Tags

Udara segar memenuhi paru-paru. Pagi sekali saya dan teman-teman sudah sampai di Galunggung. Gelap masih menyelimuti, tetapi suasana ramai sudah mulai terasa di parkiran kawah Galunggung.

Saat itu masih gelap, kerlap kerlip Kota Tasikmalaya terlihat indah dari ketinggian parkiran gunung. Warung-warung tenda sudah mulai buka, menjajakan makanan ringan dan perlengkapan naik gunung.

Perjalanan ke kawah harus melalui ratusan anak tangga. Bulan purnama terlihat jelas seperti tepat berada di atas puncak gunung, tak sabar ingin mendekat dan menyentuhnya dengan tangan yang sudah mengigil kedinginan.

image

Suasana terang, rembulan bersinar penuh menyinari kegelapan kabut fajar. Setelah rapi-rapi di parkiran, kami bersiap naik meniti tangga satu persatu menuju kawah. Dengan susah payah kami berjalan, disaksikan oleh bulan yang masih terang benderang.

Ketika naik tangga, banyak pemuda yang turun tangga, sepertinya mereka bermalam di atas sana. Selang seling istirahat sekejap di antara titian, sambil melihat kerlipan lampu listrik nun jauh di bawah sana.

Menghirup udara sedalam-dalamnya mumpung masih segar, menanjak satu demi satu anak tangga yang bersusun ratusan titian. Jauh, terasa jauh anak tangga. Padahal, mana ada naik gunung dengan titian tangga. Jalan ini sudah termasuk ringan, bahkan anak kecil juga bisa melewatinya asal kuat berjalan.

Setelah sampai sekitar kawah, kami menghirup udara sepuas-puasnya. Melihat puncak gunung yang seperti dilapis emas. Sang surya datang sehingga memandang puncak gunung bagai diliputi kemilau emas sang surya. Sejenak duduk di bawah tenda warung yang berjajar, menyajikan aneka rupa makanan ringan.

Seputar kawah sudah ramai, mungkin yang bermalam di sana. Kami mlipir ke arah ujung yang nantinya menuju jalan setapak ke bawah kawah, ada tenda kosong dan tempat duduknya. Di sana ada tenda kecil warna orange, kami kira kosong. Ternyata setelah lama melihat puncak gunung dan sang surya, keluar dari tenda tersebut sepasang muda-muda.

image

Galunggung nangtung, Galunggung yang berarti Galuh nu agung, menjadi pusat keresian dengan hikayat cerita yang diberi judul Amanah Galunggung. Tak berani berprasangka pada muda mudi dalam satu tenda, pamali sudah mereka langgar. Apakah karesian Galunggung sudah mulai pudar? Sehingga terasnya disinggahi oleh orang-orang tak bertuan.

Galunggung menjadi babak dari keagungan atau kebesaran gunung. Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian menjadi cerita bertutur akan sejarah Galunggung. Sebagai warga yang berada di kaki Gunung Galunggung, menjadi sedih dan mengkhawatirkan bila gunung ternoda oleh tingkah polah manusia. Maafkan kami…

image

Sang surya memancar terang, kami bergembira dengan poto-poto dan mendokumentasikan datangnya sang surya. Ini baru pertama saya menjejaki Galunggung, melihat kawah dan menatap puncak Galunggung yang keemasan terselimuti sinar sang surya.

Entah mengapa, saya teringat dengan edaran di internet akan naskah yang diberi judul Amanat Galunggung oleh penerjemahnya. Dengan membaca dari Wikipedia disebutkan bahwa naskah ini berasal dari Kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan. Sekarang, naskah tersebut ada di Perpustakaan Nasional RI dengan nomer koleksi L 632 Peti 16.

Naskahnya ditulis dari daun nipah dengan menggunakan tinta hitam. Adapun hurufnya menggunakan Sunda Kuno atau bahasa Sunda Kuno. Tebalnya naskah ada 7 lembar daun nipah, atau 13 halaman. Setiap halaman mengandung 4 baris tulisan.

Amanat Galunggung, judul yang diberikan oleh filolog Saleh Danasasmita, yang mengkaji naskah tersebut. Adapun Amanat Galunggung sendiri berisi ajaran moral. Dalam naskah ini antara lain dusebutkab bahwa kabuyutan harus dipertahankan. Raja yang tidak busa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah.

Poin-poin dari naskah tersebut, yaitu:
* Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut tanah kabuyutan (tanah yang disakralkan).
* Barangsiaoa yang mendudukan Galunggung sebagai tanah yang disakralkan akan memperoleh kesaktian, unggul perang, berjaya dan dapat mewariskan kekayaan sampai turun temurun.
* Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah daripada putra raja yang tidak mampu mempertahankan tanah airnya.
* Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.
* Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu menpertahankan tanah air pada jamannya.

Berikut beberapa tulisan mengenai moral, yaitu:

Ulah pacogrégan, ulah paheuras-heuras, sakuduna rukun gawé sauyunan boh dina laku lampah boh dina udagan hirup;Ulah marebutkeun perkara jeung jelema anu geus bener, jujur, jeung hadé haté.Ulah maéhan nu teu boga dosa, ngarebut hak nu teu boga dosa, nganyenyeri nu teu tuah teu dosa, ulah silih curiga.Ulah marebutkeun kalungguhan atawa kakawasaan, jsté.

Demikian beberapa cuplik isi naskah yang berkenaan dengan Galunggung, dan oleh penerjemahnya diberi judul Amanat Galunggung. Jejak sejarah yang tertulis dalam lontaran naskah dengan bahasa Sunda Kuno.

Perjalanan ke Gunung Galunggung, seakan mengingatkan kembali akan budi luhur kesundaan dalam menapati jalan kehidupan. Membaca kembali sejarah, bahwa di balik berdirinya Gunung Galunggung, tersimpan kearifan dan kebijakan hidup yang harus diteladani.

Advertisements