Setiap kali Melati melihat layar laptop, dia langsung pergi meninggal Kartaga dalam diam. Awalnya Kartaga tidak memerhatikan tingkah Melati yang seperti enggan melihat monitor atau laptop.

Selarut malam Kartaga masih terjaga, dia masih di depan layar laptopnya. Melati sudah masuk ke dalam kamar meninggalkannya duluan.

Tidak luas ruang belajar sekaligus perpustakaan mereka. Tumpukan buku berbaris rapi. Buku-buku yang menghiasi dan menemani perjalanan rumah tangga Kartaga dan Melati.

Ketika langit sudah digelayuti oleh awan hitam, maka hujan akan turun. Sudah setahun rumah tangga Kartaga dan Melati, belum pernah Kartaga melihat Melati bermain internet. Hape yang digunakannya pun tidak menggunakan paket data.

Pernah hinggap rasa penasaran Kartaga akan tingkah Melati. Di era digital sekarang ini, banyak yang memilih membeli pulsa daripada membeli beras. Lha iyalah, mendingan langsung beli nasi dan lauk pauknya, hehehe

Kartaga melirik Melati yang membuka internet. “Tumben buka internet, say…” Kata Kartaga sambil minum teh.
“Iya, mau nyari jurnal internasional.”
“Oh…” Kartaga kembali diam.

Dalam beberapa peristiwa, terlihat Melati lebih memilih membuka materi-materi seperlunya. Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kartaga. Bahkan, Melati jarang sekali buka email. Sampai pernah Kartaga mengira Melati tidak mempunyai email.

Senja melingkar di ujung kaca jendela, dari tadi Melati menatap perempuan yang bercakap-cakap dengan suaminya. Di sudut ruangan sengaja Melati duduk, tadinya agar dia merasa nyaman membaca buku yang baru kemaren dibelinya. Hari ini sebenarnya Melati berencana menghabiskan baca buku di rumah, tetapi Kartaga mengajaknya makan di luar sekalian mau bertemu calon kliennya.

Tidak disangka, perempuan itu ada di sana, menyapa suaminya. Iya, dia selebritis kampus, yang cantik dan cerdas. Maka ketika Melati menyusul prestasinya, perempuan itu melaporkan dirinya kepada dosen, serta mengumumkannya di media sosial bahwa dia mencontek. Sedikit yang mempercayainya, dosennya pun memanggilnya dan memperingatinya, tapi entah mengapa ketika keluar nilai, nilainya tetap bagus.

Perempuan itu masih cantik dan energik, dan terlihat sangat elegan. Melati mengenang ketika perempuan itu mempoto kertas yang tercantum namanya, lalu membandingkan dengan kertas yang tertera nama perempuan itu. Bukan itu saja, ada kertas lain yang atas namanya sama persis kalimatnya dengan tulisan dari kertas teman lainnya. Ia mencontek. Semua mencela dan mengutuknya, dari teman akrab sampai orang yang tidak Melati kenal ataupun sebaliknya. Bahkan, ada yang mengaitkan dengan orangtuanya. Sejak itu, Melati menutup semua akun media sosial di internet. Dia berhenti beraktivitas internet, dan memilih membaca buku, koran atau majalah.

“Tak terasa sudah dua tahun aku berada dalam masa lalu, membawa kehidupan masa lalu dalam setiap waktu,” Gumam Melati. Air mata mengalir dari kedua matanya. “Selama dua tahun aku terjebak dengan sakit hati. Sakit yang membiasakan diriku untuk tidak mengenal dunia maya. Aku telah membawa-bawa batu sakit hati. Kini, aku lepaskan marah dan sakit hati pada kenangan.” Melati melirik suaminya sambil tersenyum. Dia lalu membereskan barang bawaannya untuk menemui temannya sekaligus klien suaminya.

“Senyummu indah Melati. Apa yang membuatmu bahagia, sayang,” terdengar suara Kartaga.

“Nggak, aku senang kau ajak ke sini. Mana klienmu, aku akan menyapanya,” kata Melati.

“Dia pergi buru-buru. Dia dapat telepon bahwa anaknya kecelakaan, makanya dia langsung pulang,” jawab Kartaga.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” kata Melati lirih. “Kenangan biarlah menjadi kenangan. Dengan melepaskan itu, aku telah memaafkan diriku dan dirimu, kawanku. Semoga engkau dan keluargamu sehat selalu.” Gumam Melati

Advertisements