Tags

, ,

Berbahagialah bagi orang yang mendapatkan bimbingan. Secara keras ataupun lembut mengingatkan dan membimbing tentang perjalanan hidup dan kehidupan. Hidup sendiri adalah proses, proses dalam menjalankan kehidupan. Bicara hidup, tentunya akan berkaitan dengan mati. Hidup dan mati berada dalam proses perjalanan. Berbicara tentang rahasia hidup, kita bisa belajar pada kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir. Sebuah kisah yang termaktub langsung dalam Al-Qur’an, Surah Al-Kahfi ayat 66-82, sehingga kita dapat memahami hakikat dari kisah tersebut.

Dalam riwayat Ibnu Abbas dari Ubay ibn Ka’ab, Rasulullah saw bersabda, bahwa pada suatu hari, Nabi Musa sedang berada di antara kaum Bani Israil. Ada yang bertanya kepada Nabi Musa, “Siapakah orang yang paling berilmu?”
“Aku,” jawab Nabi Musa.
Allah swt kemudian menegur Nabi Musa as, “Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua buah lautan dan sesungguhnya dia lebih berilmu daripada kamu.”
“Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?”
“Bawalah bersama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hama-Ku itu,” firman Allah.

Setelah mendapat teguran dari Allah swt, Nabi Musa berkeinginan kuat untuk bertemu dengan hamba yang saleh tersebut, sekaligus berguru kepadanya.

Nabi Musa yang ditemani oleh Yusya ibn Nun ibn Ifraim ibn Yusuf melakukan perjalanan untuk bertemu dengan Nabi Khidir. Yusya membawa ikan dalam sangkar sebagai perbekalan perjalanan. Mereka berdua terus berjalan, dan karena lelah mereka beristirahat di sebuah batu. Tiba-tiba ikan dalam sangkar berontak dan jatuh ke air yang mengalir ke laut. Yusya takjub, karena ikan yang semula mati, hidup kembali. Dia belum cerita kepada Nabi Musa atas peristiwa tersebut, karena lelah, Yusya langsung tertidur. Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Yusya lupa tidak menceritakan peristiwa ikan kepada Nabi Musa.

Perjalanan sehari semalam sudah mereka lewati, sampai pada suatu pagi Nabi Musa berkata kepada Yusya, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

“Ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, saya lupa menceritakan tentang ikan tersebut. Tidak lain yang membuat lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu kembali masuk ke dalam laut dengan cara yang amat aneh,” kata Yusya.

Nabi Musa teringat bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertmuan dengan hamba Allah yang sedang mereka cari. Keduanya pun kembali ke batu, tempat mereka beristirahat.

“Itulah tempat yang kita cari,” kata Nabi Musa.

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya.
“Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan,” jawab Nabi Khidir. “Siapakah kamu?” Tanya Nabi Khidir.

“Aku adalah Musa,” jawab Nabi Musa.
“Musa dari Bani Israil?” Tanya Nabi Khidir.
“Iya, aku datang menemui Anda untuk belajar akan ilmu dan kebijaksanaan,” jawab Nabi Musa.
“Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup bersabar bersamaku,” kata Nabi Khidir. “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebaggian dari ilmu yang Allah karuniakan dan ajarkan kepadaku, tetapi tidak diajarkan kepadamu. Kamu memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui,” lanjut Nabi Khidir.

“Insya Allah, Anda akan mendapatkan diriku sebagai seorang yang sabar dan tidak akan menentang dalam suatu urusan pun,” kata Nabi Musa.
“Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu,” kata Nabi Khidir.

Demikianlah, seterusnya Nabi Musa mengikuti kemana pun Nabi Khidir melangkah. Dalam perjalanan tersebut, terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Nabi Musa yang telah berjanji untuk tidak bertanya sesuatu pun atas tindakan atau peristiwa yang dilakukan oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir dianggap aneh dan membuat Nabi Musa mempersoalkannya. Kejadian pertama, Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka naiki. Nabi Musa tidak dapat menahan hati untuk bertanya, lantas Nabi Khidir mengingatkan akan janji Nabi Musa kepadanya. Nabi Musa pun meminta maaf.

Kedua, ketika sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannya. Peristiwa tersebut kembali membuat Nabi Musa menanyakan tindakan yang dilakukan oleh Nabi Khidir. Dan Nabi Khidir kembali mengingatkan akan janji Nabi Musa. Dan ini kesempatan terakhir Nabi Musa untuk bisa ikut Nabi Khidir. Bila bertanya kembali, maka Nabi Musa harus rela pergi tidak mengikuti perjalanan Nabi Khidir. Nabi Musa pun berjanji.

Perjalanan selanjutnya memasuki perkampungan. Mereka hendak istirahat di rumah penduduk tersebut, tetapi warga di sana tidak ramah dan tidak menerima mereka. Tindakan penduduk membuat kesal Nabi Musa, tetapi Nabi Khidir malah memerintahkan Nabi Musa untuk turut membantu membangun salah satu rumah penduduk yang telah roboh. Nabi Musa pun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanyakan atas tindakan Nabi Khidir tersebut. Maka, sesuai kesepakatan, bila Nabi Musa bertanya lagi, maka dia tidak diperkenankan untuk mengikuti perjalanan Nabi Khidir.

Nabi Khidir mnjelaskan hal-hal yang Nabi Musa tanyakan. Pertama, Nabi Musa membocorkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh orang yang miskin dan di daerah itu tinggal seorang raja yang suka merampas perahu milik rakyatnya. Kedua, membunuh anak kecil karena kedua orangtua anak tersebut adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong ibu dan bapanya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak saleh dan lebih mengasihi kedua ibu bapaknya hingga ke anak cucunya. Ketiga, rumah yang mereka perbaiki adalah milik dua kaka beradik yatim piatu. Bapak kedua anak itu seorang yang saleh. Jika rumah itu tidak diperbaiki, maka warga penduduk kampung tersebut akan menemukan harta anak yatim piatu yang masih kecil tersebut. Wallahu’alam

Demikianlah, kisah perjalanan manusia pilihan Allah yang sarat dengan hikmah dan keteladanan. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Kita sering mendengar istilah, di atas langit masih ada langit. Demikian pula dengan setitik pengetahuan yang kita ketahui, ada orang yang lebih tahu. Begitu seterusnya. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Kesombongan kita hanya sia-sia belaka, karena ternyata pengetahuan kita hanya bagian kecil dari pengetahuan-pengetahuan yang tersebut di alam semesta ini.

*Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir a.s. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsi, yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Romawi dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Advertisements