Tags

,

Selalu ada momen pertama dalam kehidupan, dan momen itu seringkali berkesan dan teringat seperti saat pertama kali makan durian dan sate padang. Tak menyangka sekarang saya suka makan durian dan sate padang, karena pertama kali makan saya tidak menghabiskannya.

google.com

Pertama kali makan durian ketika keluarga teman ada yang membawa durian ke asrama, ini terjadinya waktu saya masih di pesantren. Baunya saya tidak begitu antipati, biasa saja meski baru mencium bau buah durian. Selesai belajar malem, teman membuka durian itu dan membaginya ke semua teman. Masing-masing mendapat dua biji, tetapi karena saya yang terakhir, mendapat tiga biji durian. Saya makan durian seperti makan buah nangka kuning atau di kampung saya disebut nangka gede. Saya langsung gigit besar karena serasa makan nangka. Oke, bayangan saya seperti makan nangka, dan lidah saya pun meresponnya dengan rasa nangka, maka ketika yang terasa adalah rasa lain yang tidak terlalu manis seperti nangka yang biasa ada di kebun kami, saya langsung memuntahkannya.

Dua biji durian sisanya pun saya tawarkan kepada teman-teman, dan mereka langsung berburu menginginkannya. Waktu itu saya berpikir, kenapa sampai berebutan begitu pengen durian? Apa enaknya? Gumam saya sambil berlalu pergi dari teman-teman yang asik makan durian.

Karena saya tidak menyukai rasanya, saya tidak memikirkannya lagi. Waktu itu terus berlalu, dan sudah mamasuki tengah malam. Saya masih asik baca buku di atas ranjang karean besok ada ulangan. Ini juga tumben, biasanya sih sudah tidur ngggak peduli mau ulangan hehehe.

Orang yang masih melek di ruangan tersebut adalah saya dan teman, namanya Lia, yang membagikan durian tersebut. Saya ditawari olehnya makan durian, karena ada satu lagi yang belum dibuka. Saya bilang bahwa saya tidak bisa memakannya karena tidak suka rasanya. Nah, teman ini bertanya cara saya makan, saya jawab seperti makan nangka. Dia bilang, itu salah. Dia akan mengajari saya cara makan durian.

Saya penasaran, lalu turun ke bawah, karena kebetulan tempat tidur kami bertingkat dua, dan kami berada di ranjang yang paling atas. “Makannya pelan-pelan, Yul,” kata Lia sambil mencontohkan. “Begini…”

Saya pun mengikuti cara makannya. Hmmm… dan benar, rasanya terasa berbeda dengan yang tadi saya makan. Rasanya legit dan lembut. Enak. Maka, dari sana saya mulai suka makan durian.

image

Adapun awal makan Sate Padang, itu tidak sengaja. Lagi-lagi karena ketidaktahuan saya membedakan sate padang dengan sate madura. Saya kira semua bumbu sate menggunakan bumbu kacang. Waktu itu saya baru menginjak ibukota, dan tergoda ingin beli sate. Saya tidak memerhatikan gerobaknya karena langsung minta dibungkus untuk makan di kosan. Ketika membuka bungkusan, saya kaget dengan bumbunya yang menurut saya aneh. Tetapi karena sudah membelinya, saya pun mencicipinya. Ternyata lidah saya merasa tidak cocok, dan biar tidak merasa sayang dibuang, saya makan satenya aja dengan menyingkirkan bumbunya.

Dari sana saya baru tahu kalau itu sate padang, bukan sate yang biasa saya makan. Lama saya tidak memilih makan sate padang, sampai pada suatu hari saya kelaparan nunggu bis depan Labschool UNJ, di sana berjejer pera penjual makanan. Saya tergoda dengan wanginya, maka saya pun membeli sate padang. Rasanya enak, dan membuat saya paham bedanya rasa sate berbumbu kacang dengan sate padang. Dari sana saya mulai suka makan sate padang, malah sering sengaja mencari tukang sate padang bila tidak ada dekat kosan.

Selalu saja ada momen pengenalan rasa, dan tidak salah bila untuk mencobanya kembali. Seperti saya yang tidak menyangka akan doyan durian dan sate padang, padahal dulu tidak merasa cocok dengan rasanya. Bagaimana dengan teman-teman, apakah pernah mengalami seperti yang saya alami?

Advertisements