Cinta, yang mengenang antara kasih sayang Wisnu dan Sawitri. Dua insan yang memadu kasih dalam lipatan alam semesta. Tak ada yang menjadi bala, kala sang surya bersinar dengan terang di ufuk timur.

Kala, menjadi batas antara ruang dan waktu, saat seorang ibu harus menangis karena kepergian sang anak untuk menjemput iblis. Bukan menjadi suatu keinginan, melihat semua lenyap dalam sekejap oleh keegoisan.

Wisnu dan Sawitri menyaksikan tetes air mata ibu pertiwi, ketika anak yang berada dalam pangkuannya dibawa Iblis sebagai tumbal dari keserakahan anak.

“Kenapa kau tega menghancurkan ibu pertiwi? Biarkan anak itu bersama ibunya?” Tegur Wisnu.

“Aku melaksanakan tugasku, menjemput para hambaku, dengan sukarela atau terpaksa,” jawab Iblis tersenyum bangga.

“Apa yang terjadi dengan anak ini? Bukankah dia pengikutmu?” Tanya Wisnu.

“Iya, dia menemuiku, dan mengikuti kemana aku pun pergi. Bahkan, ketika kusuruh untuk mencari harta agar dia berbangga ria, dia malah ingin membunuh ibunya untuk mendapatkan harta peninggalan ibunya.”

“Lalu?” Tanya Wisnu.

“Lalu aku merasa muak dengan semua ini. Aku menyuruhnya berbangga diri, bukan untuk membunuh ibu pertiwi.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Sawitri yang berurai air mata.

“Dia melakukannya, dan hampir saja tali yang ia pasang merenggut nyawa ibunya.”

Hening sejenak dengan menatap tanah yang gersang, perbukitan yang gundul, ranting berserakan menutup mata air.

“Kenapa dia melakukan itu?” Tanya Wisnu dalam sepi.

“Karena cinta.” Jawab Iblis singkat.

“Cinta?” Wisnu dan Sawitri menatap tajam sang iblis.

“Iya.” Jawabnya.

“Apakah cinta itu melukai, bahkan ibu sendiri?” Raung Sawitri.

“Iya.” Jawab Iblis. “Dia mencintai diri sendiri.”

“Apa yang membuatmu mengambilnya? Padahal dia itu sama denganmu?” Tanya Wisnu.

“Iya, karena aku harus mengambilnya, sebagai konsekuensi dari perbuatannya.” Jawab Iblis. “Dia menyakiti ibunya, merusak tanah leluhurnya.”

“Iya,” kata Wisnu dan Sawitri serempak.

“Ketika ada yang merusak ibu pertiwi, maka dia telah merusak sistem alam ini. Aku bagian dari alam tersebut.” Jawab Iblis.

“Apakah dengan kepergiannya, ibu pertiwi akan sehat kembali?” Tanya Sawitri.

“Iya. Tapi akan datang lagi anak yang merusak dengan kehancuran berkeping-keping. Di sanalah, semuanya akan binasa.” Kata Iblis.

“Iya, aku tahu.” Jawab Wisnu dan Sawitri.

“Tidak adakah yang menasehati anak-anak itu?” Tanya Wisnu.

“Itu tugasmu,” kata sang iblis.

“Iya, setiap makhluk memiliki tugas dan fungsi masing-masing.”

Advertisements