Sebuah perjalanan yang membawa saya pada bentangan sawah dan rimbunnya hutan. Sejuk udara dan kicau  burung membuat saya tercenung akan kehidupan manusia yang tidak sendiri sebagai makhluk bumi.

Hamparan padi sudah menguning, sebentar lagi panen raya. Setiap butir padi ada isi untuk kami makan nanti. Keceriaan para petani Jatigede tidak lama lagi, sebentar lagi mereka dipaksa pergi, tercerabut dari tanah airnya.

Pembangunan yang didengungkan telah membuat masyarakat Jatigede kelimpungan, kemana mereka harus pergi sedangkan ganti rugi tidak cukup untuk membangun rumah baru di tempat yang tidak mereka ketahui.

Mereka diberi Rp.122 juta untuk satu bangunan rumah lama, sedangkan untuk rumah dengan KK baru hanya 29 juta. Adapun sawah dan kebon telah pemerintah abaikan.

Mereka tinggal turun temurun, bahkan sebagai cikal bakal kabupaten Sumedang berasal dari Cipaku. Namun sayang, pemerintah mengusir mereka bak menumpang di tanah yang bertuan tanah. Mereka bukan pengganggu, kenapa harus terusir dari tanah air mereka.

“Ibu diusir, hanya diberi 122 juta mau bisa dibeli apa? Belum lagi nanti mau kerja apa? Sawah sudah tidak punya.” Ujar seorang ibu, warga Cipaku.

Kalau pembangunan, apa yang akan dibangun? Rakyat malah akan menjadi sengsara karena tempat tinggal dan pekerjaan mereka hilang.

Semua tercerabut dalam kata pembangunan, padahal menyengsarakan rakyat. Apa yang pemerintah siapkan? Rumah dan lapangan pekerjaan?

Bila selalu didengung-dengungkan pemimpin yang adil, maka saat inilah wahai ustadz yg menjadi gubernur bertindak adil? Kalau memang seorang yang merakyat, saat inilah wahai presiden untuk memerhatikan rakyat Jatigede? Apa yang sebenarnya kalian cari?

Bila pencitraan yang kalian harapkan dengan merasa mampu menenggelamkan Jatigede, maka kalian akan dikenang sebagai gubernur dan presiden yang telah mengusir warga Jatigede dari tanah airnya.

Ada banyak jejak sejarah Sunda yang akan tenggelam, maka kalian pun akan dikenang sebagai pemimpin yang mencabut akar sejarah Sunda. Warga Sunda akan mencap kalian sebagai pemimpin yang yang telah menenggelamkan akar sejarah. Masih ingatkah tentang pemberontakan Pangeran Dipenogoro pada Belanda? Itu karena Belanda ingin menjadikan makam para leluhur Dipenogoro sebagai jalan. Lalu apa bedanya kalian Gubernur Jawa Barat dan Presiden RI 2015 dengan penjajah Belanda yang akan menenggelamkan situs budaya Sunda?

Trang…trang…tring…tring…
Langit ceudeum nutup panon nu keur peureum
Kapoekan ku silaru nu eunteup na hurung seuneu
Trang…trang…tring…tring…
#SaveJatigede

Advertisements