Tags

Kicau burung mengiringi sang surya yang mulai meninggi. Air embun berkerlipan bak mutiara yang berjatuhan. Gandasasmita memilih meninggalkan Arumi, perempuan yang tidak ia kenal. Bahkan, seperti sebuah jejak, selendang pinknya menjadi sebuah tanda bahwa memang perempuan itu sebenarnya berada dekat daerah situ.

Arumi, nama yang pas untuk menggambarkan seorang perempuan yang sedang berada dalam jejak kehidupan. Tidak menyangka, selendangnya yang lepas telah mempertemukannya dengan lelaki tampan yang memancarkan kehidupan. “Aku harus mendapatkannya,” gumam Arumi.

“Apa yang akan kau dapatkan, anakku,” kata seorang perempuan setengah tua yang sudah berdiri di dekatnya.
“Tidak, ibunda ratu. Tadi saya bertemu dengan manusia yang sudah menolong mengambil selendang saya.”
“Seperti kebiasaanmu Arumi, kamu selalu mengincar manusia,” sambil tersenyum.
“Bukankah aku juga setengah manusia, ibu. Seperti ibu?” Kata Arumi menyela.
“Iya, ibu tahu. Tetapi ingat karma anakku, sebaiknya kamu tidak menyakiti mereka apalagi membunuhnya,” kata sang ratu.
“Baik ibu,” jawab Arumi. “Ibu, saya melihat manusia ini berbeda, dia tidak memedulikanku,” keluh Arumi.
“Anakku, di dunia ini banyak jenis makhluk dengan berbagai karakternya. Begitu pula dengan manusia, tidak semua akan terbujuk dengan kecantikanmu. Sifat dan karakter tersebut di masa akan datang malah akan digambarkan seperti kita, manusia ular.”
“Ibu, saya belum mengerti?”
“Mereka melihat bisa atau racun pada tubuh kita, sehingga perkataan yang tajam dan kasar mereka umpamakan seperti ular berbisa.”
“Ooooh,”
“Iya, seperti itu. Aku mendapat kabar dari Batara bahwa akan datang manusia melewati kerajaan kita, aku sudah mengumumkan untuk tidak mengganggunya. Hanya kamu yang belum tahu, Arumi,” kata sang ratu.
“Baik, ibu,” kata Arumi.
***

Matahari semaakin terik, Gandasasmita terus mengikuti alur sungai. Ia berjalan tanpa istirahat. Lelah terasa olehnya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ia ingin cepat menuju tempat tujuannya, meskipun belum tahu tempatnya. Dengan mengikuti kata hati, ia ikuti alur sungai yang ia temui.

Entah sudah berapa lama ia berjalan, tetapi dia baru menemui satu manusia, Arumi. Sungai seringkala disebut sebagi peradaban, kenapa saat ini dia belum menemukan manusia lainnya selain Arumi. Rasa lapar membuat matanya tertuju pada pohon manggis yang berdiri tegak di hutan, dekat sungai yang akan dilaluinya.

Gandasasmita mengambil manggis tersebut kemudian memakannya. “Sedang apa kau berada di sini?” terdengar suara tua menegurnya.
“Maaf aki,” kata Gandasasmita, “Saya sudah mengambil buah ini tanpa ijin. Saya kira ini hutan tak bertuan, Aki. Maafkan saya kalau mengambil tanpa ijin.”
“Pohon ini tumbuh sebelum aku hadir. Nikmatilah buahnya,” katanya. “Namaku Panyumpit. Bukan pemilik hutan ini,” sambil tersenyum.
“Terima kasih Aki. Aki tinggal di sini?”
“Tidak, Aki cuma lewat aja, sedang berburu rusa untuk tuan putri.”
“Daerah sini masuk ke kerajaan apa, Ki?” Tanya Gandasasmita.
“Ini Kerajaan Kartasura, tapi di bawah perlindungan Kerajaan Samdasura dan Mangunparta.”
“Saya belum mengerti, Aki?”
“Nanti kamu akan mengerti. Sebentar lagi kamu akan berhadapan dengan Kerajaan Samdasura. Berhati-hatilah, ingat pesan gurumu.”
“Baik Aki, terima kasih.”
“Untuk menjadi Darmaraja, seperti menelusuri diri, di sana akan menemukan jejak peradaban, bermula dari tiada, kemudian ada, lalu tiada,” dalam sekedip, Aki Panyumpit sudah tidak ada di hadapan Gandasasmita.

Advertisements