Tags

, , ,

Kambing salah satu binatang yang bisa kita makan. Dan kambing salah satu menu makanan favorit saya. Bila harus memilih kesukaan, saya akan memilih kambing daripada ayam, kecuali kalau ayam kampung. Menu apa saja yang saya suka dari olahan kambing? Dan dimana tempat pavorit saya beli makan?

Tulisan ini hanya bercerita tentang kebiasaan saya makan berbahan kambing dan tempat makannya. Makanan yang pertama kali saya suka adalah sate kambing. Sate kambing ini makanan berbahan kambing pertama yang saya kenal. Saya menyukai rasanya yg dibakar, tanpa bumbu juga saya doyan. Biasanya ini kalau Idul Adha, pesta kambing, karena yang lain memilih sapi. 🙂

Kalau soal olahan kambing, mungkin yang lain sudah memaparkan resepnya. Sebagai anak kos yang mengandalkan dari masakan penjual, di sini saya akan menyebutkan tempat makan sate kambing yang pernah saya makan.

Sewaktu tinggal di Ciputat, saya suka sate kambing Pak Kumis, daerah Kampung Utan. Harganya agak mahal waktu itu, tahun 2004-an, kalau nggak salah harganya sekitar Rp.14.000. Maklum dah bertahun-tahun lalu. Kalau saya sebutin, mungkin harganya sudah berubah.

Dari warung sate Pak Kumis ini, saya mencoba tongseng kambing. Ternyata, lidah saya lebih cocok tongseng kambing daripada sate kambingnya. Oke, sebenarnya, saya harus memilih satu menu saja untuk meringankan pembayaran hehehe.

Untuk sate kambing sendiri, saya akan menunggu malam, dan membelinya di warung sate tenda Kampung Utan, depan toko material. Di sana harganya agak murah, sekitar Rp.12.000 dan bisa beli setengah. Maklum anak kos, milih yang harganya miring dan kualitasnya enak. Di sini juga saya berkenalan dengan sop kambing yang rasanya sangat segar. Karena suka makan yang berkuah, saya lebih sering beli setengah sop kambing. Rasa sopnya itu pedas anget dan segar. Bingung kan, memang cocok untuk dinikmati langsung, susah diungkapkan dengan kata-kata. Gubraaaak…. 🙂

Ketika pindah kosan ke daerah Bambu Apus, saya sudah nggak menikmati sate atau sop kambing. Pokoknya yang berbahan kambing, meskipun ada, saya merasa tidak cocok makannya. Selain harganya mahal, dagingnya pernah nyangkut dan membuat gigi saya bengkak. Dari sana saya nggak beli lagi daging kambing.

Menjelang akhir tinggal di Bambu Apus, saya mengenal sop kaki kambing tetapi kuahnya menggunakan susu dan mentega. Awal berkenalan di sop kambing tenda Pinang Ranti, sekarang warung tendanya sudah dibangun terminal dan halte bis Transjakarta. Saya merasa kurang cocok dan agak melek.

Saya kembali makan sate kambing lagi ketika merasa cocok rasanya dengan warung sate kambing depan kompleks bea cukai Pondok Bambu, Jl. Revolusi. Di sana saya merasa cocok dengan satenya aja.

image

Untuk tongseng kambing, ada warung sate kambing Pak Budi, masih di jl. Revolusi, dekat lampu merah Klender. Sesekali saya akan membeli tongseng di sana. Harganya lumayan, satu porsi tongseng kurang lebih sekitar Rp.20.000.

Untuk sop kaki kambing yang pakai kuah susu dan mentega, ternyata cocoknya di warung tenda daerah Pangkalan Jati, dekat pom bensin Shell. Harganya lumayan, satu potong jatuhnya Rp.6000, kalau kaki, Rp.12.000.

Makanan berbahan kambing sendiri memiliki kandungan gizi dan protein yang bagus. Namun, dari semua jenis makanan yang terpenting adalah jangan berlebihan makannya.

Kalau saya, setelah makan yang berbau kambing, biasanya mencari air kelapa muda, kalau bisa kelapa ijo karena banyak manfaat dari air kelapa. Kalau nggak ada, paling makan timun atau sayuran lainnya. Bisa juga dengan buah-buahan.

Demikianlah pengalaman saya seputar bahan makanan kambing, dari mulai sate kambing, sop kambing, sop kaki kambing, dan tongseng kambing. Bagaimana dengan menu makan kambing teman-teman?

Advertisements