Tags

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nur: 22)

Dalam perjalanan hidup, semua makhluk hanya dilihat dari takwanya. Ketakwaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa melihat pada materi. Namun demikian, materi dapat membantu dalam menjalankan ketakwaan dengan mencintai sesama manusia.

Ibu Warsem adalah seorang ibu yang sudah berusia 60 tahun dan memiliki penyakit mata katarak. Keadaannya yang kukurangan materi dan penyakit yang dideritanya tidak menjadikannya berputus asa, dia dan keluarganya tetap semangat untuk hidup.

Ibu Warsem memiliki tiga anak, 1 perempuan dan dua laki-laki. Anak perempuannya sudah menikah dan tidak tinggal bersamanya. Kini, ibu Warsem diurus oleh dua anak laki-lakinya, Darim dan Karso.

Darim bekerja sebagai pembersih sekolah dengan gaji Rp.250 ribu. Dia juga bekerja serabutan lainnya untuk menambah pendapatan. Adapun Karso, dia sedang dalam proses perawatan karena penyakit yang dideritanya. Hidup dalam serba kekurangan, tak mematahkan semangat Darmin untuk mencari pengobatan untuk ibunya.

Dia menghubungi Dompet Dhuafa untuk mencari keringanan perawatan katarak ibunya. Namun sayang, pada proses selanjutnya Ibu Warsem tidak bersedia dioperasi. Hal tersebut tidak membuat patah semangat Darim, dia tetap mencari pengobatan untuk ibunya.

“Alhamdulillah, ibu saya sembuhnya dengan pengobatan herbal. Saya mencari tahu pengobatan alternatif herbal untuk ibu saya,” demikian pernyataan Darim.

Ahad, 12 Juni 2015, saya dan teman-teman Citizem Jurnalisme Indonesia bersama Dompet Dhuafa berkesempatan menjenguk Ibu Warsem sekeluarga. Tempatnya berada di daerah Klender, Jakarta Timur.

Menuju rumahnya melalui gang-gang sempit, kemudian kami diajak naik tangga kayu, dan masuk ke kamar pintu kedua dari tangga. Ruangan tersebut tanpa jendela, bagi yang tiada biasa akan sangat kegerahan walau kipas angin menyala.

Ruangan yang dihuni oleh ibu dan anak ini disewa sebesar Rp.250 ribu. Tanpa kamar mandi ataupun dapur, membuat saya membayangkan kesulitan mereka dalam penambahan biaya hidup mereka. Kamar mandi umum letaknya cukup jauh dari kamar sewa, sehingga mereka membatasi untuk ke kamar mandi di waktu malam, apalagi bagi Bu Warsem yang sering kesenggol motor yang lewat.

Kami disambut hangat oleh Ibu Warsen, Darim dan Karso. Hadir pula Pak Fauzan dari LPM Dompet Dhuafa yang sedang memberikan paket lebaran. Paket lebaran ini sebagai realisasi dari Program Savenet.

Program Savenet merupakan program jaminan makan sebesar Rp.300.000 per bulan. Uang sejumlah itu akan diberikan oleh Dompet Dhuafa dalam bentuk kebutuhan pokok setiap bulannya. Proses pembelanjaan kebutuhan pokok tersebut dilakukan di warung atau toko terdekat. Wakil keluarga dapat mengambilnya setiap bulan kepada warung tersebut.

Program ini akan berlangsung tiga bulan, kemudian akan dievaluasi kembali sehingga bisa diperpanjang. Bu Warsem baru mendapatkan program ini, sehingga selama tiga bulan dapat dilihat untuk berikutnya.

Melihat kondisi Bu Warsem, sangat tepat bila LPM Dompet Dhuafa menyerahkan paket bantuan sembako lebaran kepada mereka. Ada satu hal yang menarik dari pendapat Darim, anaknya Bu Warsem, bahwa mereka sangat senang atas bantuan paket lebaran ini. Namun dia tetap berharap untuk dapat mandiri, karena bagaimana pun dia tidak ingin menjadi pengemis yang meminta-minta bantuan dari orang lain. Di akhirat kelak, orang yang meminta-meminta akan kurus mukanya.

Iya, keinginan untuk tetap semangat menjalankan hidup dan bersungguh-sungguh dalam bekerja menjadi pelajaran hidup. Saya semakin yakin, bahwa pada dasarnya hidup ini berdasarkan kasih sayang Allah.

Advertisements