Tak ada yang tau sebuah akhir perjalanan. Semua berada dalam genggaman takdir Tuhan. Seringkali kita menganggap dan mengenal seseorang, tanpa mengetahui isi hatinya. Sampai ada istilah dalamnya kaitan bisa diselami, tetapi dalamnya hati seseorang tak dapat ditebak.

Sebuah perjalanan, akan kisah yang seakan tahu ujung dari kehidupan kita? Tidak. Itu bukan sebuah perjalanan. Bagi yang berjalan, lalu menebaknya maka itu hanya tebakan satu poin.

Jangan melihat pada perjalanannya, lihat sebuah perjalanan sebagai takdir Tuhan. Kini, bukan saatnya untuk memahami pemahaman yang belum tentu dimengerti.

Seperti kisah masa lalu, tahu awal dan akhir, tanpa tahu apa itu awal dan akhir. Rangkaian perjalanannya menjadi berat dan ringan tergantung yang melihatnya.

Sebuah titik dalam singgasana tak bertepi, itu adalah hati. Jangan mengelak dengan bisikannya, lihat dan amati apa yang terjadi. Hidup tanpa penilaian, tetapi sudah takdir Tuhan mendapat penilaian. Kisah-kisah masa lalu janganlah dilihat dalam penggalan rasa dan kata, tetapi memang jiwa yang akan kembali pada perjalanannya semula. Kembalinya pun, itu tergantung dari niatnya. Hanya dia dan Tuhan yang mengetahui isi hatinya.

Sebuah kenyataan bila lahir dengan kebencian, tetapi jalan untuk memasrahkan itu terliput dalam kurun waktu. Bukan satu menjadi batu. Tetapi berbeda, seperti perdu dan parkit dalam satu individu.

Melihat dan mengamati menjalan dalam perjalanan yang tak pernah tahu ujung ataupun akhirnya, begitu pula dengan hati. Maka, hati yang pasrah dan ikhlas akan menerima segalanya. Tanpa kata dan bercerita, berpadu dalam value sang waktu.

Advertisements