Menarik ketika membaca wall atau timeline yang membincang Islam Nusantara. Saya seakan dibawa kembali pada istilah-istilah yang disematkan pada kata Islam.  Saya melihat istilah-istilah tersebut sebagai perkembangan dari metode dakwah. Adapun dakwah Islam itu sendiri, saya menyimak pengertian dakwah Islam menurut Amrullah Ahmad, bahwa dakwah Islam itu aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, cara berpikir bersikap dan bertindak manusia pada dataran kenyataan individu dan sosio kultural dalam rangka mengusahajan terwujudnya ajaran Islam dalam semua degi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.

Mengenal istilah Islam Nusantara berawal ketika membaca buku Azyumardi Azra yang berjudul, Islam Nusantara; Jaringan Global dan Lokal (2002:31). Dalam penjelasannya, saya melihat pada sudut pandang metode dakwah, bahwa Azyumardi Azra mengidentifikasikan empat hal yang menjadi proses masuknya Islam di Nusantara, yaitu dibawa langsung dari tanah Arab, diperkenalkan oleh para guru atau juru dakwah, orang-orang yang pertama masuk Islam adalah para penguasa, dan sebagian besar para juru dakwah datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.

Seiring waktu berjalan, perluasan medan dakwah yang menyebar di seluruh negeri, tentunya akan bersentuhan dengan realitas sosio kultural dan perubahan sosial. Amrullah Ahmad menyebutkan dua kemungkinan yang terjadi dalam pergumulan dakwah Islam dengan realitas sosio kultural, pertama, dakwa Islam mampu memberikan pengaruh terhadap lingkungan, dalam arti memberi dasar filosofi, arah, dorongan dan pedoman perubahan masyarakat sampai terbentuknya realitas sosial baru. Kedua, dakwah Islam dipengaruhi oleh perubahan masyarakat dalam eksistensi, corak, dan arahnya (1985:1).

Pergulatan dakwah Islam dengan realitas sosio kultural di Indonesia memunculkan gerakan Islam modern dan gerakan Islam tradisional. Demikian yang dikupas Deliar Noer dalam bukunya, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Dari buku tersebut melahirkan istilah Islam Modern dan Islam Tradisional.

Dalam identifikasi Deliar Noer, bahwa kelompok gerakan tradisi mengakui taklid dan menolak ijtihad, serta lebih memperhatikan tasawuf, Sedangkan kelompok gerakan modern adalah gerakan yang mengaku kembali pada Qur’an dan hadis, serta berkeyakinan masih terbukanya pintu ijtihad.

Memasuki abad 21, penetapan istilah tidak lagi terfokus pada modernis mengaku menegakkan ijtihad, yang tradisionalis mengikuti mazhab atau bertaklid, tetapi penamaan istilah yang muncul sekarang ini lebih mengarah pada pola pemikiran dan pergerakan dalam menjalankan ajaran Islam.

Seperti istilah Islam modern dan Islam tradisionalis yang menampilkan wajah Islam yang berbeda, Carles Kurzman memilih istilah Islam revivalis dan Islam liberal (2001), sedangkan R William Liddle menyebutnya dengan Islam skripturalis dan Islam substansionalis (1993:53).

Islam liberal memiliki pokok pikiran oposisi terhadap teokrasi, dukungan terhadap demokrasi, jaminan terhadap hak-hak perempuan, jaminan terhdap hak-hak non Muslim, pembelaan terhadap kebebasan berpikir, dan kepercayaan terhadap potnsi perkembangan manusia tentang kemajuan.

Islam revivalis sebagai kelompok yang lebih mengedepankan bahasa Arab sebagai bahasa wahyu, menegaskan bahwa politik lokal sana dengan memperebutkan kedaulatan lokal, otoritas penafsiran berada pada kelompoknya serta membangkitkan kembali praktik keagamaan periode awal Islam.

Istilah Islam fundamentalis sendiri menunjukkan pada gerakan pembaruan, reaksi terhadap kaum mmmodernis, reaksi terhdap westernisasi dan keyakinan terhadap Islam sebagai ideologi alternatif (Jalaluddin Rakhmat, 2002:7).

Pada perkembangannya, tradisi fundamentalisme telah terbingkai dalam intelektualisme di dalam diri individu-individunya yang dibesarkan dalam tradisi akademisi di kampus dengan terwadahkan dalam gerkan tarbiyah (Ali Said Damanik, 2002:15-16).

Islam substansialistik adalah kelompok yang lebih mementingkan dasar berupa substansi atau kandungan iman dan amal daripada bentuknya, pesan Al Qur’an dan hadis tidak mengalami perubahan karena perubahan zaman dan esensinya bersifat universal, sikap toleran terhadap sesama muslim dan non muslim, al Qur’an tidak memaparkan atau bahkan menyebutkan negara Islam sehingga syariat Islam tidak bisa dijadikan hukum positif (William Liddle, 1993)

Liddle juga menyebutkan Islam skripturalis adalah para penulis media dakwah yang berdasarkan teksnya lebih banyak memerhatikan dakwah Islam, dan banyak mengirim para dai ke seluruh pelosok tanah air.

Demikian beberapa istilah yang ingin menggambarkan gerakan atau metode dakwah Islam. Sangat menarik ketika istilah Islam Nusantara hadir kembali dan diusung dalam berbagai wacana. Bagaimanapun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, metode penyampaian dakwah akan menemukan caranya tersendiri.

Wallahu’alam bishshawab.

Advertisements