Sembilan pusaka sudah berderet di depan Gandasasmita. Ada pedang, tombak, kujang, keras, samurai, trisula, tongkat, pisau, dan jarum. Gandasasmita kaget, karena sembila pusaka itu berderet tepat di hadapannya ketika ia membuka mata dari meditasi.

“Untuk apa semua ini?” Tanya Gandasasmita dalam hati.
“Untuk keperluanmu Kakang Pangeran,” ujar seorang perempuan yang sekarang nampak berdiri tegak di belakang deretan senjata.
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Gandasasmita tegas.
“Itu hadiah dari saya karena sudah membantu mengambil selendang dari sungai,” jawab Arumi. “Sembilan senjata itu hadiah dariku. Itu pusaka kerajaan yang khusus aku berikan kepadamu.”
“Tapi aku sudah memiliki senjata sendiri, tidak membutuhkan banyak senjata,” jawab Gandasasmita. “Lagipula, saya hanya membantu, tidak menginginkan balasan atau imbalan.”
“Itu hadiah Kang,” sela Arumi. “Terima saja sebagai kenang-kenang dan untuk menambah senjata yang suah ada.”

“Tidak, terima kasih.”
“Aku akan tersinggung kalau Kakang tidak menerimanya,” kata Arumi agak sedikit cemberut.
“Maaf, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Terima kasih.” Gandasasmita menangkupkan kedua tangannya.
“Baiklah, aku tidak memaksa,” kata Arumi. “Tapi saya berharap, Kakang bisas inggah ke istana atau rumahku.”
“Maaf, yang ini juga aku tidak bisa ikut. Aku sedang terburu-buru,” Gandasasmita langsung berdiri dan bersiap pergi.

Arumi menatap kesal pada Gandasasmita yang menolaknya terus-terusan. “Tapi aku tidak bisa memaksanya untuk saat ini,” gumamnya sambil menatap yang pergi.
“Putri…” tiba-tiba seekor ular hitam besar berada di hadapan Arumi.
“Wangu, hadang laki-laki itu di perbatasan,” kata Arumi.
“Baik, Putri.”
“Dan jangan sakiti dia,” lanjut Arumi.

***
Derap langkah cepat membangunkan Sang Ratu yang sedang beristirahat. “Ada apa Gudo, kau membangunkan tidurku,” kata Ratu.
“Maaf Ratu, sembilan senjata pusaka kerajaan hilang,” kata Gudo.
“Hilang?” Kata Ratu kaget. “Kok bisa hilang?”
“Ampun Ratu, tadi saya ketiduran.”
“Gudo!” Bentak Ratu.
“Ampuuun…”
“Baiklah, kenapa kamu sampai ketiduran, biasanya kamu waspada. Makanya, aku menugasimu menjaga pusaka negara,” Ratu melembut.
“Saya sepertinya kekenyangan setelah makan daging yang diberikan oleh gusti putri, Ratu.”
“Aku mengerti Gudo,” kata Ratu sambil berdiri. “Sekarang pergilah, kembali ke tempat tugasmu. Aku yang akan mencari sendiri sembilan pusaka tersebut.”
“Baik, Ratu,” Gudo langsung mundur pergi.
“Aku harus mencari Arumi, sebelum dia melanggar peringatan para Batara,” gumam Ratu.

Langkah Gandasasmita semakin cepat, dia merasa seakan ditelikung waktu dan ingin lepas dari itu. Duduk di dekat batu besar pinggir sungai bermaksud untuk istirahat sejenak. Tetapi lepas dari meditasi, dia dihadapkan dengan perempuan yang selendangnya dia ambil. “Kenapa dia bisa berada di hadapanku dan memberiku hadiah sembilan senjata?” lirihnya. “Tapi ya sudahlah, aku harus segera melanjutkan perjalanan.”

Advertisements