Saat ini, Jakarta sedang dalam proses perbaikan infrastruktur. Beberapa ruas jalan terdapat penyemitan jalan. Beberapa kali saya terkena macet sampai berjam-jam, padahal kalau mengikuti petunjuk hari biasa hanya beberapa menit saja bila hari Ahad. Meskipun Jakarta memang sebelumnya sudah termasuk daerah macet, pembangunan infrastruktur jalan ini cukup lebih memperparah macet. Bagaimana menghindari macet di Jakarta?

Berada dalam kemacetan sangat membosankan dan kadang membuat jengkel. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum yang penuh dan kita dalam keadaan berdiri, maka dibutuhkan kepasrahan total dalam menerima keadaan tersebut. Karena bukan saya saja yang menjalankannya, tetapi orang lain juga. Kemacetan sudah biasa terjadi di Jakarta, apalagi di saat jam berangkat atau pulang kerja. Hal ini biasa terjadi di Jakarta.

Jakarta sebagai ibukota negara sekaligus pusat bisnis Indonesia, tak dapat dihindarkan dengan fenomena macet ini. Apalagi dengan tidak adanya pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi, semakin lengkaplah kehidupan Jakarta dengan segala problematikanya. Belum lagi kalau sedang ada hajatan negara, seperti KAA kemaren, maka dampak kemacetan sangat terasa.

Kemaren saya pulang dengan naik KRL menjelang Maghrib, dari Tanah Abang ke perjalanan lebih cepat tetapi sangat penuh. Saya berada di gerbong perempuan, keadaannya sangat penuh, bahkan kalau istilah kasarnya buat menghirup udara saja susah. Kenapa? karena engap. Tetapi itu lebih baik daripada kena macet. Ketika sebelumnya melihat jalan raya yang kendaraannya tidak bisa bergerak, maka saya memilih naik kereta daripada terjebak di jalanan berjam-jam. Maka, ini salah satu cara saya agar terhindar macet, yang saya temukan beberapa hari ini.

1. Naik Commuter Line.
Naik commuter line merupakan salah satu alternatif dalam menghindari kemacetan. Walau pada jam pergi atau pulang kerja, kereta akan sangat macet. Tepatnya, pagi dan sore hari. Meski kadang ada keterlambatan, dari mulai antri kereta atau gangguan sinyal.

2. Naik APTB
Naik APTB menjadi alternatif selanjutnya. Meski tentu saja akan tetap terkena macet, tetapi setidaknya APTB bisa bebas di dalam dan luar jalur TRanjakarta, sesuai kebutuhan. Naik Transj seringkali penuh bila di jam pergi dan pulang kerja, maka APTB menjadi pilihan agak leluasa dengan keadaan kendaraan meskipun bayarnya agak mahal. Klu naiknya dari halte Transj, bayarnya Rp.5000 untuk seputaran Jakarta, karena APTB kendaraan penyanggah Transj dari luar kota Jakarta. Adapun bila naiknya di luar halte, waktu itu saya naik ongkosnya Rp.8000.

3. Naik Mayasari Bakti
Naik Mayasari Bakti menjadi alternatif bagi yang ingin terhindar dari macetnya daerah Kuningan yang sedang dalam pembangunan infrastruktur. Hal tersebut saya lakukan ketika naik kendaraan dari Cawang ke arah Slipi. Setelah hari sebelumnya saya berada dalam dampak kemacetan selama berjam-jam dari Pancoran sampai Kuningan, maka saya melihat bisa Mayasari yang lewat tol, maka saya pun memilih naik Mayasari Bakti. Ongkos naiknya sebesar Rp.5000. Memang beda dari harga ongkos Transj, dan ongkos bisa tiga perapat seperti Kopaja. Sekarang, bis ini akan bilang penuh kursinya, bila penumpang ingin berdiri silakan, atau ingin naik bis yang berikutnya.

Hal tersebut sebagai alternatif ketika berkendaraan di saat bepergian bersamaan dan para pekerja. Tentu bisa saja dengan menggunakan ojek atau taksi, tetapi sebagai anak kos akan memikirkan lagi cara alternatif lain, kecuali kalau kepepet bisa saja naik ojek.

Pada poin-poin di atas, yang terpenting adalah kita tahu jalan tujuan dan arah jalan, karena tentu tidak semua dapat dilalui oleh kendaraan tersebut kecuali ada jalurnya. Karena kalau nyasar, tetap saja akan membuat gundah.

Demikian yang saya alami dan tips saya dalam berkendaraan umum untuk menghindari macet. Tentu tidak akan sama dengan teman-teman, bagaimana dengan teman-teman? Semoga teman-teman lebih mendapatkan kendaraan umum yang lebih nyaman dan lancar.

Advertisements