Wayang biasanya identik dengan para orangtua, yang masa mudanya memang sudah terbiasa menonton wayang. Kesenian tradisional ini hadir dengan genre muda dan sesuai dengan fenomena keadaan Indonesia sekarang. Bahkan, sajian lagunya pun disesuaikan dengan lagu-lagu yang sekarang sedang populer.

Ahad, 26 April 2015 di Taman Mini Indonesia Indah, saya berkesempatan melihat pertunjukkan seni dan budaya yang dihadirkan oleh Badan Narkotika Nasional dan Kementrian Pariwisata. Acara yang seru dan menggembirakan ini sangat menghibur para penonton.

Seni budaya sebagai salah satu media sosialisasi pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Kesenian merupakan media efektif dalam mengajak untuk pencegahan penyalahgunaan Narkoba, terutama bagi kawula muda.

Acara yang didukung oleh Departemen Pariwisata ini secara tegas mendukung pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Seringkali tempat pariwisata diberi label tempat Narkoba atau transaksi Narkoba, padahal tidak semua seperti dugaan banyak orang. Masih banyak tempat wisata yang aman dari Narkoba. Hal yang terpenting adalah memulai dari diri sendiri untuk menjauhi Narkoba. Demikian kata Pak Kitana, Deputi Departemen Pariwisata.

Target BNN sendiri adalah merehabilitasi 100.000 ribu penyalahgunaan Narkoba. Demikian kata Diah Setia Utami.

Rata-rata pengguna Narkoba dari usia 24-30 tahun, masa produktif. Demikian kata Pak Antar Sianturi, Deputi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba. Ada juga Profesor Sarlito Wirawan yang mengatakan bahwa dia mengapresiasi dan mendukung BNN yang menjadikan seni dan budaya sebagai media pencegahan Narkoba.

Acara yang dipandu oleh MC Joko Dewo dan Cak Batur ini sangat seru. Setelah talkshow dan tanya jawab berlanjut pada hiburan wayang oleh Wayang Kampung Sebelah dengan dalang Ki Jilitheng yang kontennya menjelaskan tentang Narkoba.

Semua penonton sangat terhibur dan bergembira dengan pementasan seni budaya sebagai media pencegahan penyalahgunaan Narkoba.

Advertisements