Tags

,

Perempuan adalah makhluk yang sangat unik. Dia sangat lemah lembut sekaligus teguh pendirian. Dia bisa sangat sabar sekaligus sensitif. Dia terlihat lemah sekaligus kuat. Paradoks, demikianlah gambaran dalam proses perjalanan kehidupan.

Tak jarang, perempuan dianggap makhluk yang lemah dengan kondisi fisiknya yang lembut. Tetapi seringkali orang melupakan kekuatan dan kesabaran perempuan ketika melahirkan. Bayi yang lahir ke bumi atas jasa seorang perempuan yang kuat, sanggup menahan sakit dan sabar dalam kesakitan. Hal tersebut malah sering terlupakan oleh perempuan itu sendiri, padahal di sana perempuan #BeraniLebih sebagai makhluk Tuhan yang pemberani.

image

Sifat-sifat dan karakter yang telah Tuhan berikan merupakan anugerah yang hendaknya dapat kita gali dan kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesanggupan kita melahirkan anak, sebagai bukti kekuatan fisik perempuan.

Ada banyak potensi lain yang perempuan miliki tetapi tidak disadari oleh perempuan itu sendiri. Mengenali diri sendiri sebagai hal yang dapat dikembangkan untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki sekaligus kekurangan diri.

Kehidupan ini memang paradoks, kita memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Begitu pula saya, sebagai perempuan yang masih berlatih untuk menjadi seorang yang sadar dan memahami diri sendiri.

Setiap manusia memiliki permasalahan dan kompleksitas yang berbeda. Hal yang menurut saya ringan, belum tentu bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya.  Seperti halnya dengan jodoh, proses perjalanan hidup saya harus berada untuk menjadi perempuan yang belum menikah. Dulu, sewaktu muda saya melihat orang yang berumur belum menikah merasa kasihan dan berpikir terlalu pemilih. Dan ketika saya mengalami hal tersebut, maka saya pun merasakan kondisi dalam keadaan tersebut.

Iya, pada titik ketika keluarga menanyakan tentang pernikahan,  dan menjadi perbincangan teman-teman, maka saya hanya bisa diam. Bukan hanya itu, perspektif yang dulu saya lontar kepada orang lain, hal itu pula yang saya dengar dari orang lain. Sedih. Iya, sangat sedih. Pada titik tertentu saya berada dalam menanyakan segala hal kepada Tuhan. Sampai pada satu titik akumulasi, bila saya berada dalam keraguan, apakah saya sudah termasuk beriman kepada Tuhan?

Dari sana saya seakan kembali ke nol, belajar dan berlatih menyadari rasa diri. Semua buku kajian dan spiritual saya baca, sampai pada titik, beriman kepada Tuhan, maka beriman kepada takdir Tuhan. Jodoh adalah rahasia Tuhan. Menjalankan pernikahan adalah proses dalam menjalankan kehidupan. Lalu apa tujuan dalam menjalankan kehidupan ini?

Saya sadari, saya memang pemilih. Saya memilih sesuai dengan getar nurani saya. Saya bilang tidak pada seseorang yang memang saya tidak menerimanya. Apa alasannya? Kembali kepada hati sendiri yang mengelak akan hal tersebut. Secara akal tidak logis, tetapi itu pilihan. Ketika saya memilih, maka saya pun harus menerima konsekuensinya.

Dengan demikian, saya mulai berlatih menyadari setiap gerak pikir dan tindakan. Menyadari setiap respon dari emosi jiwa yang datang silih berganti. Menyadari setiap tindakan atau perbuatan ada tanggungjawab atau efek atas apa yang kita lakukan. Semua yang terjadi pada diri saya bukan salah orang lain, apalagi menyalahkan Tuhan, tetapi memang itu keadaan berdasarkan  pilihan saya.

Penerimaan diri dalam menjalankan takdir Tuhan adalah keikhlasan menuju kebahagiaan. Maka, setiap keputusan yang kita ambil adalah tindakan #BeraniLebih dalam menjalankan kehidupan.

Facebook: yuliarahmawati.54
Twitter: @yulmasi
Linkedin: yuliarahmawati

Advertisements