Langit gelap, sang surya sedang jalan-jalan di belahan bumi lain. Kali ini tempat dan waktu sekarang sedang ditemani sepotong cahaya rembulan, dan kerlip bintang yang kadang terlihat, seringnya tertutup debu, awan dan sejenis makhluk lainnya yang tidak terlihat oleh mata yang terbatas ini.

Ketika Anjani memecah ruang dengan teriakan, bahwa apa yang sebenarnya tujuan hidup dia berada di bumi. Apa tugas dia? Pekiknya dalam diam.

Anjani kembali menatap cahaya bulan yang seperempat, “Bahkan, untuk menolong orang dan alam semesta aku harus hadir dengan jabatan. Iya, sebagai rakyat, bukan Anjani,” renungnya.

“Malaikat bertasbih karena tugasnya. Dan sebagai malaikat, dia harus bertasbih. Begitu pula dengan Iblis, yang bicara peran, maka memiliki perannya masing-masing. Apakah demikian?” Loncatan pikiran Anjani semakin menghunjam.

“Bahkan, debu pun menutupi sesuatu karena dia memang debu, bila singgah atau menempel pada sesuatu, dia akan menghalangi. Menghalangi siapa?” Anjani semakin terkotak dengan pikirannya yang selalu merayap.

Mie rebus yang ia seduh dengan air dalam dispenser sudah mendingin. Anjani masih terlelap dalam pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan kepalanya.

“Tuhan, aku menghadap-Mu sebagai diriku sendiri. Tanpa meski mengatasnamakan ini dan itu. Engkau tahu akan diriku. Aku di hadapan manusia terus mengaku sebagai ini dan itu, baik itu jabatan, komunitas atau kedudukan,” kerlip Anjani menatap jendela yang berjeruji besi.

Sudah saatnya engkau hadir dalam diri yang senantiasa menanti kehadiran yang sudah diterapkan. Hadir sebagai diri sendiri, bukan orang lain. Atau atas sebutan sesuatu. Aku dan kamu, kami dan mereka.

Debu dan aku, sama dalam tahapan makhluk. Hadir dari kehendak Tuhan. Lagi-lagi konsep yang hadir. Aku diam tak mampu mengeksistansikan sesuatu, karena itu bukan dalam urutan yang berlaku.

Seperti rapal dan tapal dalam aspal yang terbentang. Siapa aku? Itu aku temukan dalam pertanyaan pertama yang ditanyakan kepada Sofie. Sekali lagi dalam tahapnya menjadi sesuatu yang memang sudah utuh dalam satu keutuhan.

Ketika hadir mengaku sebagai sesuatu, itu wujud konsep yang berlaku, seperti laku untuk terus maju. Seumpama itu memang bagian dari masa lalu, maka aku berada di situ. Sekarang aku pun berada dalam perjalanan yang sudah tertentu, tapi masih belum tahu siapa aku.

Wujud dalam satu eksistensi, dengan tahapan-tahapan itu adalah hasil dari konsepsi dan pengalaman. Jangan diburu dalam waktu yang tidak menentu. Sudha selayaknya hal itu menjadi satu dalam kesatuan. Bukan tentang hidupku, atau hidupmu, tetapi sebenernya kita satu, satu dalam perpaduan yang utuh. Dalam urutan yang depan atau belakang sama saja.

Jangan merasa ragu, seumpama semua itu dalam perjalanan waktu yang memang menjadi waktu. Utuh dalam perjalanan tidak mesti menjadi merasa dalam bagian-bagian, karena memang berada dalam pengejawantahan bagian hidup.

Jejak itu bukan jejak. Jejak itu adalah jejak. Seperti jejak yang menyimpan semua jejak. Jangan diinjak seperti waktu tak bertuan.
Tujuan bukan tujuan, ini hanya berkas dalam binar cahaya, menjadi senja tak berwarna dalam kata.

Anjani menatap bayangan, yang bercerita samakin membuatnya tidak paham. Mie rebusnya mulai mekar, dia pun alihkan ke kotak tempat makan.

Bertanyakah engkau pada rembulan yang terang ketika malam datang
Rembukan dalam pancaran cahaya seperti ibu yang mengasuh sang buah hati.
etika dalam diam, ada yang bertanya tentang tujuan hidup.
Hidup yang menghidupkan dengan segala hal kehidupan.
Hidup yang seakan menjadi lawan mati
Hidup adalah tumbuh dan terus berkembang
Mati dalam bagian dari kehidupan yang utuh
Selaras rasa dengan memahami segala rasa
Mengira tujuan dalam keinginan
Selendang sang petang terbentang dari ufuk timur ke barat
Menyambut tirai dari sang raja siang
Hidup dan matiku
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku dengan segenap jiwa dan raga kepada-Mu
Sang Pencipta langit dan bumi
Aku berserah diri kepada-Mu, Tuhan Semesta Alam.

Advertisements