Suara atau bunyi-bunyian dari masjid sedang hangat diperbincangkan. Ada yang bicara toleransi, sampai pada titik hening. Menghormati beda keyakinan dengan saling bertoleransi. Namun, yang melihat pada sudut toleransi, kadang mengandung motif egois. Iya, bertoleransi dengan menampik keadaan orang lain, karena merasa diri harus menerima dari keadaan orang tersebut. Saya melihatnya pabaliut, coba kalau disimak, sebenarnya tak jarang yang menggunakan kata toleransi, padahal untuk mementingkan kepentingan diri sendiri. Begitu pun sebaliknya.

Kembali pada sudut pandang suara keras dari masjid, banyak yang mengeluh karena kepentingan dirinya terganggu, dan mencela para penyuara keras sebagai orang yang tidak bertoleransi pada keadaan sekitar.

Sebaliknya yang bersuara keras, mereka menganggap bahwa hal demikian menjadi suatu kewajaran ketika berteriak pada saat-saat yang menurut mereka terbiasa.

Melihat pertarungan wacana dengan segudang alasan dari masing-masing pihak, bahkan ada yang mengaitkannya dengan ibadah, meditasi dan hening, maka merasa terganggu dengan suara dari masjid. Sungguh menjadi bahan perenungan bagi saya yang awam akan hal tersebut.

Iya, ada beberapa yang berteriak merasa terganggu dengan suara dari masjid, adapun saya sendiri merasa tidak terganggu dengan keadaan tersebut. Tetapi, ada suatu pembelajaran ketika suara dari masjid ternyata mengganggu aktivitas, termasuk aktivitas ibadah dalam meraih keheningan.
Jauh merambat pada keadaan sekarang, seperti alur yang terlihat dan nampak. Terganggu dan tidaknya sesuatu tergantung dari hati kita sendiri. Ada yang terganggu dan tidak. Gemuruh hati untuk hening dari segala realita yang ada.

Hari ini saya membaca tentang siloka, gelap dalam terang, terang dalam gelap. Mengetahui terang ketika berada dalam gelap, dan mengetahui gelap dalam terang. Suatu pribahasa yang menggambarkan untuk menyelami keadaan diri. 

Advertisements