Tags

, , , ,

Bukit yang masih menghijau itu bernama Bukit Surian. Bagai atap hijau di antara hamparan coklatnya tanah. Terlihat batang pohon besar di antara rangkaian pohon-pohon kecil yang tumbuh dengan hijaunya. Seakan ingin membuktikan, bahwa tanah ini subur dan gembur untuk pepohonan, bukan untuk digenangi. Walau kalian tebang pohon-pohon kami, tanah ini tetap akan menumbuhkan pepohonan.

image

Wilayah yang dingin karena rimbunnya pepohonan menjadi gersang dan panas. Terlihat banyak abu-abu hitam berserakan habis dari pembakaran. Lagi-lagi tunas pohon bertumbuhan di antara rumput kering. Dalam benak dengan menatap sang surya, pohon-pohon akan terus tumbuh walau dalam genangan waduk.

Saya dan kawan yang ditemani oleh salah seorang penduduk desa menyebrangi Sungai Cimanuk, melihat waduk dan PLTA dari atas Bukit Surian. Sungai yang kami lewati berlumut, licin pada setiap jejak batuan yang kami injak.

image

“Dari Bulan Puasa sungai ini berlumut, akibat dari hulu sungai yang terdapat pabrik,” kata pengantar jalan. “Biasanya sebentar, tapi nggak tahu sekarang malah lama lumutnya.” Lanjutnya.

Kotor. Sungai Cimanuk telah berlumut, belum lagi dengan tanah-tanah gembur yang digenangi,  akan semakin kotor airnya nanti. Berkumpul dalam satu waduk, menyimpan segala permasalahan das sungai.
IMG_3141
Ada banyak batang pohon besar bergelimpangan. Saya membayangkan dulunya itu adalah pohon-pohon jati yang sudah berumur puluhan tahun, mungkin saja ratusan bila melihat dari lingkaran tengah batang pohon.
IMG_3151
Menatap wujud waduk dan PLTA sungguh mengiris hati. Bangunan yang mewujud dari keserakahan manusia. Membabat pohon dan menelantarkan satwa. Kelu terasa, karena saya juga adalah manusia, yang tak berdaya melihat polah manusia lainnya.

Astaghfirullah. Astaghfirullah’azhim. La ilaha ila anta subhanaka inni kuntu minzhzhalimin.

Kyak…kyak…kyak… Terdengar suara elang di atas Bukit Surian. Setelah sebelumnya banyak burung yang beterbangan di atas bukit yang masih menghijau, suara elang hitam bak jeritan yang menanyakan polah manusia. Di mana tugas manusia sebagai khalifah atau wakil di muka bumi? Apa yang akan kelak manusia pertanggungjawabkan atas kerakusan ini?

Sungguh, saya merasa seperti makhluk yang zalim. Bapak yang mengantar kami berdiri di bibir jurang bukit, menatap Sungai Cimanuk, gundulnya bukit, dan seberang jauh di sana ada bukit-bukit hijau yang seakan menyaksikan kami.

Saya yang baru menginjak tanah ini merasakan kegetiran sebagai makhluk bumi, apalagi Bapak yang mengantar kami yang asli orang sini, tentu keadaan ini sangat menyayat hati. Belum lagi dia harus terusir dari tanah airnya sendiri, dan menyaksikan kerusakan dari lemah cai.

Titik yang menjadi kadar untuk sadar, bahwa pembangunan dinding batu waduk itu telah menghancurkan lemah sagandu, menghilangkan pohon dan satwa hutan, melenyapkan mata air, meruntuhkan rumah-rumah warga. Air yang terkumpul pun bukan lagi mata air, tetapi air mata para penghuni bumi Jatigede, Lemah Sagandu.

Advertisements