Tags

,

Ada yang bilang bahwa hidup itu pilihan. Apakah memiliki banyak harta, biasa aja atau tidak ada. Kadang, dari pilihan hidup membentuk hal tersebut, karena sebagaimana dikatakan Safir Senduk bahwa dalam mengelola harta itu tergantung dari kepribadian atau karakter kita. Maka, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari pilihan hidup kita. Kok bisa begitu?

Saya berpendapat demikian, apalagi setelah mendapat pencerahan dari pakar perencanan pengelola keuangan Safir Senduk. Sabtu, 1 Agustus 2015, bertempat di Plaza Indonesia, saya mengikuti talkshow bijak pengelolaan keuangan yang diadakan oleh Sunlife.

Safir Senduk menyebutkan tiga hal dalam mengelola keuangan, yaitu memiliki investasi sebanyak mungkin, siapkan dana untuk masa depan dan atur pengeluaran. Tiga hal tersebut tentu berkaitan dengan karakter atau kebiasaan kita. Ada keterkaitan antara memiliki banyak harta dengan pola gaya hidup.

Benang merah yang saya pahami dari pemaparan Safir Senduk, bahwa karakter seseoranglah yang akan membawa seseorang menjadi kaya atau tidak. Teori otak kanan dan kiri dalam keterkaitan prilaku pun menjadi gambaran, bagaimana karakter orang yang berbeda-beda.

Dengan demikian, seseorang menjadi kaya atau tidak dengan mengenal karakter diri sendiri. Dari sini saya mulai mengamati karakter saya, baik dalam berprilaku maupun gaya hidup, termasuk dalam pengelolaan keuangan.

Saat ini, profesi saya sebagai blogger. Blogger sendiri telah masuk pada kategori profesional, bila melihat dari contoh profesi yang Safir Senduk tawarkan, yaitu karyawan, profesional dan pengusaha.

Dalam kategori profesional, makin banyak orang meminta jasanya, makin banyak penghasilannya. Hal demikianlah yang saya sadari. Meskipun menekuni bidang Blogger baru setahun, saya menyadari bahwa dalam menjalankan pekerjaan saya harus bersikap profesional.

Sebagai Blogger pemula, penawaran jasa kepada saya belumlah banyak. Fluktuatifnya pendapatan ini yang membuat saya harus bisa mengelola keuangan sebaik mungkin. Ketidakjelasan pendapatan ini menjadi saya akan memilih berhemat dalam keuangan. Aktivitas jajan makanan atau kulineran dan jalan-jalan, harus saya pertimbangkan dengan uang yang saya dapatkan. Namun alhamdulillah, hobi kulineran dan jalan-jalan ini terwadahi dengan aktivitas ngeblog, sehingga pembiayaan menjadi ringan.

Ada dua tabungan yang saya siapkan, pertama, tabungan bisnis. Tabungan sebagai proses alur transaksi dari pendapatan yang saya dapatkan setiap ada proyek blogger ataupun hadiah perlombaan ngeblog. Kedua, tabungan pribadi. Dari tabungan bisnis tersebut, saya transfer setiap bulannya ke tabungan pribadi yang saya gunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang sudah saya tetapkan kategori dananya.

Hal tersebut yang saya lakukan dan alhamdulillah dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun baru menjadi blogger pemula. Tentunya, hal ini harus saya sertai dengan profesionalisme pekerjaan yang saya lakukan.

Dalam poin pengelolaan keuangan yang Safir Senduk sebutkan, saya memulainya dari urutan ketiga, yaitu mengatur pengeluaran. Dengan hal demikianlah, saya berharap dapat menyiapkan dana untuk masa depan, termasuk memiliki investasi sebanyak mungkin.

Metode yang saya lakukan dengan memiliki dua tabungan serta perhitungan rincian bulanan dapat membantu saya ketika lebaran. Setidaknya lebaran kemaren saya tidak memiliki hutang untuk keperluan lebaran, karena pos-posnya sudah saya perhitungkan sebelumnya, seperti ongkos pulang kampung dan balik mudik dan zakat fitrah dapat terpenuhi.

Sesuai keadaan uang, saya melihat pakaian saya masih banyak yang layak pakai dan bagus, maka saya tidak membeli baju lebaran. Saya menyiapkan pos-pos yang memang penting ketika lebaran. Adapun cemilan, kue lebaran atau makanan lebaran, saya masukkannya pada pos makanan bulanan biasa karena saya masih tinggal sama orangtua ketika pulang kampung.

Di saat sekarang ini memang waktu saya untuk berhemat dan benar-benar mengatur pengeluaran. Saya menyesal ketika menjadi karyawan saya banyak mengikuti keinginan seperti jalan-jalan dan kulineran. Tidak memikirkan masa depan, seperti waktu sekarang, yang berada pada masa transisi. Di sini memang pentingnya menyisihkan dana untuk masa depan, salah satunya dengan asuransi dan investasi. Pelajaran memang pahit, tetapi ini menjadi cambuk untuk bisa mengatur keuangan lebih baik.

Lebaran kali ini menjadi momen untuk introspeksi diri, baik dalam gaya hidup dan pengelolaan keuangan. Dalam kehidupan, menyadari kesalahan merupakan momen hidayah untuk menjadi hidup lebih baik.

Advertisements