Sebuah kisah yang terurai menjadi bagian dari perjalanan yang terus berlanjut. Bukan tentang hidupmu, tetapi tentang kehidupan.

Remaja itu berada di antara arus globalisasi, pergaulan, sekalah, orang tua dan kosan.

Setengah berlari mengejar yang dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya bisa bersenang-senang dengan masih saja terus mengeluh.

“Dianaaa…. Jangan berisik, sudah tengah malam,” teguran ibu kos memecah tengah malam.
Diana dan Andini terdiam. Mereka yang asalnya tertawa riang berhenti mendadak dan menjadi diam seketika.

“Diana, keluar!” Teriak ibu kos lantang. Kamar semakin senyap, tak ada yang menjawab.

Dua remaja yang baru masuk SMK itu diam mematung saling memandang, sepertinya mereka mencari aman dengan memilih diam.

Dia berpaling ke sudut kasur, tak menjawab apa pun yang terjadi. Bahkan, untuk tinggal terasing di ruangan petak ini tak diharapkannya.

“Diana…” Bisik Andini, setelah ibu kos pergi.

Diana diam. Dia lebih memilih menyusupkan kepalanya di balik bantal. Ada kekesalan dan amarah dalam dadanya.

“Menjadi single parent itu pilihan. Karena ayahmu sudah meninggal, dan ibu tidak ingin menikah lagi. Khawatir nanti akan membuatmu sengsara,” itu kata Ibu ketika bicara tentang kita, antara Diana dan ibunya.

Seperti larik dalam lagu yang selalu ia dengarkan. Ternyata hidup itu panggung sandiwara. Diana mengikuti keinginan ibunya untuk sekolah di SMK dengan jurusan yang telah ibunya tentukan.

“Aku tak ingin menjadi merpati terbang, jauh dari Ibu. Tetapi ibu memilihku untuk pergi jauh, jauh dari batas antara aku dan ibu,” ratap Diana.

“Diana, kita pindah kosan aja. Cari yang bet-AC, dan yang penting jauh dari ibu kos,” kata Andini berapi-api.

Diana tak menghiraukan, dia memilih menghitung domba-domba yang berjalan dalam bayangannya.
***
“Diana, ketika engkau lahir, dirimu bak cahaya bagi Ibu. Kepergian ayahmu ketika dirimu dalam kandungan, sempat membuat ibumu ini terpukul dan bingung.

Diana, engkau pelita hati ibu. Ibu memberimu nama Diana sebagai pelita cahaya bagi ibu, terutama menjadi penerang bagi dirimu sendir.

Ibu pamit, Nak… Jaga dirimu baik-baik. Pilihlah teman yang memberimu motivasi menuju kesuksesan dan kemuliaan,” lambai tangan ibunya di antara deburan ombak.

“Ibuuuu….” Teriak Diana.
“Ada apa Diana?” Andini menatap temannya. “Kenapa kamu teriak-teriak?” Kata Andini.
“Aku bermimpi. Mimpi ibu,” Diana langsung mencari hapenya.

“Nyari apa Di?” Tanya Andini.
“Nyari Hape, mau nelepon ibu.”
“Udah malem Di…”
“Tidak apa2,” Diana menatap jam dinding pukul satu dini hari. “Baiklah, aku akan SMS, dan besok pagi meneleponnya.”

Advertisements