Tags

,

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada  memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS.  Yusuf: 33)

Penjara merupakan tempat yang terkurung bagi para narapidana, atau orang-orang yang melakukan kejahatan. Namun demikian, ternyata tidak semua yang terpenjara para penjahat. Ada yang masuk penjara karena fitnah tuduhan melakukan kejahatan sehingga dia masuk penjara.

Bicara penjara, kita mengenal Nabi Yusuf yang kisahnya tertuang jelas dalam satu surah, surah Yusuf. Dalam perjalanan hidupnya Nabi Yusuf, beliau pernah masuk penjara karena disangka telah menggoda Zulaikha. Sebagaimana pada ayat 33 di atas, Nabi Yusuf memilih penjara untuk terhindar dari tipudaya.

Namun demikian, Nabi Yusuf tetap berusaha mengajukan banding dengan berupaya untuk bertemu raja. Beliau menitip pesan kepada teman tawanan yang akan bebas untuk menyebut dirinya kepada raja. Walaupun melampaui waktu yang lama, temannya pun menyebut nama Yusuf kepada sang raja. Akhirnya, Nabi Yusuf keluar dari penjara, dan pengadilan atas kasus Yusuf dibuka kembali, kebenaran pun terungkap, dan nama baik Yusuf pulih kembali sekaligus beliau diangkat menjadi pejabat negara.

Proses perjalanan Nabi Yusuf yang sejak kecil sudah digembleng dengan berbagai perjalanan hidup, termasuk berpisah dengan ibu bapaknya, menjadikan hikmah bahwa kesabaran itu adalah kebaikan. Iya, ayah Nabi Yusuf, Nabi Yakub menahan rindu ingin bertemu anaknya sehingga buta keduamatanya.

Perjalanan hidup mereka merupakan proses menuju kepada Tuhan. Landasan hidup kepada Allah, sehingga seberat apa pun perjalanan hidup, mereka tetap terima dengan kesabaran dan keikhlasan.

Penjara bukan suatu kungkungan bagi jiwa-jiwa yang merdeka, tetapi menjadi tempat pembelajaran. Ketika Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka di penjara karena perbedaan politik dengan penguasa saat itu, dia memilih mengaji dan menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan tekun mengulang kembali hapalannya, mengeja ayat demi ayat, merenungkan satu per satu maknanya sehingga khatam. Selama dua tahun empat bulan dalam penjara, Buya Hamka telah menyelesaikan penulisan Tafsir Al Azhar.

Seiring waktu, beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi Penjara Sukamiskin. Penjara yang sekarang menjadi tempat wisata heritage karena nilai sejarahnya yang tinggi. Di sini, Presiden Soekarno pernah di penjara, dan memikirkan akan kemerdekaan Indonesia. Nilai sejarah tersebut menjadikan penjara Sukamiskin, yang sekarang menjadi tempat penjara khusus Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) menjadi salah satu wisata haritage.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi kamar Seokarno, banyak tersaji buku-buku yang menjadi bacaan presiden pertama Republik Indonesia. Sayang, karena tidak boleh membawa kamera atau handphone, saya tidak bisa mendokumentasikannya.

Di sini, saya bertemu dengan Indar Atmanto, seorang praktisi telekomunikasi yang masuk penjara karena dia dituduh dan perusahaan yang dipimpinnya telah menyalahgunakan sinyal frekuensi telekomunikasi.

Kemajuan teknologi komunikasi turut berperan mengembangkan telekomunikasi Indonesia. Salah satu perusahaan yang sejak awal konsen dengan jasa telekomunikasi adalah Indosat. Melalui IM2, Indosat telah berhasil memprakarsai mudahnya masyarakat Indonesia melakukan mobile internet. Demikianlah, Indar Atmanto bermimpi mewujudkan masyarakat cerdas berbasis digital. Namun, pilihan Indar Atmanto dan perusahaannya mendapat tantangan dari sebuah LSM dengan tuduhan hukum penyalahgunaan jaringan dan frekuensi, sehingga Indar Atmanto sebagai pimpinan perusahaan masuk penjara. Kasus ini bisa kita simak dari berbagai media massa dan media sosial.

Keadilan dan ketidakadilan manusia bak benang tipis yang bisa berputar kemana saja. Saya tidak akan mengupas kasus hukumnya Indar Atmanto, karena bukan yang berkompetensi dalam bidang hukum. Namun, saya melihat sebuah perjuangan dari seorang praktisi profesional dalam memulihkan jatidirinya dari tantangan fitnah yang dihadapinya.

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf dan Buya Hamka, kebenaran tetap yang akan menang.  Penjara bukan ruang jeruji yang mengikat jiwa. Bagi jiwa yang merdeka, penjara menjadi tempat untuk mengembangkan diri menuju yang lebih baik.

Akhir kata, kesabaran itu tanpa batas, dan kesabaran akan membawa keindahan pada waktunya. Bila mereka mampu bersabar, semoga kita semua dapat menjalankan kehidupan dengan kesabaran dan keikhlasan. Aamiiin

Advertisements