Tags

Pengantar:

Bismillahirramanirrahiim. Tulisan ini hanya fiksi belaka, mohon maaf bila ada persamaan nama atau tempat. Terima kasih

Sebuah kelahiran yang berawal dari perjanjian antara yang pencipta dan yang dicipta. Ada rangkaian yang menjadi sebuah perjalanan menjadi satu kesaksian dengan ikatan janji dalam kehidupan.

Sesungguhnya, tak ada yang bisa melepaskan suatu ikatan dengan sang pencipta. Begitu adanya dalam setiap titisan yang mengalir pada tubuh sang pelindung.

Rakean Darmaraja menghadap sang raja Prabu Aji Putih yang sedang bertapa di hutan paniisan, dekat sungai yang mengalir menuju deras alur Cimanuk yang menjadi satu padu dalam hal yang ada dengan setiap sedu.

“Apa yang membuatmu ingin menjadi seorang raja tanpa negara, Gandasasmita?” Tanya Sang guru dalam hening di atas batu yang beriak air.

“Aku ada dalam sebuah perjalanan menderma mengikutimu, sang raja,” jawab Gandasasmita.

“Sungguh, apakah kamu telah siap menjadi seorang darmaraja?”

“Saya siap guru,” jawab Gandasasmita.

“Bila itu kehendakmu, maka berangkatlah pada titik tunggal yang ada di Satupadana Anggasetra. Di sana, pembelajaranmu tentang Darmaraja akan kamu dapatkan.” Jawab Sang Guru.

“Daerah manakah itu, Guru?” Tanya Gandasasmita.

“Ikuti kata hatimu, nanti kamu akan mengetahuinya. Seumpaman semua yang ada engkau hadirkan, hadapkan semua kepada Sang Maha Tunggal.”

“Baik, Guru. Terima kasih.”

Gandasasmita mundur dari pertapaan sang guru, berangkat dengan tekad menjadi darmaraja, seperti sang guru yang hidup dalam kasih sayang.

***

Langit sudah mulai terang, sang surya kuning kemerahan dari balik bukit yang terlihat jelas dari kawasan yang belum bernama. Gandasasmita terus berjalan, mencari tempat yang bernama Satupadana Anggasetra.

Setelah melalui bukit hijau, yang penuh dengan pohon jati, Gandasasmita melihat sungai, dia segera menuju sungai untuk membasuh muka.

“Tolooong,” terdengar teriakan perempuan yang meminta tolong.

Gandasasmita melirik ke kana dan kiri mencari arah suara. Di tengah hutan yang berpadang ilalang tanpa melihat satu atap rumah, dia mendengar jeritan perempuan.

“Toloooong,” suara semakin dekat dengan Gandasasmita, dan melihat selendang berwarna pink atau merah jambu melintas.

Dengan sigap Gandasasmita menangkapnya, dan melirik pada suara wanita yang semakin mendekat.

“Terima kasih, sudah membawakan selendangnya Kang,” ujar wanita berparas cantik yang tersengal-sengal.

“Sama-sama,” jawab Gandasasmita pendek. Setelah memberikan selendang pink, Gandasasmita berlalu tanpa menoleh lagi pada perempuan tersebut.

“Kang!” Teriak perempuan tersebut. Gandasasmita menoleh, “Siapa nama Akang?”

“Gandasasmita,” jawabnya pendek.

“Nama saya Arumi, saya boleh minta tolong Akang mengantar saya pulang. Tadi saya tersesat.”

Gandasasmita menatapnya, dia melihat perempuan itu seperti habis berlari mengejar selendang yang terbawa hanyut aliran sungai.

“Aku kira kamu tahu jalan pulang,” jawab Gandasasmita sambil berlalu pergi mengikuti aliran sungai.

“Seperti yang sudah kuduga,” gumam perempuan itu sambil tersenyum.

Bersambung

Advertisements