Tags

, , ,

Kabuyutan harus dipertahankan. Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah. Demikian penggalan Amanah Galunggung yang tertulis dalam naskah  Sunda Kuno.

Tulisan yang menggambarkan, bahwa di suatu masa, tanah air akan dirusak, ibu pertiwi akan diperkosa oleh penguasa yang zalim. Pengrusakan yang dilakukan secara masif, dari mulai administrasi sampai budaya yang dieliminasi.

image

Ada banyak kabuyutan yang hilang. Salah satunya Kabuyutan Rancamaya. Saya teringat perkataan teman sekelas yang bercerita perjuangan rakyat Rancamaya yang sampai dibrendel menjadi kuburan massal. Atas nama pembangunan, kabuyutan disulap menjadi perumahan dan lapangan golf.

Sekarang, Kabuyutan Cipaku, akan ditenggelamkan dengan dalih pembangunan untuk masyarakat banyak. Sebelumnya, secara administratif, Kabuyutan Cipaku dipecah secara menjadi tiga desa, yaitu Paku Alam, Karang Pakuan dan Cipaku.

image

Terdapat situs atau jejak para leluhur Sumedang sekaligus Sunda di wilayah Cipaku, beserta hutan larangan yang dijaga langsung oleh penduduk dengan kepercayaan dari kearifan lokal yang sudah turun temurun pemeliharaannya.

Kembali, akar sejarah Sunda akan ditenggelamkan, seakan ingin menghapus silsilah leluhur atau menghilangkan akar budaya dan asa muasalnya Sunda.

Dalam penggenangan bendungan Jatigede ini malah akan merusak hutan dan sawah subur. Sungguh egois pemimpin yang tidak memikirkan kabuyutannya, dan malah mau merusaknya. Masyarakat mana yang akan disejahterakan, bila penduduk Jatigede terdampar dan menjadi warga tak berpendudukan?

image

Bendungan Jatigede sudah diperingatkan oleh leluhur dengan cerita rakyat yang turun temurun. Akan datang suatu masa, Jatigede akan dibendung. Bukit batu harus dihabiskan, kalau nggak, bendungan burung (batal) dibangun. Kadipaten ka papatenan yang berarti Kadipaten kena dampaknya dengan banyaknya yang meninggal, Cirebon kabongbodasan yang berarti Cirebon kena getahnya dari efek bendungan.

Cerita turun temurun mengenai bendungan sudah para leluhur simbolkan dengan nama-nama tempat. Ada nama warung peti, ujung jaya (tempat relokasi warga), bukit paregreg yang tidak terkena dampak, bukit surian yang menertawakan bendungan, Cinambo yang menjadi siloka Cina nu bodo karena berniat membangun bendungan.

Siloka tempat tersebut hendaknya menjadi peringatan dan pengingat akan dampak pembuatan bendungan. Seperti menantang Uga Darmaraja, Presiden Jokowi pun menurunkan Pepres 1 tentang penggenangan Jatigede.

Pamali, kembali dilanggar. Kabuyutan akan ditenggelamkan dengan situs dan akar budaya Sumedang sekaligus Sunda. Gending tangis alam sudah berbunyi, pamali bukan imajinasi, tetapi pasti. Hanya Tuhan Yang dapat melindungi kami dan alam semesta ini.

Advertisements