernyanyi dan bergembira, selesai menanam pohon kami berenang dan bermain di Sungai Cibayawak, anak sungai menuju Sungai Cimanuk.

image

Keriuhan dan kerukunan anak-anak akan menjadi kenangan, mereka berpencar mengikuti orangtuanya yang terusir dari tanah kelahiran. Ironis, ada 22 SD, 2 Mts dan 1 SMPN di daerah genangan Jatigede, sampai sekarang tanpa ada relokasi untuk pendidikan mereka.

Anak-anak, yang sabar dan semangat. Raihlah cita-cita setinggi-tingginya tanpa melupakan tanah air, lemah sagandu yang menyimpan kearifan lokal yang menjaga pohon dan mata air. Membangun negeri tanpa merusak alam sanagri. Semangaaat…

Ribuan pohon itu akan ditebang, satwa hewan berlarian tunggang langgang ke perkampungan. Namun, apa daya warga pun harus berjibaku dengan urusan tanah leluhurnya yang akan ditinggalkan.

Advertisements