Satu Ramadhan merupakan awal bagi segenap Muslim menjalankan ibadah shaum. Shaum yang dalam penerjemahan bahasa Indonesia puasa menjadi suatu momen untuk melatih kebijaksanaan.

Setiap rentetan kehidupan menjadi ciri dalam rutinitas kita dalam mengerajakan hal-hal duniawi. Keberadaan raga yang selalu sesak oleh kebutuhan-kebutuhan mendesak seperti makan, minum, dan pakaian.

Ada satu hal yang kadang terlupa, atau melupakan hakikat dari Ramadhan, yaitu latihan. Latihan diri untuk kembali kepada Sang Maha Pencipta. Mulih ka jati, mulang ka asal.

Suatu pelajaran dalam menapaki kehidupan, yang bukan hanya tentang kali ini saja. Baik, ketika saya menulis ini, pikiran saya mnggelitik, bagaimana bicara masa depan sedang masa kini masih terseok oleh masa lalu dan angan masa depan?

Berharap dalam pengejewantahan hari, menuju pada keyakinan diri dan hakikat hidup. Sebuah renungan dari perjalanan yang memang bukan untuk penjabaran keilahian, tetapi bicara tentang diri sebagai makhluk yang diciptakan.

Hari pertama latihan ini semoga dalam kelancaran. Tuhan, aku rindu… Rindu…
Jika dalam hidupku hanya untuk, aku hadir untuk-Mu
Tuhan, selama ini aku berada dalam anganku
Mengejar keinginanku yang terus berubah, tanpa tahu akan batasnya
Tuhan…
Aku hadir dalam segala titah-Mu

Advertisements