Tags

Bicara Migas, maka akan membahas tentang sumber daya alam Indonesia. Kita sering mendengar bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa, termasuk minyak dan gas. Namun, sekarang ini rakyat Indonesia merasakan kenaikan BBM dan gas, maka pengelolaan Migas pun menjadi sorotan khalayak Indonesia. Begitu pula dengan SKK Migas, institusi ini disoroti dan dianggap pemilik kebijakan dalam pengelolaan Migas. Benarkah demikian?

Saya sendiri mengenal SKK Migas dari berbagai pemberitaan media massa. SKK Migas selalu dikaitkan dengan para pengusaha minyak yang berinvestasi di Indonesia. Dalam hal ini, ada banyak prasangka pada SKK Migas, ada istilah tak kenal, maka tak sayang. Bisa juga diartikan bila tak kenal akan memunculkan prasangka.

Jum’at, 3 Juli 2015, saya berkesempatan mendengarkan penjelasan dari Pak Elan Biantoro, Kepala Bagian Humas SKK Migas. Dengan jelas, Pak Elan memaparkan tentang SKK Migas dan tugasnya.

Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 33, yang diterjemahkan pada UU Nomer 22/2001, bahwa
Migas sebagai sumber kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian, siapa pun pemilik permukaan tanah, migas yang terkandung di dalamnya tetap milik negara. Proses pembagiannya menjadi bagi hasil.

SKK Migas memiliki tugas sebagai instansi yang bertugas pada pokok-pokok penguasaan dan pengusahaan kegiatan usaha hulu Migas. Kegiatan usaha hulu Migas dilaksanakan dan dikendalikan melalui kontrak kerja sama.

Adapun persyaratan dari kontrak kerjasama tersebut adalah kepemilikan SDA tetap di tangan pemerintah sampai titik penyerahan. Pengendalian manajemen pun tetap berada pada badan pelaksana. Modal dan resikonya ditanggung oleh badan usaha atau bentuk usaha tetap.

SKK Migas sendiri bertugas untuk melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap kontrak kerja sama. Proses usaha hulu pun membutuhkan waktu yang lama dan dana yang sangat besar. Tidak banyak yang bertahan dengan usaha eksplorasi Migas, karena membutuhkan biaya yang sangat banyak.

Indonesia memang pernah memiliki cadangan minyak bumi dalam keadaan build up stage (90% minyak + 10% air) pada tahun 1960-1977. Namun, pada tahun 1997-2013, kondisi Indonesia sudah mature stage dengan 90% air + 10% minyak.

Demikianlah kondisi Migas di Indonesia sekaligus tugas dari SKK Migas itu sendiri. Institusi yang lahir untuk menyelematkan SDA Indonesia dan memanfaatkannya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Ngabuburit dengan ngobrol Migas memang asik, sampai tak terasa sudah adzan Maghrib.

Sebagai rakyat, tentu besar harapan kami agar rakyat bisa menikmati fasilitas Migas dengan mudah dan ringan biaya, kalau bisa mah gratis. Kekayaan sumber daya alam Indonesia hendaknya diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Sekali merdeka, tetap merdeka. Merdeka!!!

Advertisements